Segelas Kopi Robusta Tidak Bisa dibaca
Kata
Perempuan jika punya dua saja
Paras elok dan berpunya
Maka selesai tiga perempat urusannya di dunia
Ya, kita sedang cerita dunia.
Ah, dasar kamu sedang iri saja
Kamu ingin dikatakan juga cantik dan berdaya?
Kan kata-kata itu sudah pernah kamu terima
Ya, kita sedang cerita dunia.
Dunia ini berisik sekali ya... (Cerpen)
"Ck.","Ah! Tsk, ck, ah!."
Rifda menolehkan kepalanya ke asal suara dan merespon,"Ada apa sih, Cel. Gak nyaman banget ngedenger kamu berdecak kesal begitu."
"Aku enggak suka hari ini."
"Ke.." Belum selesai Rifda membalas, Celia sudah menimpali,"dan lebih tidak suka karena tidak bisa nge-skip malam ini."
"Ih aneh kamu. Orang-orang tuh selalu nunggu malam pergantian tahun. Beberapa kepercayaan juga memilih refleksi keluarga pada momen ini."
"Anehan mereka lah, kayak udah ngerti aja refleksi diri sendiri, belum ngerti, belum sembuh retak-retaknya malah nyari pasal ngeretakin yang udah retak." Celia membalas dengan bahasanya yang sering sekali filosofis.
"Lagi bicarain keluarga sendiri, huh?" Sindir Rifda.
"Ikan aku ga perlu ih refleksi, evaluasi, intropeksi, induksi, kayak-kayak gitulah,"
"Buset ni anak, kayak udah ga punya keluarga ampe peliharaan diaku-akuin keluarga."
"Keluarga itu tempat kita percaya, tempat kita pulang."
"Kalau kamu masih tinggal di Indonesia, pakai defenisi keluarga dari KBBI, lah! Kebanyakan baca buku barat nih, gini."
"Ya, ya, terserah, pokoknya aku mengevakuasikan diriku sendiri dulu ya, semalam saja. Jangan cari aku!"
"Kalau aku ingin mencarimu?"
"Cari saja di tempat sepi."
***
Tahun baru Rifda kini memiliki ritual baru. Tiap kali ia mencari sahabat satu kosannya yang selalu mengeluhkan isi dunia, kini dia hanya perlu ketempat sepi itu. Celia benar, bagaimana dunia tidak begitu berisik, tahun baru saja disambut dengan dentuman susul menyusul. Entah mau memberitahu siapa kalau bumi telah menyelesaikan rotasinya. Kan semua juga tau.
"Cepat sekali sih menyendiri, padahal menikmati berisik ini sebentar lagi kan tak apa, Cel." ujarnya sambil memasukkan bunga pada pot diatas gundukan itu. Ia menyirami gundukan dengan beberapa rumput tumbuh diatasnya sambil bergumam,"Tak perlu kubersihkan ya, biar sejuk."
*** fin.
366 Hari Bersajak - 366. Selesai Lebih Baik Dari Sempurna
366 Hari Bersajak - 365. Sajak Sajak Kosong
Penghujung tahun di depan mata
Namun mataku masih berada di depan ponsel saja
Gulir, gulir, ibu jari di atas layar
Sudah penuh kepala ku dengan video dan gambar
Rasa-rasanya aku terus tak mampu
Mengendalikan emosi menggebu
Membenci alur-alur tak sesuai teori
Untuk apa mempelajari sisi kanan dan kiri
Air mata tak habis juga
Buangan memang sia-sia
Apalah jawabanku nanti
aku hanya mampu memendam dalam hati
Nyawa-nyawa hilang begitu saja
Bentuknya manusia tapi sudah tinggal raga
Disini ada yang bernyawa
Dengan raga tak berguna
Bertahun-tahun sudah masih sama saja
Putih hitam terus ada dimana-mana
Abu-abu merasa paling pengertian
Padahal tetap noda hitam jadi campuran
Katanya tidak sesederhana itu
Atau memang skenario rumit belaka
Satu-satu dapat tertipu
Hingga semua bersatu dalam neraka
Penghujung tahun di depan mata
Kenyataan pun sama berupa
tidakkah bisa semua upaya
sedikit saja terlihat berguna?
366 Hari Bersajak - 359. Semua Merayakan
366 Hari Bersajak - 356. Yang Aku Pertanyakan
366 Hari Bersajak - 355. Hari-Hari Rupa-Rupa (Cerpen)
Di penghujung fajar, seonggok daging bernyawa terburu menunaikan tugas sebagai insan berakal. Ia tegopoh menyiram air ke beberapa bagian tubuhnya. Jika mencari kesempurnaan dari ritual itu, ia akan berkata,"Wajarlah tak sempurna, bukan nabi ini boy." Ada saja jawaban ajaib mengikuti tren yang sedang berkembang. Tanpa dipikir, tanpa dikaji, semua mengikut arus nyaman dari dunia maya. Tak sampai 3 menit, usai rasanya. dan ia kembali membungkus diri untuk menghalau dingin yang menusuk. Jangan kau tanyakan soal doa-doa, lagi ia akan berkata,"Tuhan tau apa yang terbaik untuk kita."
Perlahan udara mulai menghangat, ia mengambil gawai dan mulai mengulirkan ibu jari diatas layar keatas dan kebawah. Lama, sampai ada teriakan menyuruhnya bangkit dari tempat tidur dan ia akan menjawab,"Sudah bangun dari tadi!." Entah apa bangun yang ia maksud, apakah mata yang terbuka, raga yang bergerak atau seharusnya bangun dalam artian isi kepalanya sudah dapat digunakan dengan baik untuk beraktivitas seperti orang-orang pada umumnya di pagi hari.
Bersungut merengut ia mengerjakan banyak hal dengan auto-pilot. Merasa hidup sempurnanya bukan bagian dari pertangungjawaban nantinya. Apakah ia tak pernah berpikir bagaimana bisa manusia akan mendapatkan akhir yang sama dengan usaha yang berbeda. Hidup tanpa perang, hidup tanpa kelaparan, hidup tanpa kemiskinan dan berbagai kemalangan yang menerpa banyak kalangan. Dan bukan dia.
Ia kembali mengambil gawainya, melihat ada salah satu templat dari fitur add story temannya. Iapun menambahkan kedalam ceritanya, "ah, senang rasanya sudah berbuat baik pagi ini." Kebaikan sederhana yang sangat tipis sekali dengan jumawa diri.
Hari-hari begitu normal dalam hidupnya, kadang ada tawa berlebihan, kadang ada tangis berlebihan. sesekali ia bisa menjadi taat tak ketulungan, di lain waktu menjadi futur dan mengenaskan. Tapi berkat keluarga yang katanya toxic, ia sulit untuk lama-lama dalam kefuturan. Setidaknya menjadi biasa-bisa saj ayang penting sudah melakukan kewajiban meski kesempurnaannya masih dipertanyaan. Lagi, "Wajarlah tak sempurna, bukan nabi boy."
Tapi sesekali ada perenungan dalam dirinya, bertanya-tanya bagaiman hidupnya setelah di dunia. Maka, meski ia telah mendapatkan gelar sarjana, ia pun bertanya pada AI Meta dari aplikasi Whatsapp. Jawabannya tentu, masih ngawur. Semua orang sedang membicarakan aplikasi itu sepekan ini, mempertanyakan eksistensi nama mereka di dunia digital, apakah sudah cuku terkenal atau tidak. Berusaha mencari validasi selain dari sesama manusia yang seringkali terasa palsu, padahal kecerdasan buatan benar-benar palsu.
Menjelang siang hari, bukannya mengejar dhuha -- meski kadang ia melakukannya -- ia justru memikirkan akan makan siang apa. Tak jauh dari rumahnya bisa jadi ada keluarga yang melihat apa yang bisa dimakan di rumah reyot mereka. Hidup sungguh adil dengan ujiannya masing-masing. Tapi anak manja ini dalam hati berdoa penuh takut ujian apa yang akan ia hadapi untuk kenikmatan hari-harinya ini.
Sungguh yang bisa dilakukan hanya lebih baik dari hari kemarin, atau bahkan seburuk-buruknya bertahan saja. Seonggok daging yang dibekali nyawa dan akal mungkin besok akan menjadi lebih baik. Ia akan tetap menjadi seonggok daging bergerak sampai akhir hidupnya kelak. Semoga hari-hari penuh rupa-rupa yang ia jalani menjadikan ia insan yang baik hingga akhirnya ia benar-benar seonggok daging ditanam tanah.
366 Hari Bersajak - 350. Kereta Luncur Jiwa
Duhai, pagiku tersenyum mengingat rencana hari ini
Aku akan berlarian dan sesekali melompat kecil
Duhai, indah nian hari kemarin, hari ini dan ku yakin esok hari
Dan sebagian dari kebahagiaan itu tentu ada raga menjadi andil
Tatkala jari bergulir pelan pada layar ponsel pintar
Tanpa niat, aku seperti sedang menyakiti diri sendiri
Sepasang kelopak mataku perlahan bergetar
Lalu terasa seperti ada benda tumpul memukul dada ini
Hari-hariku seharusnya riang gembira
Bentuk syukur pada nikmat sang pencipta
itu kata lagu-lagu di masa kecil
dan kini justru terasa ada sesuatu yang tak adil
Aku ingin surga
Dunia terasa menyiksa
Meski bukan aku yang disiksa
Aku mengharap surga yang sama
Keterlaluan rasanya.
366 Hari Bersajak - 335. Mencintai Ketidaksempurnaan
Tags
- Cerpen (40)
- HST (5)
- Melodi Kata (116)
- SPEAK UP (3)
- Teriakan Kata (7)