Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sebelum Sebuah Jawaban - Cerpen

Dalam pengaruh kafein, aku menolak permintaan mu untuk menyukaimu kembali.


kenapa? kau tanya.


Aku menarik nafas panjang dan merasakan aroma kopi menyeruak didalam indera penciumanku. Kali ini, aroma parfum murah yang kau beli dari steling penjual pulsa langgananmu tertutupi sempurna.


Kamu... tidak menyukaiku? cecarmu tak sabar menunggu jawabanku.


'Bukan tidak suka, aku menyukai nyaris semua...


...hal termasuk hewan kan? Ah leluconmu kali ini tidak tepat dalam pembicaraan kita ini.


Kau seolah menjadi orang yang paling paham tentangku, leluconku, gelagatku, namun yang kau lakukan malah membungkamku. Aku menatap lekat matamu yang memandangku, pandangan yang sama, keyakinan, percaya diri yang setara antara kau dan aku. Sebegitu cocoknya kita dalam berbagai hal, tidak bersaing, justru melengkapi. dan itu yang membuat kita beberapa tahun ini seperti jalan ditempat.


Ternyata benar kata orang-orang. Sikapmu memang hanya karena kamu baik saja, bukan karena kamu suka denganku.


'Kalau aku melakukannya karena memang suka padamu, bagaimana?'


Seperti kau menyukai nyaris semua orang dan hewan-hewan bahkan.. tumbuhan kan?


'Aku tak melihat masa depan diantara kita.'


Juga aku. siapa yang bisa melihat masa depan? 


Tekanan ini membuatku merasa dikuliti. Ketika mendapati seseorang yang memahami diri ini, justur aku berharap ia tak sepaham ini. 


Aku membaca. Tulisanmu.

Tentang kamu ingin tinggal di pinggiran kota, tentang cita-citamu ingin mengajar anak-anak, tentang mu yang ingin mendukung dan di dukung pasanganmu untuk terus belajar. Tentang mimpimu untuk keluarga, tentang harapanmu sampai kepada akhir kehidupan. Maaf aku tak sengaja membacanya.


Wajahku terkesiap. 'Kapan kau membacanya?'


Sewaktu aku meminjam catatanmu untuk sele-sele. Sekali lagi maaf karena aku tak sengaja membacanya.


'Sebentar.' Aku merogoh sebuah buku dari dalam tas dan menyodorkannya padamu. 'Tulisan itu dari buku ini. Aku hanya mengutipnya sembarangan.'


Sekarang, gantian wajahmu terkesiap.


'Sekarang kau sudah tak membutuhkan jawabanku lagi kan?'


ya.


Kusesap tegukan terakhir v60 yang tersisa. Ah laki-laki, jika memang sudah saatnya mencari mangsa, ia akan memakan semua yang muat kedalam mulutnya. Dan perempuan yang tak siap dimakan, akan mencari 1001 alasan untuk membuatnya semuanya menjadi tidak masuk akal. Yang siap dimakan, akan menjelma menjadi sajian terbaik, terkadang dengan topping sedikit berlebihan. Meski ada beberapa yang memoles diri hanya sampai etalase display.


Perempuan bukan objek kau bilang.


'Iya, benar.' oh, ini masih berlanjut. Aku terlanjur memesan ojek daring.


Lalu kenapa kau berpikir seperti itu?


Sebentar, kau bisa baca pikiranku?


Sejak kemarin. Aku tak mengutarakan perasaan ini kalau tiba-tiba aku tak mendapat keajaiban ini.


Ojekku sudah datang. Dan sekarang aku didera kebingungan hebat.


Pergilah, dan kembali saat kau berhenti memikirkanku, aromaku, penampilanku, kehawatiranmu kepada ku. Karena pikiranmu tentangku begitu berisik.


'Baik aku pergi.' Selamat tinggal. Sepertinya kafein kali ini memunculkan reaksi halusinasi sebab ku konsumsi dalam kondisi stres. 


Lalu sekarang aku merasakan kau memelukku, erat. Aduh, ojeknya menunggu.


Hukuman untukmu yang mulai dewasa (Cerpen)

Sebuah notifikasi muncul di ponsel pintarku, menambah daftar notifikasi lain yang belum sempat kubuka. Notifikasi baru itu menunjukkan bahwa salah seorang temanku menyebut akunku dalam story Instagram-nya. Aku pun membukanya, penasaran. Isinya? Meme. Dengan takarir: "Menurut penelitian, masa remaja sekarang berlangsung sampai usia 34 tahun." Tanpa sumber. Tanpa konteks. Cuma ketawa-ketawa aja. Tapi entah kenapa, aku ikut ngakak. Aku hanya merespons "LOL" sambil membagikannya kepada teman-teman sebaya lainnya. Entah itu hoaks atau bukan, yang penting kami bisa menertawakan nasib early Gen Z yang sering kebingungan menghadapi dunia orang dewasa

Belum sempat aku membuka notifikasi lainnya, telepon masuk. Panggilan. Kia.

"Halo, Jelly..."

"Halo, iya, Kiaa."

“Kita jadi nongkrong bahas open jastip festival bulan depan, nggak?”

“Jadi. Aldo udah ngehubungin gue dua hari lalu. Gue nunggu kejelasan waktu dia juga.”

“Lah, katanya waktu lo yang belum jelas?”

"Lah... asal weekend gue kosong, kok. Tapi kalo dadakan ya bye. Sabtu ini gue ada janji di Bogor."

"Mau ke Bogor? Jam berapa? Kita ketemuan di sana aja deh, lebih deket dari rumah gue."

“Pagi sih. Cuma kumpul komunitas buku. Piknik-piknik gitu. Abis itu nganggur.”

“Oke, nanti gue atur. Gue bilang ke Aldo ya, kita ketemu abis kegiatan lo.”

“Sip.”

"See you on Saturday, Jelly!" Kia menutup telepon.

Belum juga napas balik, masuk DM dari Aldo.

"Je, hari Sabtu ke Bogor naik apa?"

"Dih perhatian banget. Naik kereta lah. Gak kuat gue motoran antar kota."

"Gue jemput ya. Bareng ke sana."

"Lu mau ikut acara komunitas gue? Pagi loh?"

"Iya, sekalian. Tapi gue bawa motor. Atau lo maunya gue bawa mobil?"

Hmmm… asas manfaat mulai berkicau di kepala. Gue emang nggak ada barengan ke Bogor. Naik kereta sendirian males. Tapi… motor? Aduh. Kalau sama adek atau abang sih enak, nyaman, bisa selonjor, bisa bantal. Ini? Temen cowok? Motor? Gimana ya?

“Sabtu pagi gue kabarin lagi ya, Do.”

“Oke.”

---
Sabtu pagi.

Gue masih belum ngabarin Aldo. Pikirku, paling dia bangun siang. Bisa jadi alasan nggak jadi dijemput. Ternyata, jam 07.30 tepat, dia ngechat:

“Kirim alamat rumah lo. Cepet.”

“Iya iya, bentar.”

“Gue sampai, lo udah harus siap. Gue nggak mau nunggu.”

“Iya.”

Sambil buru-buru dandan, Kang Huda chat.

“Jadi pergi ke Bogor? Sama siapa jadinya?”

“Sama temen, Kang.”

“Naik mobil, kan?”

Kang Huda ini kenalan dari Instagram. Belum pernah ketemu. Tapi gaya nanyanya kayak kepala biro perjalanan.

Belum sempat bales, Aldo sampai.

Naik motor sport.

Motor. Sport.

Gue diam. Bukan karena terharu. Tapi… ya ampun, mas, segitunya?

Karena udah mepet, dan gue terlalu mager buat drama pagi-pagi, ya udah. Naik aja. Salah gue juga sih, nggak tegas dari awal.

---

Di jalan...

“Je, udah sarapan?”

“Udah.”

“Duh, gue belum. Kita berhenti dulu ya, lemes banget gue.”

“Waduh ya harus. Jauh ini. Nyawa gue literally di elu hari ini.”

Kami berhenti di warung sarapan sederhana. Aldo makan nasi uduk pesananannya dengan santai. Aku menyeruput teh manis dan nahan pengen nanya: “Lu nggak punya motor bebek, ya?”

“Do, cewek lo tau lo bawa gue?” Cetus gue.

“Udah nggak ada cewek. Padahal udah sempet ke wedding expo, lho. Akhirnya bubar jalan juga. Hahaha.”

“Ooh. Pantes. Gila aja kalo masih ada cewe lo dan dia tau lo jemput gue.”

“Kalau lo punya cowok, emangnya lo bakal larang cowok lo bawa cewek lain?”

“Ya gila aja. Pasti gue larang lah. Mau naik mobil kek, searah kek, tetep nggak izinin. Ada Gojek, ada angkot. Nyari cara sendiri dong, Bang.”

Aldo ketawa, tapi entah kenapa gue merasa dia kayak nyimpen sesuatu.

---

Sampai di lokasi acara komunitas.

Gue turun dari motor dengan kaki gemetaran. Udah duduk tinggi, nggak bisa sandaran pula. Gue sepanjang jalan nahan badan supaya nggak nempel ke punggungnya. Gengsi, cuy. Plus... agak awkward juga. Kita cuma kenalan, bukan teman dekat. Bukan gebetan juga.

Gue udah bisa nebak banyak mata ngelirik. Males jelasinnya. Untung Aldo ngerti diri dan bilang, “Gue tunggu di luar aja ya.”

Kang Huda kirim pesan lagi:

“Udah sampai?”

“Udah, Kang.”

“Lewat tol?”

“Enggak, Kang.”

Gue malas menjelaskan. Kayak, ya udahlah ya. Kenapa juga harus laporan sedetail itu?

---

Acara selesai, kami ketemuan sama Kia di kafe dekat situ.

“Lah, jadi lu jemput Jelly dari rumahnya?” Kia langsung nembak.

“Iya.”

“Aman?”

“Aman lah,” jawab Aldo.

Aku nyengir. Dalam hati nyumpahin punggung sendiri yang mulai ngilu.

Kami lanjut ngobrol soal bisnis. Festival musik banyak banget bulan depan. Potensi jastip terbuka lebar.

Setelah itu, aku dan Aldo balik ke Jakarta. Perjalanan pulang lebih tenang sambil kita ngobrol santai. Tapi gue mulai merasa ada yang aneh. Aldo beberapa kali noleh ke belakang.

Aku mikir: motor dia nggak ada spion, ya? Atau ada tapi gaya doang?
Atau jangan-jangan... dia cek traffic? Tapi kok sering banget?

Gue nggak tanya. Capek. Pinggang gue udah mulai nyeri dari tengah jalan. Tapi tahan-tahan aja. Gengsi, lagi-lagi. Lagian... siapa suruh gue sok kuat?

---

Sampai rumah, Kang Huda kirim pesan lagi.

“Sudah sampai rumah?”

“Iya, sudahaaah.”

“Dianter sampai rumah? Bertiga aja?”

Oh. Dia lihat story Kia. Ada foto bertiga. Yang gue repost tanpa mikir.

“Iya.”

Lagi-lagi, malas jelasin. Kadang, aku heran sama diriku sendiri. Kenapa masih ngeladenin orang yang bahkan belum pernah ketemu? Mungkin karena kesepian? Atau karena aku masih nyari sesuatu yang belum jelas bentuknya?

---

Esok paginya, gue bangun dengan pinggang sakit parah.
Selama ini gue pikir naik motor jauh itu biasa aja. Tapi ternyata... kalau lo duduk setinggi itu, nggak bersandar, dan nahan badan selama satu setengah jam?
Ya ampun. Punggung bisa misuh.

Dua hari gue nggak bisa kerja maksimal. Tiap gerak kayak nenek-nenek.

Mungkin ini... bukan cuma soal motor. Tapi soal semua yang gue tahan.

Perasaan, kejelasan, bahkan gengsi.

Tubuh gue mungkin udah jujur lebih dulu:

“Lo capek, Jel. Capek pura-pura.”

Sinyal-Sinyal Putus (Cerpen)

"...hahaha, iya, iya, pokoknya aku tunggu kamu sampai di Tanjung Pinang baru kita rencanakan jalan-jalan kita yaaa!"


Nurra menjepit telepon di antara telinga dan bahu sambil merapikan berkas-berkas liputannya yang berserakan di meja kayu kosnya. Telinganya mulai terasa panas, percakapan dengan Pika sudah berlangsung satu jam lebih, setelah beberapa kali putus-nyambung memalui jaringan internet dan akhirnya menyerah dengan telepon melalui jaringan seluler biasa demi bisa cerita panjang lebar dengan sahabatnya ini. Dari luar, suara debur ombak memenuhi kamar kecil yang sudah dihuninya selama satu tahun ini. Di dinding, peta lokasi live-in-nya penuh stabillo warna-warni, menandai wilayah dan topik yang sudah ia jajal untuk artikel jurnalistik mendalamnya.


"Iyaaa, pokoknya siapkan tempat untukku sampai 2 minggu disana ya. Aku bener-bener butuh liburan banget kali ini. Lagi burn out." keluh Pika dari seberang telepon, suaranya setengah tertawa setengah sendu.


"Setahun juga boleh, nemenin aku liputan disini. Tiap hari nanti kita makan otak-otak buatan Mak Ngah yang punya kosan aku," Nurra menghibur sambil memandang gantungan kunci dengan lambang pengeras suara, milik angkatan mereka, jurusan komunikasi.


"Boleh juga, buat nambah otakku lagi kalau beneran udah ke-burn semua ya. Eh, Btw… ada yang mau aku tanya, deh." Pika tiba-tiba mematahkan obrolan mereka.


"Apa tuu?" Sahut Nurra langsung.


"Eh, tapi nggak jadi ah. Nunggu aku sampai Tanjung Pinang aja," sahut Pika, suaranya tiba-tiba kecil.


"Kebiasaan deh, nggak mauuu! Sekarang aja, dong. Nunggu minggu depan kamu sampai pasti udah lupa," omel Nurra sambil mengibas sarang laba-laba yang terlihat menempel di ambang pintu.


"Ntar ajaaa, pas aku sampai. Nggak penting juga kok ini."


"Karena nggak penting, malah bikin penasaran. Jangan sampe aku kebawa mimpi!"


Pika menarik napas. "Iyaa, udah. Tapi ini cuma nanya ya... Kamu nggak pernah kepikiran jadian sama Fauzan?"


"....Fauzan? Tiba-tiba?"


Nurra menatap laut lepas melalui jendela kosnya. Angin malam mulai berhembus, membawa bau pantai yang terlihat dari lantai tiga kos an nya.


"Aku nggak tau apa kamu sadar atau enggak, Nurra. Kalian kan deket banget ini. Nggak pernah ada pembicaraan ke situ?" Lanjut Pika membuka bahasan baru.


"Nggak ada sih..." Dia menggaruk lengan yang digigit nyamuk. "Hampir nggak pernah kami nyentuh obrolan urusan asmara."


"Wah, padahal kalian sering banget main bareng kan." Pika mencoba mengulik perlahan, penasaran apakah Nurra memang enggak sadar atau pura-pura enggak mau tau.


"Hmm... pernah sih, sekali ada obrolan kearah sana. Sekitar tahun lalu itu Fauzan, Dito, sama Kak Rahmat tiba-tiba video call grup,


        "Tomboi kayak kamu pernah jatuh cinta nggak sih?" tanya Dito suatu malam dalam video call grup. "Pernah. Sekali. Lalu patah hati. Cukup," jawab Nurra sambil terkekeh pelan diakhir karena enggak pernah-pernahnya para bro nya membahas hal seperti ini. "Sekarang aku cuma mau sama orang yang jelas-jelas suka sama aku. Udah lelah one-sided love." 


setelah itu kami mengalihkan pembicaraan ke rencana diving di Bintan sekalian buat eksplor, itu awal-awal aku ditugaskan di sini." jawab Nurra.


"Kamu baik, Fauzan juga baik. Aku ngebayangin kalian bagus aja kalau bareng. Apa nggak pernah kepikiran?"


'Teeng!' dari luar terdengar suara tiang dipukul sekali. Menandakan sudah pukul satu malam. Mengingatkannya pada masa-masa mereka liputan malam hari untuk tugas kuliah.


Nurra menghela napas. Fauzan. Teman satu jurusan yang selalu jadi partner outdoornya, yang sekarang entah lagi liputan menantang dimana. Mereka memang terlalu serupa—sama-sama nekat, sama-sama menjadikan adrenalin sebagai bahan bakar hidup.


"Kita cuma teman kampus, Pik.  keetulan cocok juga jadi teman main, teman liputan, teman…"


"Teman yang ngasih kamu hadiah-hadiah gear sesuai kebutuhan kamu?"


Nurra memandang pisau lipat pemberian Fauzan yang tergantung di tas ranselnya, salah satu hadiah saat ia mendapatkan tugas liputan in-depth pertamanya.


"Kita sama-sama tahu Fauzan bukan tipe yang clingy. Kalau ada perasaan, pasti udah lama dia ngomong."


"Atau… dia nunggu kamu yang ngomong?" Pika menghela napas. "Ya udah, aku cuma nanya kemungkinan nya aja sih, kalau kamu nggak mau ambil pusing…"


Layar telepon berkedip—notifikasi chat masuk.


Fauzan: "Ra jangan lupa besok jam 9 di Cafe Pelabuhan. Yulia dan Tika udah aku oke buat gabung. Sekilas juga udah aku jelasin soal volunteering bersih pantai."


Dia menatap pesan itu, lalu foto profil Fauzan yang masih memakai helm peliputan. Tiba-tiba, bayangan mereka berdua rappelling di tebing Nusa Penida muncul lagi. "Memang sih…sejauh ini kita selalu bareng karena kebetulan hobi dan kerjaan kita sama," gumamnya.


Tapi Nurra cepat mengusik pikiran itu. Selain video call grup itu, mereka juga pernah meluruskan masalah ini bahwa hadiah-hadiah personal itu memang menyesuaikan saja. Hadiah seperti itu tak hanya diterima oleh Nurra. Soal kedekatan mereka berdua, sepakat karena minat yang sama saja.

Sikapnya tetap biasa sejak itu, masih mengajaknya diving, masih mengkritik tulisan-tulisannya dengan pedas, masih jadi orang pertama yang telepon saat kala Nurra butuh bantuan.


"Ya, pasti aku jadi kepikiran sih karena kamu bahas, Pik. Bohong banget kalau enggak," ujar Nurra jujur.


"Aduh, maaf yaaa. Ya udah, ini udah malem banget, ntar kita lanjut cerita-cerita langsung aja pas aku udah di sana, yaa."


"Iyaaa, see you soon, dear!"


"See yaa, Nurra! Luv u!"


Pika mematikan telepon.


Nurra mengusap telinganya yang terasa panas, lalu mengecas ponselnya yang sudah low battery. Setelah itu, ia menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menatap langit-langit.


Di luar, ombak terus menerpa karang. Seperti pertanyaan Pika tadi yang masih mengganjal, kalau ia dan Fauzan memang cocok di mata orang lain, haruskah ia mencoba? Tapi… dari mana mulainya?


Tapi kayaknya enggak deh. Ia tak siap kembali patah hati.

Batas (Cerpen)

"Drrtt... drttt..."


Salma melirik dan mencari arah suara getaran. Ah, ponselnya berbunyi, menampilkan nama "Grity SMA". Meski matanya kembali berfokus pada drama serial yang sedang ia tonton, jemarinya bergegas mengangkat panggilan itu tanpa tendensi apa-apa.


"Halooo, Gritteee~" sapa Salma ramah.


"Iya, halo. Um, Salma lagi di mana?"


"Lagi di rumah. Kenapa? Kamu lagi di sini, ya?"


"Enggak. Ini aku mau minta tolong, pinjam 10 juta..."


Salma langsung mem-pause tontonannya dan berfokus pada panggilan telepon sembari menjawab, "Aduh, Teee... bukannya enggak mau, tapi aku enggak ada."


"Enggak ada banget, ya? Aku lagi butuh banget..."


"Iya, enggak ada, Te. Kemarin ada yang mau minjem 3 juta juga, aku cuma bisa minjemin 500 ribu..."


"Tapi aku butuhnya 10 juta, Salma..."


"Beneran enggak ada. Aku lagi kosong, setahun ini lagi nganggur... udah coba pinjam ke yang lain?"


"Sudah... aku udah coba ke Hans, Aldi, Gina..."


"Dela udah?"


"Aku enggak yakin sih..."


"Tapi kayaknya dia punya tabungan cukup, ya..."


"Ya udah, makasih ya, Salma. Aku coba ke yang lain."


"Iya, Tee. Semoga segera dapat, ya..."


Tuut. Sambungan telepon diputus.


Salma tertegun, merasa bersalah karena tak bisa membantu Grity. Ia sadar bahwa dirinya tak pernah menyiapkan uang dingin, tak punya simpanan, dan hanya bergantung pada bisnis keluarga selama setahun ini.


Ia benar-benar merasa bersalah. Di media sosial, ia selalu menunjukkan dirinya baik-baik saja—bisa nonton, jalan-jalan, main, bisnis keluarga lancar. Namun, kini ia menyadari bahwa tak punya tabungan sendiri membuatnya berpikir ulang. Merenung.


Salma memang tak pernah meminjam uang teman-temannya, kecuali sekadar "pakai dulu" saat makan bersama, titip barang lucu, atau jajanan. Pernah juga ia meminjam uang untuk bayar kuliah, tapi itu karena ia tahu bulan depan proyeknya cair dengan nominal dua kali lipat. Persoalan ini muncul karena ia tak punya simpanan, meski sudah mewanti-wanti beberapa bulan sebelumnya bahwa ia akan butuh uang.


Soal pinjam-meminjam, baginya, ada hal yang harus dikuatkan: mental bahwa uang itu mungkin tak akan kembali. Setelahnya, ia menarik garis—tak mau lagi berurusan dengan orang itu dalam urusan uang dan bisnis. Salma paham betul segala risikonya.


Tapi kali ini, ia merasa sangat bersalah karena benar-benar tak punya uang untuk dipinjamkan. Grity, selama 10 tahun lebih mereka berteman, tak pernah punya masalah finansial. Ini pertama kalinya. Suara Grity yang terdengar putus asa barusan mengisi kepalanya. Salma membuka media sosialnya, melihat foto-foto mereka waktu SMA—Grity yang dermawan, yang menyambutnya saat ia sampai di kota baru, tempat Grity bekerja.


"Harusnya aku bisa bantu," gumamnya, menatap layar laptop yang masih memajang drama favoritnya. Tapi episode kali ini tak lagi menarik. Jarinya mengetik pelan di kalkulator: 500 ribu x 20 bulan. Angka itu cukup untuk jadi dana darurat.


Esok pagi, Salma membuka aplikasi bank dan memindahkan sebagian uang jajannya ke rekening baru dan mengganti nama icon dengan nama "Jangan Sentuh". Ia tak tahu kapan Grity akan membutuhkannya lagi, atau kapan ia sendiri akan terjepit. Tapi setidaknya, kali ini ia tak ingin hanya bisa menggeleng.


"Drrtt... drttt..."


Ponselnya bergetar. Notifikasi dari Grity:

"Sal, aku ada di kota ini weekend ini. Ketemuan yuk, makan siang."


Salma tersenyum, membalas cepat:

"Boleh bangeeet. Aku yang traktir yaaa."


Ia mematikan laptop, lalu menyimpan kalkulatornya di laci. Masih ada sisa uang untuk ditabung hari ini.

Mimpi Seperti Itu Lagi (Cerpen)

 Aku membuka mata dengan perasaan sesak di dada. Terbangun dan duduk di tempat tidur. Tak lama, air mataku mengalir dengan sendirinya. Baru saja aku bermimpi sesuatuyang tak terjadi, namun perasaan nyata itu membuatku semakin sakit.


Bahkan aku bisa menceritakan mimpi itu lagi. Aku diantar oleh Ayah untuk pergi ke suatu cafe. Nyaris larut malam. Hari hujan. Saat aku sampai, salah seorang temanku sudah mau pulang dan Ayah menawarkan untuk menngantarnya sampai simpang terdekat. Aku tau kenapa temanku ini ada di dalam mimpiku. Karena aku punya pekerjaan dengannya yang belum selesai.


Aku masuk kedalam cafe itu. Memesan beberapa menu terlebih dahulu. Dari kejauhan, teman-teman sudah melihat keberadaanku. Kau, melambai ke arahku. Cukup lama aku berbicara dengan pelayan kasir, lalu setelah menyelesaikan transaksi, aku pun berjalan ke meja lesehan di pojok itu. Di meja ada kau, teman kita dan pasangannya, dan satu teman lagi. Berlima dneganku, kita duduk di meja itu. Obrolan seperti biasa terasa akrab, sampai akhirnya kepada pembicaraan sensitif yang bahkan kia berdua juga menjaganya agar tidak pernah permbicaraan itu terjadi dianatara kita. Aku terkejut. Karena aku tau betul, di dunia nyata takkan mungkin kamu melakukan hal ini, terutama di depan teman-teman kita. Masalahnya, kamu tiba-tiba berpindah duduk disebelahku. Aku yang sulit kontak mata dengan lawan bicara, kali ini aku menatap matamu. Sial, tatapan itu terasa begitu dalam. Aku dapat melihat warna coklat tua, gradiasi antara pupil dan sklera di balik kornea matamu. Menatap lekat setiap detail bulu mata, raut alis yang menujukkan ekspresi menekan ku untuk segera menjawab pernyataanmu. Dan di detik ketidaknyamanan itu aku kabur dengan terbangun di dunia nyata.


Pukul dua pagi. Secara sadar aku mengilhami ini bagian dari kasih sayang Allah, di tengah malam, sebaiknya aku segera bermunajat dan meminat ampun.


Aku kembali melanjutkan tidur dan mimpi itu berlanjut dengan memori samar. Kembali aku terbangun dengan perasaan sesak yang sama.


Ini salahku membangun diorama kisah itu didalam ruang memori. Dengan mudah aku terhanyut hanya dengan satu-dua kata dari sudut pandang orang lain dalam melihat kedekatan kami. Padahal sejak lama pembicaraan ini sudah disepakati, antara kita berdua memang suka membangun relasi dengan banyak orang. Kita memang senang berteman, dan diantara kita juga memang hanya sebatas teman.


Baik aku dan kau pasti merasa ketidaknyaman yang sama jika ini bermuara pada masalah asmara. Kita hanya teman diskusi, teman cerita dengan tipe canda setara. 


Aku sudah pernah patah hati tepat disaat aku baru memutuskan untuk jatuh kedalam cinta. Kali pertama sakit luar biasa hingga butuh waktu tahunan untuk kembali membuka hati. Kali kedua, serupa. Hanya saja pemulihannya tidak begitu lama. Aku cukup sekali memutus hubungan dengannya, lalu urusan ku selesai begitu saja. Dan aku tak ingin jadi keledai, jatuh di lubang yang sama. Seperti lirik dari lagu 'Jangan jatuh cinta' dari Maidany - Tuhanku, berikan ku cinta, yang kau titipkan, bukan cinta yang pernah ku tanam...


Aku paham betul tipe mu. Cantik, kulitnya bersih, rapi, lemah lembut, pokoknya idealnya perempuan. Aku juga paham betul tipe ku. Maka wajar diantara kita juga seharusnya tidak akan terbentuk hubungan asmara. Masalahnya seperti pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino, cinta datang karena terbiasa. Baik. Sepertinya memang harus dengan cara mengurani komunikasi sebeisa mungkin. Karena aku tak bisa langsung memblokirnya seperti kisah sebelumnya. Ia murni seorang teman dan juga tak menujukkan tanda-tanda lebih dari teman kepadaku. Kalau orang-orang bilang, takkan ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan. Salah satunya pasti akan muncul perasaan. Aku akui itu. Sekarang saatnya diri sendiri kembali mengontrol diri.


Semoga takkan ada lagi mimpi-mimpi serupa di kemudian hari dalam sistuasi seperti ini. Berbahaya sekali.


For Val - Sebuah Cerita Pendek untuk Mengenang

Aku bangun dengan mata sembab pagi itu. Badanku terasa letih usai perjalanan panjang. Aku baru tiba di rumah semalam, sekitar pukul setengah sepuluh, setelah menempuh penerbangan malam.

Karena kepalaku sedikit pusing, aku tak melakukan kebiasaanku seperti biasa—mencari smartphone begitu bangun tidur. Aku segera mandi untuk menyegarkan diri, mengenakan pakaian, dan bersiap untuk sarapan bersama keluarga. Ini hari Jumat, hari yang menyenangkan bagi umat Muslim. Baru sekitar pukul 10, aku mencari handphone dan membukanya. Ada pesan WhatsApp dari salah satu adik kelasku di kampus.

"Kak, udah dengar kabar? Vallenza meninggal."

Deg. Jantungku serasa dipukul mendadak. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali mendengar kabarnya.

Tepat kemarin, sebelum aku terbang, aku sempat melihat postingan penggalangan dana untuk Vallenza di media sosial himpunan jurusan kami. Saat itu, aku berpikir, "Ah, besok setelah beres-beres sebentar, aku akan menjenguknya."

Namun ternyata, semuanya terlambat. Aku membuka kembali percakapan kami di WhatsApp. Dalam pesannya, ia pernah bercerita bahwa kemoterapi sangat menyakitkan.

Aku membuat status WhatsApp untuk mengenangnya, dan seorang junior membalas, menanyakan apakah aku akan pergi ke rumah duka. Saat itu, aku tidak memikirkan masalah agama. Yang ada di benakku hanya satu: aku ingin melihatnya untuk terakhir kali.

Kami pun berangkat ke rumah duka. Perasaanku sedih.

Sesampainya di sana, kami menuju ke arah belakang, tempat persemayaman. Semua teman satu angkatannya berkumpul di sana. Aku menyalami ayahnya, yang kemudian mengajak kami berdua untuk melihat Valen.

Saat melihatnya, air mataku tumpah. Aku menangis tersedu-sedu, dadaku terasa sesak. Wajahnya tak lagi bernyawa. Aku tidak tahu keajaiban apa yang terjadi, tapi ia tidak sekurus saat terakhir kali kami bertemu. Rambutnya dipasangi wig, membuatnya terlihat seperti dirinya saat masih sehat. Dengan suara bergetar, ayahnya berbicara kepada jasad Valen, "Alo, Nak, lihat teman-temanmu dari kampus datang. Alo, kakakmu di kampus kemari buat lihat kamu, Nak."

Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya tertunduk menangis, lalu berbalik badan menuju tempat duduk bersama para pelayat lainnya.

Ayahnya mengatakan bahwa ia akan dikremasi lusa.

Aku terduduk, mengenang bagaimana pertemanan kami terjalin.

***

Akhir 2022, aku sedang berada di provinsi sebelah untuk bekerja beberapa waktu. Himpunan jurusanku menghubungiku, memintaku membuka stand untuk meramaikan dies natalis fakultas kami. Aku kebingungan karena tak ada yang bisa menjaga stand. Salah seorang junior berjanji mengumpulkan beberapa teman lain untuk membantu.

Melalui telepon, ibuku yang turut memantau stand bercerita bahwa ada seorang anak yang sangat ceria dan bersemangat dalam mempromosikan produk kami.

Saat aku kembali ke kampus, aku bertemu dengannya yang lebih dulu menyapaku. "Kak! Kakak Kak Iyah, ya? Aku Valen, yang kemarin jaga stand mama Kakak!" Aku terkesiap melihat anak yang sangat ramah ini.

Obrolan kami berlanjut ke pembidangan semester lima. Ia berkata ingin masuk ekologi hewan. Aku senang mendengarnya, karena itu berarti kami akan sebidang.

Aku juga pernah menjadi asisten laboratorium untuk praktikumnya saat sedang senggang. Aku pernah memarahinya karena selalu membawa kipas angin tangan saat praktikum. Aku galak, tapi ia hanya tertawa, tetap ceria, dan ikut memperbaiki gambar praktikum bersama teman-temannya.

Anaknya cepat akrab. Kami sering membalas story Instagram jika ada sesuatu yang lucu atau menarik. Kadang, ia membuat video jedag-jedug tentang teman-temannya.

Suatu hari, aku meminta bantuannya, tapi untuk pertama kali ia menolak, mengatakan bahwa dadanya sakit. Sorenya, aku menemukannya di salah satu ruang laboratorium.

"Kenapa tidak ke klinik?" tanyaku, berpikir bahwa ia hanya malas membantuku.

"Kemarin sudah, Kak. Besok ngambil darah lagi. Ini cuma butuh istirahat sedikit aja."

"Kamu sakit apa?"

"Belum tahu, Kak."

Lalu tibalah hari ketika hasil pemeriksaannya dibacakan. Ia didiagnosis tumor paru. Namun, katanya, tumornya masih kecil dan bisa sembuh dengan operasi kecil serta beberapa kali kemoterapi.

Tak lama setelah itu, ketua jurusan meminta Valen cuti agar fokus dengan pengobatannya. Aku kesal karena ia sudah semester tujuh yang sebenanrnya sudah tidak banyak aktivitas perkuliahan. 

Aku mengenal banyak pasien kanker dan tumor yang berhasil sembuh. Aku percaya Valen juga akan sembuh. Aku bahkan melupakan fakta bahwa ia sedang sakit parah. Kami tidak pernah membicarakan kemungkinan terburuk, karena aku yakin ia akan baik-baik saja. Lihat saja, ia sudah bertahan lebih dari tujuh bulan dan masih bisa datang ke kampus...

***

Namun ternyata, yang bertahan hanya memori tawa dan keceriaannya, bukan raganya di dunia.

Di bangku pelayat, adik kelasku bertanya kenangan apa yang membuatku begitu sedih saat melihat jasadnya.

Aku bilang, bukan kenangan. Kenangan bersamanya selalu menyenangkan. Yang membuatku menangis tersedu adalah ketika aku tak mampu mengucapkan apa pun di depan tubuh yang telah berpisah dengan nyawa.

Ia pergi tepat di hari Jumat, dan keesokan harinya adalah Ramadan. Ia pergi di waktu yang diidamkan banyak Muslim. Ia pergi setelah menahan sakit begitu lama, yang pasti telah menggugurkan banyak dosanya—jika ia seorang Muslim. Namun aku tahu, takkan ada doa-doa dariku yang sampai kepadanya di alam yang berbeda.

Jika kami masih berada dalam satu alam, aku masih bisa mendoakan keselamatan dan keberkahan hidupnya. Tapi kini, ketika alam kami sudah berbeda, tentu tidak ada lagi keterikatan di antara kami.

Yang kutangisi adalah kenyataan bahwa aku tak bisa lagi mendoakanmu.

Kini, kamu sudah bersatu dengan lautan. Jasadmu dikremasi dan abumu dilarungkan ke laut. Kamu telah menjadi bagian dari ekosistem perairan, memberi nutrisi kepada ikan-ikan.

Kamu seperti hiburan di dunia, kehadirannya singkat saja.

Selamat jalan, Vallenza.

Teori Ikatan Hati (Cerpen)

Udara siang itu terasa gerah, angin sesekali bertiup pelan, membawa aroma kertas dan tinta dari dalam ruangan administrasi. Kampus mereka sedang program ecogreen time, jadi untuk mengurangi penggunaan listrik, pendingin ruangan dan pengeras suara dimatikan. Suasana terasa beitu lengang. Jendela-jendela dibuka. Karena pada dasarnya arsitektur kampus ini bagus, sirkulasi udara berlangsung baik. Hanya saja suhu diluar tak bisa berbohong.


Beberapa mahasiswa lain terlihat menunggu, beberapa berbicara pelan, sementara yang lain sibuk dengan ponselnya. Tita dan Ulya duduk di bangku panjang depan ruangan. Mereka berdua sudah menyelesaikan studi magister bulan lalu. Hari ini, mereka datang untuk mengambil ijazah dan transkrip sebagai penanda resmi bahwa masa perkuliahan telah benar-benar berakhir.  


"Habis ini mau ngapain ya? Kerjaan udah ada, kemarin ambil S2 juga buat upgrade ilmu aja."  Ulya mencoba mencari bahan obrolan selagi menunggu. Ia sudah bosen scroll-scroll layar ponselnya.


"Sama, aku juga belum ada rencana ganti karir," jawab Tita, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Tapi kalau ada kesempatan yang lebih baik, sebenarnya aku mau pindah kerja."  


"Memang kantor lo nggak nyaman?" tanya Ulya, menoleh ke arah sahabatnya. Setaunya, kantor Tita cukup homey dan juga penghasilan sesuai standar.


"Nyaman sih, cuma kan kita nggak bisa selamanya di zona nyaman. Lagian aku juga mau nyari peluang."  


"Weeeesss, ngincer gaji lebih tinggi nih kayaknya?" goda Ulya, menaikkan alisnya sambil tertawa kecil.  


Tita ikut tertawa, lalu menggeleng. "Ya kalau itu sih nggak nolak juga, tapi aku lebih pengen nyari sirkel baru. Lagi pengen serius cari jodoh."  


Ulya tertawa lepas. "Nyari jodoh jangan di tempat kerja lah, males banget jadi bahan gosip kantor."  


"Sirkel-nya loh," Tita menekankan kata itu. "Siapa tahu ada connecting line baru, memperpendek benang merah jodoh."  


"Iya kalau memperpendek, kalau malah makin panjang? Kusut pula."  


"Eh, ngomong yang baik-baik aja. Ucapan itu doa, loh," tegur Tita, serius.  


"Hehe, iya-iya, maaf,"   


Tita melirik Ulya yang juga belum memiliki pasangan sepertinya dengan penasaran. "Kamu sendiri, nyari apa sih biar yakin kalau dia pasanganmu?"  


Ulya sudah beberapa kali mencba punya hubungan namun kandas. Ia terdiam sejenak, seperti memilih kata-kata. "Nyari chemistry."  


Tita menaikkan alis. "Ngapain nyari kimia?" tanyanya dengan wajah polos pura-pura tidak paham.  


"Aduh, kamu nggak ngerti bahasa zaman sekarang," keluh Ulya sambil menggelengkan kepala.  


Tita tertawa. "Haha, becanda. Aku tahu kok. Maksudmu nyari ‘klik’-nya, kan?"  


"Iyaaa..." Ulya menghela napas. "Soalnya kalau ditanya aku nyari yang gimana, aku juga bingung jawabnya."  


"Bingung atau nggak percaya diri?" Tita menatapnya penuh arti, sedikit menantang.  


"Ya... itu juga ada. Takutnya aku nyari yang terlalu tinggi, ternyata value-ku sendiri nggak nyampe ke situ."  


Tita menyilangkan tangannya di dada. "Ya tingkatin dong value-mu, jangan malah nurunin standar."  


"Enak banget ngomongnya. Kamu sendiri aja juga masih nyari," balas Ulya sambil melirik tajam.  


"Hehehe, ya ini lebih ke obrolan teman senasib sih. Mana tahu ada hikmahnya," ujar Tita sambil tertawa kecil.  


Tiba-tiba, Ulya berkata, "Sebenernya kalau soal chemistry, di antara kita juga ada chemistry loh."  


Tita langsung menoleh tajam. "Astagfirullah, aku masih normal ya," ucapnya refleks.  


"Duh, udah magister tapi masih dangkal ya, Bu," sahut Ulya sambil menggelengkan kepala.  


"Becandaaa," Tita tertawa, pipinya sedikit merona.  


"Kimia itu kan sebenarnya interaksi dan ikatan. Ada yang saling bertemu tapi nggak bereaksi, ada yang bereaksi tapi nggak terikat, ada juga yang terikat tapi lemah. Macam-macam. Semua dari kita pasti punya chemistry dengan orang lain."  


Tita mengangguk, mulai memahami arah pembicaraan. "Betul juga. Berarti aku harus cari chemistry yang kayak apa yang mau aku bangun sama pasangan nanti."  


"Kalau aku sih, pengennya kayak pertemuan aluminium sama merkuri," kata Ulya tiba-tiba.  


Tita mengernyit. "Kenapa gitu?"  


"Aku pernah lihat videonya. Nih, bentar... Nah, lihat ini," Ulya menunjukkan sebuah video di ponselnya. "Mereka ‘growth’ tanpa menghilangkan identitas asli masing-masing."  


Tita memperhatikan dengan serius. Dalam video itu, reaksi antara aluminium dan merkuri membentuk pola unik yang terus berkembang tanpa merusak struktur dasarnya.  


"Wow, keren! Aku baru lihat video ini. Selama ini isi explore-ku cuma quote-quote galau atau soal mental illness," ujarnya, terkekeh.  


"Makanya, harus ngebangun sirkel baru biar wawasanmu lebih luas. Jadi isi explore-mu nggak itu-itu aja."  


Sebelum Tita sempat membalas, pintu ruang administrasi terbuka. Seorang pegawai tata usaha memanggil nama mereka dan menyerahkan berkas ijazah serta transkrip mereka. Akhirnya, urusan mereka selesai.  


Saat berjalan keluar gedung, angin sore mulai berhembus lebih sejuk. Mereka berdua melangkah santai di sepanjang koridor kampus menuju parkiran, merasakan nostalgia yang perlahan menyelinap di antara percakapan ringan mereka. Dan berikutnya —entah dengan siapa dan di mana chemistry itu akan membawa mereka.  


Tita membuka pintu mobilnya dan menoleh ke Ulya sambil tersenyum. "Aku tunggu undangan nikahmu, ya."  


Ulya tertawa kecil. "Aku juga ya! Hahaha."  



Segelas Kopi Robusta Tidak Bisa dibaca

Aku menggaruk-garuk lengan sendiri yang tak gatal, menggoyangkan kaki ke lantai tak henti, rahang terasa keras, padahal ini sudah masuk waktu tidur malamku. Sudahpun terlewat beberapa jam. Seperti ada perasaan bersalah, lebih dari gelisah tak terarah.

Jemariku kembali membuka layar ponsel pintar. Menutupnya. Membuka kembali. Entah apa yang dicari. Mencoba mengalihkan perhatian dengan melihat-lihat berita di beranda linimasa, tak juga mengalihkan perasaan berkecamuk ini. Heningnya malam memperkeruh suasana. Jika saja ada hujan, mungkin aku bisa larut dalam suara deru benturan air dari langit itu.

Memoriku memutar kejadian hari ini untuk dicerna apa yang membuat malam ini diriku terasa begitu kacau. Satu, obrolan pagi tadi seputar aku yang akan kembali mencoba berproses untuk hubungan serius dengan seseorang. Sialnya, meski tak begitu mudah jatuh cinta setelah patah hati untuk kedua kalinya, perlahan aku menyukai seseorang melalui konten-kontennya di sosial media. Aku sudah mencoba mencari jalur yang benar untuk menyampaikan perasaan ini. Tapi ternyata sementara ini tidak ada jalurnya. Aku dan si pemilik konten hanya sebatas saling mengikuti di sosial median. Jangan tanya bagaimana bisa terjadi, karena akupun tidak tau. Aku suka sembarangan mengikuti kembali orang-orang di sosial media. Harus bagaimana mengelola rasa suka seperti ini. Aku merasa seperti seorang penggemar yang menyukai artis dari layar kaca. Bedanya, yang ini aku berharap ada jalannya karena ia beberapa kali melihat cerita yang akau unggah di sosial media. Bahkan aku tidak berani mengikuti tantangan tiga puluh hari bercerita karena takut perasaanku yang mudah terbaca. Aaah, sebenarnya mauku apa.

Malam semakin larut, sudah pagi malahan. Aku merasa seperti seseorang yang begitu mudah terbuai akan rasa suka. Teman yang tak pernah aku perhatikan bisa memiliki hubungan lebih dari pertemanan, tiba-tiba usil menggoda dari kolom komentar. Padahal ia tau betul bahwa jika aku sudah terlibat perasaan dengan seseorang aku bisa pergi meninggalkan orang itu karena takut rasa itu berkembang ke arah yang liar. Kebodohanku karena pernah membuka pembicaraan ke arah percintaan. Sialan.

Rasanya seperti sedang menelan guli. Terputar-putar didalam tenggorokan, menelan tak mungkin, mengeluarkan berat rasanya.

Selembar nota dari cafe yang baru saja kudatangi tadi terjatuh dari atas meja. Aku mengutipnya dan membca salah satu menu disana. Espresso double shot. Bagus. 2% kafein meresap sempurna dalam pipa-pipa kapiler, memacu jantung lebih cepat dari biasanya, oksigen turut meresap dua kali lebih cepat, ATP juga diporduksi lebih banyak. Wajar saja aku mengoceh tanpa henti, mata berbinar terang benderang. ditambah tawa-tawa sedikit saja, bisa-bisa aku dikira pakai narkoba.

Sudah tau begitu, masih saja aku tak bisa membaca -- atau bertanya, apa komposisi pesanan yang kuminta. Karena begitu sudah tersaji, segelas kopi takkan bisa dibaca.


Dunia ini berisik sekali ya... (Cerpen)

 "Ck.","Ah! Tsk, ck, ah!." 


Rifda menolehkan kepalanya ke asal suara dan merespon,"Ada apa sih, Cel. Gak nyaman banget ngedenger kamu berdecak kesal begitu." 


"Aku enggak suka hari ini."


"Ke.." Belum selesai Rifda membalas, Celia sudah menimpali,"dan lebih tidak suka karena tidak bisa nge-skip malam ini."


"Ih aneh kamu. Orang-orang tuh selalu nunggu malam pergantian tahun. Beberapa kepercayaan juga memilih refleksi keluarga pada momen ini."


"Anehan mereka lah, kayak udah ngerti aja refleksi diri sendiri, belum ngerti, belum sembuh retak-retaknya malah nyari pasal ngeretakin yang udah retak." Celia membalas dengan bahasanya yang sering sekali filosofis.


"Lagi bicarain keluarga sendiri, huh?" Sindir Rifda. 


"Ikan aku ga perlu ih refleksi, evaluasi, intropeksi, induksi, kayak-kayak gitulah,"


"Buset ni anak, kayak udah ga punya keluarga ampe peliharaan diaku-akuin keluarga."


"Keluarga itu tempat kita percaya, tempat kita pulang."


"Kalau kamu masih tinggal di Indonesia, pakai defenisi keluarga dari KBBI, lah! Kebanyakan baca buku barat nih, gini." 


"Ya, ya, terserah, pokoknya aku mengevakuasikan diriku sendiri dulu ya, semalam saja. Jangan cari aku!"


"Kalau aku ingin mencarimu?"


"Cari saja di tempat sepi."


***


Tahun baru Rifda kini memiliki ritual baru. Tiap kali ia mencari sahabat satu kosannya yang selalu mengeluhkan isi dunia, kini dia hanya perlu ketempat sepi itu. Celia benar, bagaimana dunia tidak begitu berisik, tahun baru saja disambut dengan dentuman susul menyusul. Entah mau memberitahu siapa kalau bumi telah menyelesaikan rotasinya. Kan semua juga tau.


"Cepat sekali sih menyendiri, padahal menikmati berisik ini sebentar lagi kan tak apa, Cel." ujarnya sambil memasukkan bunga pada pot diatas gundukan itu. Ia menyirami gundukan dengan beberapa rumput tumbuh diatasnya sambil bergumam,"Tak perlu kubersihkan ya, biar sejuk."


*** fin.

366 Hari Bersajak - 355. Hari-Hari Rupa-Rupa (Cerpen)

Di penghujung fajar, seonggok daging bernyawa terburu menunaikan tugas sebagai insan berakal. Ia tegopoh menyiram air ke beberapa bagian tubuhnya. Jika mencari kesempurnaan dari ritual itu, ia akan berkata,"Wajarlah tak sempurna, bukan nabi ini boy." Ada saja jawaban ajaib mengikuti tren yang sedang berkembang. Tanpa dipikir, tanpa dikaji, semua mengikut arus nyaman dari dunia maya. Tak sampai 3 menit, usai rasanya. dan ia kembali membungkus diri untuk menghalau dingin yang menusuk. Jangan kau tanyakan soal doa-doa, lagi ia akan berkata,"Tuhan tau apa yang terbaik untuk kita."


Perlahan udara mulai menghangat, ia mengambil gawai dan mulai mengulirkan ibu jari diatas layar keatas dan kebawah. Lama, sampai ada teriakan menyuruhnya bangkit dari tempat tidur dan ia akan menjawab,"Sudah bangun dari tadi!." Entah apa bangun yang ia maksud, apakah mata yang terbuka, raga yang bergerak atau seharusnya bangun dalam artian isi kepalanya sudah dapat digunakan dengan baik untuk beraktivitas seperti orang-orang pada umumnya di pagi hari.


Bersungut merengut ia mengerjakan banyak hal dengan auto-pilot. Merasa hidup sempurnanya bukan bagian dari pertangungjawaban nantinya. Apakah ia tak pernah berpikir bagaimana bisa manusia akan mendapatkan akhir yang sama dengan usaha yang berbeda. Hidup tanpa perang, hidup tanpa kelaparan, hidup tanpa kemiskinan dan berbagai kemalangan yang menerpa banyak kalangan. Dan bukan dia.


Ia kembali mengambil gawainya, melihat ada salah satu templat dari fitur add story temannya. Iapun menambahkan kedalam ceritanya, "ah, senang rasanya sudah berbuat baik pagi ini." Kebaikan sederhana yang sangat tipis sekali dengan jumawa diri.


Hari-hari begitu normal dalam hidupnya, kadang ada tawa berlebihan, kadang ada tangis berlebihan. sesekali ia bisa menjadi taat tak ketulungan, di lain waktu menjadi futur dan mengenaskan. Tapi berkat keluarga yang katanya toxic, ia sulit untuk lama-lama dalam kefuturan. Setidaknya menjadi biasa-bisa saj ayang penting sudah melakukan kewajiban meski kesempurnaannya masih dipertanyaan. Lagi, "Wajarlah tak sempurna, bukan nabi boy."


Tapi sesekali ada perenungan dalam dirinya, bertanya-tanya bagaiman hidupnya setelah di dunia. Maka, meski ia telah mendapatkan gelar sarjana, ia pun bertanya pada AI Meta dari aplikasi Whatsapp. Jawabannya tentu, masih ngawur. Semua orang sedang membicarakan aplikasi itu sepekan ini, mempertanyakan eksistensi nama mereka di dunia digital, apakah sudah cuku terkenal atau tidak. Berusaha mencari validasi selain dari sesama manusia yang seringkali terasa palsu, padahal kecerdasan buatan benar-benar palsu.


Menjelang siang hari, bukannya mengejar dhuha -- meski kadang ia melakukannya -- ia justru memikirkan akan makan siang apa. Tak jauh dari rumahnya bisa jadi ada keluarga yang melihat apa yang bisa dimakan di rumah reyot mereka. Hidup sungguh adil dengan ujiannya masing-masing. Tapi anak manja ini dalam hati berdoa penuh takut ujian apa yang akan ia hadapi untuk kenikmatan hari-harinya ini. 


Sungguh yang bisa dilakukan hanya lebih baik dari hari kemarin, atau bahkan seburuk-buruknya bertahan saja. Seonggok daging yang dibekali nyawa dan akal mungkin besok akan menjadi lebih baik. Ia akan tetap menjadi seonggok daging bergerak sampai akhir hidupnya kelak. Semoga hari-hari penuh rupa-rupa yang ia jalani menjadikan ia insan yang baik hingga akhirnya ia benar-benar seonggok daging ditanam tanah.

366 Hari Bersajak - 155. Kembali Pulang (Cerpen)

Bandara Polonia, 2012
Aldi menghembuskan napasnya saat turun dari pesawat. "Medan," gumamnya. Dengan lambat ia menyusuri pintu keluar kedatangan luar negeri, mencari taksi setelah mengambil bagasinya.


Tak lama seorang supir taksi menghampiri Aldi. Dengan menunjukkan alamat dari gawainya, pak supir langsung melaju menyusuri jalanan kota Medan. Aldi tak peduli pemandangan Medan yang banyak berubah. Pikirannya menerawang entah ke mana. Enam tahun setelah ia meninggalkan kota kelahirannya ini. Tak ada sebenarnya yang ia rindukan dari kota ini. Sejak ia menjadi yatim piatu ketika kelas 2 SMA, ia menjadi ambisius menyelesaikan pendidikannya. Ketika itu, Aldi yang anak tunggal hanya ditemani omnya yang belum menikah di rumah mendiang orang tua Aldi. Bulan lalu omnya menikah. Karena itu, omnya meminta Aldi untuk pulang dan menempati rumah warisan orang tuanya sendiri.

Di dalam taksi, Aldi merasa matanya panas. Ia seakan ketakutan untuk kembali ke rumah itu. Ia takut kembali menjadi sendirian. Selama di National University of Singapore, ia tinggal di apartemen dengan 3 temannya yang lain sehingga tak merasakan kesepian. Dan masih bersama mereka hingga bekerja. Kini ia harus bersiap akan kembali sendiri jika harus menempati rumah orangtuanya.

Akhirnya taksi berhenti di depan rumah yang cukup besar. Tak banyak yang berubah. Pekarangannya tetap bersih karena selalu dirawat Bang Torang yang dibawa omnya untuk merawat rumah ini sejak omnya menemani dia 6 tahun lalu. Tapi Bang Torang tidak tinggal di rumah itu. Empat tahun lalu Bang Torang menikah dengan Kak Sari yang jual bumbu di pasar Simpang Limun dan tinggal di rumah istrinya sejak itu.

"Wey Di! Dah sampek ko rupanya. Kok gak bilang abang tadi biar abang jemput ko," tiba-tiba sesosok pemuda cungkring namun berotot menepuk Aldi dari belakang.

"Eh Bang Torang? Ah, bikin saya kaget saja," kata Aldi menyapa pemuda yang ternyata Bang Torang.

"Alamak, 6 taon ko di negeri singa itu ngajarkan kau jadi sungkan sama ku gini ya? Sok kali ko pake saya-saya. Hahahaha." Bang Torang lalu mengangkat koper Aldi ke dalam rumah. Aldi mengikutinya.

"Enggak gitu bang." Balas Aldi ramah. "Aku masih pakai nomer di Singapur. Roaming kalau nelpon abang. Aku komunikasi sama Om lewat BBM." Jelas Aldi.

"Haa, iya, iya. Adapun duitku beli be be em- be be em itu nanti malah dipake kakakmu apdet-apdet status." Canda Bang Torang sambil mempersilahkan Aldi untuk duduk dulu.

"Jadi, apa kabar abang sekarang Bang? Makasih ya rumah ini dirawat tetap seperti dulu," ujar Aldi setelah duduk di ruang tamu dan tak ada sedikit pun perabot berubah bentuk. Foto keluarganya pun masih tergantung rapi di dinding ruang tamu.

"Kabar ku ya gini-gini aja la. Anak abang udah 2 sekarang, besok kalo ko belum sibuk ku ajak orang tu ke sini ya. Eh maunya aku la ya nanyak kabar ko udah 6 taon di negeri orang. Cemana? Dapat cewek cantik ko di sana?" Kumis tipis Bang Torang bergerak-gerak jenaka kalau pengen tahu sesuatu.

"Apanya ko Bang! Kurang cantik kali aku rupanya hah?!" Tiba-tiba Kak Sari muncul di pintu rumah Aldi dengan membawa rantang makanan.

"Bah? Apanya ko dek. Masuk-masuk merepet pulak. Bukannya ngasi salam selamat datang sama si Aldi ini." Bang Torang mendengus sambil mengajak istrinya masuk.

"Hehe. Assalamualaikum dek Aldi. Apa kabarnya kau?" Kak Sari menyapa Aldi sambil nyengir.

"Aldi baik kak, duduklah dulu kak." Aldi mempersilakan. Sari pun duduk.

"Nah, ini ku bawakan makanan buat kau. Pasti lapar setelah perjalanan." Kak Sari membuka rantang dan mengeluarkan berbagai jenis makanan. Ada rendang, sambal terasi, dan sayur asam. Sungguh sambutan Bang Torang dan Rantang kak Sari terasa begitu hangat menyambutnya.


"Terima kasih banyak, Kak. Masakannya wangi sekali," Aldi mencoba tersenyum. Namun, di dalam hatinya, ia masih merasa hampa.


Bang Torang dan Kak Sari mencoba menciptakan suasana nyaman, namun Aldi masih merasa terjebak dalam kenangan masa lalu. Setiap sudut rumah ini menyimpan bayangan kedua orang tuanya. Malam itu, setelah Bang Torang dan Kak Sari pulang, Aldi berjalan mengelilingi rumah, menyentuh perabotan dan foto-foto yang tersusun rapi di dinding.


"Ma, Pa, Aldi sudah pulang," bisiknya pelan.


Di kamarnya, Aldi duduk di atas ranjang yang dulu sering ia tiduri. Ia merasa beban berat di dadanya perlahan mulai mengendur. Mungkin, dengan kembali ke rumah ini, ia bisa belajar menghadapi rasa kesepian yang selama ini menghantui.


Malam itu, Aldi menatap langit-langit kamarnya. Ia tahu, meskipun berat, kembali ke Medan adalah langkah pertama untuk berdamai dengan masa lalunya. Aldi menutup matanya, membiarkan kehangatan nostalgia menyelimuti dirinya.




-------------------------------
Cerpen ini ditulis di tahun 2014. Aku menemukannya saat sedang membereskan file di Hardisk lama.

366 Hari Bersajak - 137. (Cerpen) Naskah Opera Sabun

Di salah satu cafe yang berada di kawasan perkantoran, Tania duduk sendiri asik mengetik di laptopnya. Ia menikmati suasana pagi menjelang siang di dalam ruangan dengan musik Lo-Fi yang diputar oleh pemiliknya. Tak ada orang lain di sekitarnya, hanya ada dua-tiga pengunjung yang menunggu pesannya untuk mereka bawa pergi. Kadang tangannya berhenti sejenak memikirkan lanjutan kalimat yang akan ia ketik berikutnya. Menghapus, lalu lanjut mengetik lagi. Sedang asik berimajinasi, tiba-tiba seseorang menumpahkan minuman di atas laptopnya. Refleks ia langsung membalikkan laptop untuk meminimalisir air yang masuk. Jantungnya langsung berdegup keras, bibirnya terkatup, syok menjalar keseluruh tubuh hingga tak mampu mengeluarkan suara. 


"Seru sekali ya menjadikanku terus-menerus bahan cerita." Suara berat seorang laki-laki, pelaku penyiraman itu menyadarkan Tania dari tubuhnya yang tiba-tiba kaku. Dengan cepat ia menoleh dengan perasaan ingin marah besar kepada manusia itu. Matanya menyipit tajam, menghujam mata lawan bicara. Namun itu hanya terjadi sepersekian detik. Saat menyadari sosok di samping nya itu, sorot matanya perlahan meredup dan mengarah kebawah, menunduk.


"Kenapa? mau marah? aset mu itu kan kau dapat dari menjual kisah ku." Lanjut lelaki berkaus polo itu sambil meletakkan gelas plastik kosong di meja yang berceceran Americano. Dengan tangan bergetar, Tania mengambil tisu dan masih berusaha mengelap untuk menyelamatkan laptopnya. Laptopnya masih menyala, tapi ia belum berani membalikkannya kembali, takut masih ada air. 


"Aah, sial sekali aku baru pulang ke kota ini kemarin dan langsung bertemu denganmu. Memang ada aku rasa hal yang kurang dikepala mu itu. Bisa-bisanya kamu masih fokus dengan harta haram itu!"


Sementara itu, pelayan cafe yang sedari melihat kericuhan itu berusaha mendekat dan perlahan mengeringkan meja dan membersihkan lantai perlahan. Manajer mereka sedang tidak ditempat, antara takut harus terlibat percek-cokan ini atau justru harus lebih ekstra tenaga membersihkan tumpahan kopi yang mengering.


Tania perlahan mengangkat kepalanya dan menghadap ke Sutan, seseorang dari sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas yang sama dengan Tania. "Aku tidak mengerti maksudmu, dan aku juga tidak mengenal kamu siapa." Jawab Tania tegas. Ia tidak salah, sejatinya ia tidak pernah benar-benar mengenal Sutan. Meski satu sekolah, mereka tidak pernah terlibat apapun. Selama enam tahun diantara mereka hanya mengenal wajah saja.


"Kamu..., kamu kan? kamu mengintipku dari seluruh sosial media milikku, mengintip sosial media keluarga ku juga, menyimpulkan status saudaraku yang mengeluhkan masalah keluarga dan kamu jadikan bahas cerita untuk kamu jual menjadi cerita sampah ditelevisi!" Amarah Sutan lepas dengan jelas.


Si pelayan menyela "Maaf mbak, mas, mau pindah meja atau mau keluar dulu sembari saya bersihkan mejanya?"


"Kalau saya keluar atau pindah meja repot, barang-barang saya masih disini semua." Jawab Tania.


"Kalau mau keluar dulu juga enggak apa-apa, barangnya terawasi cctv itu ya mbak." Tunjuk Pelayan laki-laki yang sangat pemberani tapi terlihat tidak tau situasi itu ke arah CCTV terdekat.


"Oke, Sutan, kita mau keluar dulu?" Tawar Tania.


Sutan menarik napas dalam-dalam, matanya melirik ke arah pelayan yang menunggu jawaban. "Iya, kita keluar dulu," jawabnya akhirnya. Tania masih membawa laptopnya terbalik dengan hati-hati, lalu mengikuti Sutan menuju pintu keluar kafe. Di luar, angin sepoi-sepoi bertiup, sedikit menenangkan suasana yang tegang.


Di trotoar, mereka berdiri berhadapan. Tania bisa melihat sorot mata Sutan yang penuh dengan kemarahan. "Aku benar-benar tidak tahu apa yang kamu bicarakan," Tania membuka percakapan, suaranya masih gemetar.


Sutan menggelengkan kepala, "Jangan bohong. Aku tahu cerita-cerita itu persis. Kamu menulisnya dengan detail yang hanya bisa diketahui oleh orang yang benar-benar stalking keluargaku."


Tania menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Dengar, aku memang seorang penulis, hal yang wajar aku mengambil inspirasi dari kehidupan pribadi orang lain. Jika ada kesamaan, itu hanya kebetulan. Lagipula, kenapa aku harus menghabiskan waktu untuk mengintip kehidupanmu, Sutan."


Mata Sutan menyipit, skeptis. "Jadi kamu bilang semua ini hanya kebetulan?"


"Jika memang ada kesamaan, aku minta maaf. Tapi aku yakin, tidak pernah menulis sesuatu yang secara spesifik mengarah pada kehidupan pribadimu."


Sutan terdiam sejenak, mencoba mencerna kata-kata Tania. Amarahnya perlahan mereda, meskipun masih ada sisa-sisa ketidakpercayaan. "Kalau begitu, kenapa cerita-ceritamu sangat mirip dengan kejadian yang pernah keluargaku alami? ibuku sampai jadi bahan tertawaan di arisannya. Semua perempuan kurang kerjaan yang menghabiskan waktunya dirumah pasti menonton drama murahan produksi PH -mu itu!"


"Sebelum aku menjawab, aku punya satu pertanyaan," Tania menatap mata Sutan dengan tegas, "Dari mana kamu tau aku bekerja untuk PH itu?"


Sutan terdiam sejenak, menatap Tania dengan kebingungan yang perlahan berubah menjadi kebingungan. "Aku... Aku melihat namamu di kredit akhir episode. Itu saja."


 "Oh begitu. Bagaimana kalau kita berbicara dengan tim produksiku? Kita bisa melihat naskah aslinya dan kamu bisa menilai sendiri."


Sutan menghela napas, dilema apakah penilaiannya sebulan terakhir memang salah. Ia Tampak mulai mempertimbangkan tawaran itu. "Baiklah, mungkin kita perlu bicara lebih lanjut, Mungkin itu bisa membantu menjernihkan semua ini." katanya akhirnya.


"Aku akan atur pertemuan dengan timku secepat mungkin." kata Tania dingin,"Dan untuk sekarang tolong kamu pergi dari sini, aku tidak mau memperpanjang penyeranganmu ini terhadapku."


Sutan mengangguk pelan. "Oke. Aku tunggu kabar darimu."


****


Beberapa hari kemudian, di kantor PH, Sutan duduk dengan gelisah di ruang rapat kedap suara. Ia dihubungi melalui nomer kantor PH Tania. Ia bertanya-tanya bagaimana mereka mendapatkan kontak dirinya. "Ah mungkin perempuan itu menemukan nomerku dari grup Alumni." gumamnya.


Tania masuk sendirian, membawa setumpuk naskah. "Sutan, ini naskah-naskah yang sudah kami produksi. Kamu bisa memeriksanya," kata Tania dengan nada ramah namun dingin.


Sutan mulai membaca naskah-naskah itu satu per satu. Semakin lama membaca, wajahnya semakin pucat. Setiap detail dalam naskah itu memang sangat mirip dengan kejadian yang menimpa keluarganya, bahkan ada beberapa yang tidak mungkin diketahui orang luar.


Tania memperhatikan reaksi Sutan dengan hati-hati. "Bagaimana? Apakah kamu melihat ada niat buruk di sini?" tanyanya, pura-pura polos.


Sutan meletakkan naskah terakhir dengan tangan gemetar. "Kamu... kamu tahu terlalu banyak. Ini tidak mungkin hanya kebetulan."


Tania tersenyum tipis, mengunci mata Sutan dengan tatapan tajam. "Kamu benar, Sutan. Ini tidak kebetulan. Aku tahu semuanya karena aku memang sejak dulu keluargamu rela melakukan apapun demi uang. Apalagi sejak pabrik rokok lokal yang dikelola turun temurun oleh keluargamu itu bangkrut. Semua cerita ini aku dapat setelah membayar adik tirimu. Untuk seseorang yang tak acuh dengan sekitarnya, kau dan keluargamu layak mendapatkan hukuman publik seperti ini."


Sutan membelalakkan mata, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kenapa? Apa yang keluargaku pernah lakukan padamu?"

Tania mengambil napas dalam-dalam, menatap Sutan dengan mata yang penuh kebencian dan kepuasan. "Memang tidak ada hubungannya langsung denganku dan denganmu. Keluargamu merusak lingkungan dengan limbah B3 hasil pengolahan rokok. Air di kampung kita tercemar, membuat banyak perkebunan rusak. Setiap kali ada protes, keluargamu yang berkuasa selalu berdalih bahwa pabrik rokok lokal kalian membantu daerah itu dengan memperkerjakan orang-orang sana. Padahal, dulunya masyarakat hidup mandiri tanpa harus bergantung pada pabrik kalian."


Sutan menelan ludah, mencoba memproses informasi yang baru saja ia terima. "Tapi... bukankah pabrik itu memberikan pekerjaan bagi banyak orang?"


Tania mengepalkan tangannya, kemarahan terpendam selama bertahun-tahun muncul di permukaan. "Pekerjaan? Kalian merampas kehidupan kami! Dulu, kami hidup dari pertanian yang subur. Setelah pabrik kalian mencemari air, lahan rusak, panen gagal, dan banyak yang terpaksa bekerja di pabrik karena tidak ada pilihan lain. Itu bukan bantuan, Sutan, itu penjajahan modern."


Sutan terdiam, tatapan matanya penuh penyesalan. "Aku tidak tahu... Aku tidak pernah sadar tentang semua ini."


"Karena kamu tidak peduli," potong Tania tajam. "Kamu hidup dalam kemewahan tanpa peduli pada penderitaan orang lain. Aku sengaja menjatuhkan mental keluargamu agar pabrik itu bangkrut dan segera tutup. Aku ingin melakukannya dalam diam, tapi sialnya kau tiba-tiba mengenal namaku."


Sutan duduk kembali, lemas. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Ibuku malu keluar rumah karena kamu membuat cerita perceraian ibu dan ayahku karena masalah ranjang. Ayahku pergi, ibuku menikah lagi dengan seorang lelaki muda pembual yang pernah menikahi seorang janda yang sudah memiliki anak usia remaja. Dan kini setelah ibu kandungnya mati, dia justru menjual cerita kepada kalian untuk membeli sabu. Apa kau pikir tindakanmu itu sungguh heroik?!"Cecar Sutan tak beraturan. Sebenanrya masih banyak sekali aib keluarganya yang ditulis mentah-mentah menjadi bahan cerita. Ia bingung dengan semua hal yang bukan berasal dari kesalahannya tapi sekarang hidupnya jadi hancur. Ia harus resign dari pekerjaannya di ibukota dan pulang mengurus ibunya. Saudara ibunya yang ikut mengurus pabrik warisan kakek mereka semua lepas tangan karena malu dengan saudaranya sendiri. Pabrik itu memang perlahan terbengkalai, hanya memproduksi seadanya setahun terakhir ini sejak sinetron-sinetron itu muncul.


"Aku akan terus berjuang, sampai pabrikmu itu tutup" jawab Tania tegas. "Melalui tulisan, melalui media picisan. Aku akan membuka mata semua orang tentang azab apa yang bisa terjadi atas ketidakpedulian itu. Meski azab itu tidak ada, maka aku yang membuat kalian merasakannya."


"Kamu...kamu buka Tuhan, Tania." jawab Sutan menanggapi. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa. dan aku juga tidak punya kuasa untuk memperbaiki ini."


Tania menatap Sutan dengan skeptis. "Aku sudah tau. Karenanya aku tidak pernah menyentuhmu langsung. Sialnya kau melihat dan mengenal namaku. Padahal aku hanya ingin menghancurkan semuanya dalam diam. Sekarang kamu mau apa? menuntut kami?" Tantang Tania.


"Tidak. Aku tidak gegabah memulai perkara baru yang akan menghabiskan banyak uang. Saat ini keluargaku sudah hancur seperti tujuanmu. Luar biasa kamu merencanakan semua ini. Pantas saja kamu mengelak saat di cafe kemarin. Kalau disini aku tidak bisa menyerangmu sembarangan."


"Kau kira aku sekolah hanya untuk mengejar gelar? hanya sekedar bekerja? Tidak Sutan, kelakuan yang kau lihat licik ini adalah hasil pola pikir seorang sarjana komunikasi."Tania menjawab dengan pongah.


Sutan sudah tak punya jawaban apapun untuk menanggapi. Dengan tertunduk ia menatap mata Tania yang menatapnya percaya diri. Berbeda sekali dengan sorot mata saat ia menyerang Tania di Cafe pekan lalu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, Sutan meninggalkan ruangan dan pergi dari sana. Entah apa yang akan ia lakukan pada keluarganya yang sudah hancur. Kemarahannya sama Tania murni karena ia terkejut mengetahui ada seseorang yang ia kenal terlibat dalam karya itu. Ia tidak menyangka ada hal seperti ini. Tania benar, ini bukan dendam antara Tania dan dirinya.


Tania menutup naskah yang tadi ia tunjukkan pada Sutan. Meski kemarin ia terkejut saat Sutan menyerangnya. Kini ia tersenyum puas. "Hmm, cari bahan baru ah." Gumamnya. Sambil berjalan kembali ke ruang kerjanya. Laptop tersiram kopi kemarin bertengger di mejanya dan masih bisa ia gunakan. Benda itu akan menjadi saksi bisu bagaimana media bisa berpengaruh dengan baik dan jahat.

366 Hari Bersajak - 20. Kurir Rasa (Cerpen)

Sudah dua jam aku berdiam di tepi danau ini. Terduduk menikmati aroma embun pagi, cericip burung dan tupai yang melompat-lompat di dahan hingga membuat pohon-pohon bergerak ringan. Matahari belum terasa begitu terik.  Entah apa nama tempat ini, aku hanya berjalan menyusuri jalan setapak dari penginapan. Bahkan masih kabut saat aku keluar, kakiku melangkah pasti selama masih ada jalan. Aku tidak memakai kacamataku, semua tampak buram ditambah kabut yang belum kunjung mereda. Ujung-ujung rokku basah. Dingin, namun nyaman.

Aku pergi sendiri ke tempat ini. Aku katakan aku ingin liburan setelah menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan. Tak ada yang menahanku, karena memang aku bukan tipikal karyawan yang sering meminta cuti atau tidak menyelesaikan target pekerjaan di kantor. Bahkan mungkin atasanku lega saat aku mengajukan cuti setelah melihat pandanganku yang kosong selama sepekan ini.

Ada hal yang semakin aneh rasanya dalam diriku. Setelah dia, Wasa, menghubungi sepekan lalu. Dalam ingatanku, hubunganku dengan Wasa hanya sebatas teman kenal begitu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Dalam ingatanku juga, obrolan dan interaksi kami hanya ramah-tamah sebagai teman. Aku tidak pernah memandangnya lebih dari teman. Jika suatu hari kami reunian sekolah dan dia tidak hadir, percayalah aku tidak akan mencarinya. Ini juga aku sadari saat aku lulus (kami satu kampus, berbeda fakultas), aku tidak mengundangnya, bahkan tidak mengingatnya untuk sekadar mengabari. Diluar teman kampus, aku hanya mengabari teman geng sekolahku yang berjumlah 4 orang perempuan dan 4 laki-laki. Mereka berdelapan merupakan orang-orang di malam mingguku, malam libur dan banyak malam lainnya kami habiskan bersama. Wasa, tidak pernah ada dalam pertemanan dekat ku, sejauh yang aku ingat.

Beberapa tahun silam, Wasa pernah menunjukkan gestur marah padaku saat aku seolah tidak memprioritaskan hadir saat teman kami berduka. Lagi, itu teman yang tidak terlalu dekat denganku, aku pikir. Lagipula, saat itu kegiatanku di kampus sedang padat-padatnya.

Besok kita akan kuliah seperti biasa, tapi teman kita tidak berduka selamanya, ucap Wasa saat itu.

Terkadang aku bingung mengapa Wasa merasa seolah kami dekat. Jika ia membangun kedekatan itu untuk urusan asmara, maka semakin tepat aku meresponnya dengan dingin. Dalam ingatanku, Wasa bukanlah laki-laki baik. Ditambah cerita dari teman geng ku, Tia, yang mengatakan ia sebal dengan Wasa karena mencoba mendekati salah satu teman-nya, minta dijodohkan, lalu ditinggalkan dengan ketidakjelasan begitu saja. Gita, yang sudah menikah dengan Heru, teman geng kami, juga mengatakan hal yang sama soal Wasa. Siapapun, asal jangan Wasa. Dia bukan orang yang tepat. Nasihat Gita padaku saat aku menceritakan komunikasi Wasa yang seolah sedang mendekatiku.

Sepertinya, Wasa hanya menjadikanku pilihan dan mencoba-coba. Sementara aku, tidak kepikiran sama sekali sampai seminggu yang lalu.

"Plung." Aku melempar kerikil kecil ke dalam danau. Dekat saja.

Kalau diingat-ingat, sebenarnya ada momen kami jalan berdua. Masalahnya, aku pergi berdua dengan lawan jenis tidak hanya dengannya. Kalau ada yang minta aku temani ke satu tempat, ada kegiatan dan lain halnya, selama memang bisa, aku temani tanpa memandang gender.

Wasa juga meminta hasil makanan yang aku buat untuk tugas kuliah, saat kuposting di media sosial. Dengan senang hati aku memberikannya, karena memang bukan hanya dia yang meminta, ada banyak yang senang bila diberi makanan gratis, bukan?

Rasa lembab semakin menjalar di tempatku duduk. Memang aku tidak memakai alas apapun sejak awal.

Sungguh aku tidak mengerti bagaimana sistem ingatanku bekerja. Biasanya, kalau ada hal yang aku tidak suka, kenangan buruk dan akan memicu perasaan tidak nyaman, aku akan mencoba melupakannya. Dan ternyata aku terbiasa sampai akhirnya momen diantara kenangan buruk itu ikut terhapus begitu saja. akhirnya yang menjadi pengingatku hanya satu, bukti. Itupun aku tidak akan ingat detailnya, hanya jika bukti itu jelas dan tak tersangkal, aku menerimanya. Dan sekarang itulah yang terjadi.

Aku memutus hubungan dengan Wasa secara sepihak saat teman-temanku memberikan pandangan bahwa Wasa selamanya tidak akan tepat bergabung dengan kami. Aku menuruti mereka. Betul, masalahnya ada di Wasa. Sampai pada akhirnya aku membuka kolom percakapan kami berdua di sosial media, dari awal. Sial, ternyata aku pernah menggoda Wasa. Aku pernah mengganggunya dan menunjukkan ketertarikan padanya. Siapapun yang membaca percakapan kami akan menilai bahwa saat itu aku menyukainya. Masalahnya, di linimasa itu, aku sedang punya hubungan dengan orang diluar sekolah dan juga sedang menyukai seseorang di sekolah juga. Siapa yang memulai mencoba-coba bermain api? Akulah perempuan yang jahat, saat itu.

Semua manusia tentu punya penilaian antara satu sama lain. Tentu saja aku menerima jika ada penilaian buruk mengenaiku dari orang lain. Lantas, mengapa aku bisa-bisanya menghakimi Wasa secara sepihak begini.

Tapi aku sudah mengakhirinya. Sekarang aku dan diriku perlu terus berefleksi agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Agar tidak ada Wasa-wasa lainnya dalam kehidupanku.


"Srek, srek" terdengar suara rumput dipijak dari arah belakangku.

"Sera...", seseorang memanggil namaku. suaranya sedikit serak sehingga aku sulit mengenalinya. Katanya kalau sedang sendirian tiba-tiba ada yang memanggil nama kita, jangan disahuti. Aku bergeming.

Terdengat suara seperti plastik dibentang dan diletakkan disebelahku. Seseorang itu lantas duduk diatasnya. Aku menoleh, lalu menghela nafas, lega. Ternyata Tia.

"Astaga, kamu mengagetkanku, Tia. Darimana kamu tau aku disini?" Tanyaku.

"Sini merapat dulu, kebiasaan duduk sembarangan. Nanti kamu masuk angin gimana." Omel Tia.

"Sudah basah juga sampai ke celana dalamku, hehehe." Jawabku sambil menuruti permintaannya. Akupun duduk dialas yang sama dengan sahabat ku ini.

Tia menyodorkan roti dan teh panas. "Kata penginapan kamu keluar pagi-pagi sekali sebelum sarapan." Rasa hangat mulai menjalar perlahan. Aku menerima pemberian Tia. "Kamu itu ya, kamu pikir kamu pinter banget sok-sokan ngilang? kali lain location di hape matiin dulu. Akun google-mu masih nyangkut di laptop aku."

Aku nyengir. Akun e-mail ya, pantas saja Tia menemukanku dengan mudah. Daerah ini memang sudah tempat wisata dengan jaringan yang bagus. Memang sejak awal aku bukannya ingin kabur atau sok misterius. Di formulir cuti aku juga mencantumkan lokasi yang aku tuju. Hanya untuk ke lokasi ini aku benar-benar hanya mengikuti jalan setapak, aku tidak ingat pernah kesini. 

"Pemandangan dari sini sudah banyak berubah ya, sejak kita perpisahan sekolah, dulu." Kenang Tia sambil melihat pemandangan di depan kami. Kabut sudah hampir menghilang semua.

"Iya, setelah erupsi dulu, ternyata malah membuat lahan tandus didepan sana menjadi hutan, ya."

"Sera, ingat tidak kejadian saat kita bertiga disini?"

"Ki-ta..? bertiga? Tidak, rasanya aku baru ke bagian sisi danau ini setelah melewati jalan setapak yang baru diaspal, deh?" aku menanggapi pertanyaannya dengan bingung.

"Ah, ternyata itu malah menjadi kenangan buruk bagimu ya? aku ingatkan deh, disini, kamu menemaniku saat menyatakan perasaan pada Wasa." Tia menerangkan sedikit ingatanku dengan santai. Tapi entah kenapa, kepalaku perlahan berdenyut, sakit. Tia melanjutkan ceritanya,"Beberapa bulan yang lalu, aku cukup sedih saat mengetahui Wasa mendekatimu. Aku juga tidak suka saat dia memintaku mengenalkan temanku padanya. Aku tidak mengerti mau Wasa apa. Setiap ada pesta teman kita, dia selalu mengajakku. Kami sering pergi pesta berdua dan aku hadir juga dibeberapa acara keluarganya. Ibunya sudah bolak-balik memberi kode kepadaku untuk segera menjadi bagian dari keluarganya. Tapi entah kenapa ada keraguan dari Wasa." Cerita Tia ini membuat kepalaku semakin sakit. Tapi sepertinya ia belum ada niat untuk menghentikannya.

"Aku pikir selama ini aku terus-terusan menyukainya secara sepihak. Sehingga aku tidak lagi mengenal rasa cemburu, aku selalu bersiap dengan rasa ikhlas jika ia bukan berakhir denganku. Aku senang setiap kali pergi dengannya. Aku selalu cerita, kan? makanya kadang aku tidak merasa istimewa karena ia juga jalan dengan oranglain, sepertimu, juga." Tia terus melanjutkan ceritanya tanpa memperhatikan perubahan ekspresi diwajahku.

"Dan akhirnya kamu tau, Sera? Dia bersama keluarganya datang kerumahku tiga hari lalu. Itu setelah aku bertanya apa arti dari sikapnya selama ini. Ternyata Sera, dia memperhatikan perasaanku dengan detail. Dia memastikan bahwa teman-teman disekitarku yang terlihat ramah memang bukan karena menyukai dia, karena memang ramah saja. Dan kau termasuk dalam teman ku yang di ujinya itu. Untung ternyata kamu tegas bersikap dan memang tidak ada perasaan apapun padanya. Aduh, lucu sekali ya?"

"3 bulan lagi kami akan menikah, kamu jangan pergi kemana-mana ya? kosongkan jadwal untuk menjadi bridesmaid ku, Sera. Ini perintah! Wajib! aku sudah mengabari semua geng kita. Makanya aku sampai bela-belain cari kamu kesini. Aku tidak sabar menunggu kamu pulang." Tia tersenyum sambil memelukku erat. Ia lalu mengusap pipiku, gemas, seperti yang biasa ia lakukan. Aku membalasnya dengan tersenyum getir. Sepertinya aku akan kembali melupakan tempat ini.

"Kamu kapan check-out? mau pulang bareng kami hari ini, tidak?" Tia tidak menunggu tanggapanku atas ceritanya barusan. 

"Memang kamu kesini sama siapa?" Hanya itu yang bisa aku tanyakan kembali. Rasanya denyut dikepalaku belum menyelesaikan seluruh cerita Tia untuk aku cerna.

"Wasa. Itu dia lagi ngobrol sama manager hotel. Sedang mempertimbangkan lokasi ini menjadi trip liburan keluarga kita setelah acara resepsi."



Ah, sepertinya, aku akan melupakan seluruh tempat ini, Tia. Selamanya.

Tags