Cangkang

Seorang petualang sedang mengambang di lautan
dengan sebuah cangkang licin, indah, berkilauan

petunjuknya mengikuti cahaya matahari
kayuhnya dari ranting tak berisi

Patah, ambil lagi yang lainnya
ada banyak benda disekitarnya

sebagian besar tidak berguna, tak ada daya
sang petulang tetap mengkayuh mengarah cahaya

cangkangnya sungguh mempesona dari kejauhan
diantara petulang lainnya, ia menjadi pusat perhatian

hari berganti, petualang lain telah pergi
dia sendirian mengagumi diri

ia petulangan hebat dengan cangkang yang hebat pula
segala benda berkumpul di sekitarnya

lalu ia menunggu, kapan sampai
sampai
sampai
sampai

sampai ia sadar ia mau sampai kemana?
dan sekarang ia dimana?

Cahaya matahari yang ia ikuti berubah setiap waktunya.
petualang malang berputar-putar di bibir pantai sunyi

semua telah pergi, ia ditinggal sendiri

dengan benda-benda yang ia kira akan berguna membawanya ke akhir yang tak ia rencanakan.

Resensi novel Amba karya Laksmi pamuntjak

Ini kali pertama aku mencoba membaca jenis novel bahasa Indonesia dengan pilihan kata yang tidak ringan. Kenapa aku bilang tidak ringan? karena novel ini ini memiliki kosakata yang jauh lebih kaya dari novel-novel Indonesia yang sebelumnya aku baca. Berbeda dengan karya-karya Sapardi Djoko Samono yang dihiasi kata-kata puitis, lembut dan sarat makna, Novel Amba karya Laksmi Pamuntjak ini dihujani kata-kata bahasa indonesia yang jarang digunakan sehari-hari. Sampai-sampai aku harus menyediakan KBBI disebelahku saat membaca novel ini.

Jadi secara beruntung aku dipinjami novel Amba cetakan keempat oleh salah satu senior di tempat kerja.

Judul : Amba
Penulis : Laksmi Pamuntjak
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : Keempat edisi baru Okober 2013

Tebal : 577 halaman

Untuk kalimat pembuka, Laksmi memilih kata "Untuk mereka yang pernah ditahan di Pulau Buru yang telah memberiku Sepasang Mata baru". Di sini aku baru tahu bahwa Indonesia punya Pulau Buru hahaha! ya sejelek itu pengetahuan geografiku. Novel ini awalnya ditulis dalam bahasa Inggris lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan penyusunan kata yang lebih ciamik 

"Di Pulau Buru laut seperti seorang ibu dalam dan menunggu" menjadi kalimat pada alinea pertama dalam novel ini. Novel ini menceritakan tentang sosok perempuan bernama Amba yang mencari makam 'suami' nya bernama Bhisma di pulau buru. Pencarian dengan petunjuk yang sangat minim membuat kisah ini menjadi begitu rumit pada bab pertama. Kecurigaan penduduk setempat dan serangan yang dihadapi Amba menambah kesulitannya dalam mencari jejak Bhisma.

Amba adalah seorang anak pertama dengan sepasang adik kembar yang cantik. Begitu pula Amba, mesi tidak secantik kedua adiknya, ia memiliki gestur yang anggun dan menawan. Ibunya yang dulu seorang kembang desa dan menurunkan kecantikan itu kepada anak-anaknya, merawat mereka semua dengan penuh welas asih khas perempuan jawa. Ayahnya adalah seorang guru yang lurus, baik dan berprestasi hingga diundang ke pertemuan guru-guru di UGM.

Saat pertemuan di UGM itu, kedua orangtua Amba berjumpa dengan Salwani. Dosen muda yang baik, sopan dan satun. Sosok calon suami yang sangat sempurna untuk Amba, di mata orangtuanya.

Salwa mendekati Amba dengan sangat baik, mendukung mimpi-mimpi Amba, memahami setiap buah pikir Amba yang cenderung berbeda dari orang-orang kebanyakan. Amba cerdas, Salwa tau dan meng-apresiasi itu dengan baik.

Namun Amba merasa tak bisa hidup dengan ketenangan. Ia ingin terus mengasah dirinya lebih dan lebih. Saat ia kuliah Sastra Inggris di UGM, teman-teman diskusi 'bule' nya satu persatu menghilang karena terjadi ketengangan antara eks penjajah dengan kelompok nasionalis. Belum lagi pergerakan gerilya PKI.

Amba menemukan pengumuman bahwa rumah sakit di Malang membutuhkan penerjemah. Meski tau saat itu Malang sedang dalam kondisi yang sangat bahaya karena banyak penculikan juga pembunuhan, ia tetap pergi demi menuntaskan kepuasan dirinya.

Kalau aku melihatnya, Amba ini Rebel banget sih.

Ia memberi tahu kepada Salwa bahwa ia akan pergi ke Malang. Kepada Om dan Tantenya yang ia tumpangi selama di Jogja, Amba mengatakan bahwa ia akan kerja kelompok selama beberapa lama di rumah temannya. Untuk keliarganya di Kediri, Amba tak memberi kabar apa-apa.

Salwa, lagi-lagi harus memahami 'rebel' nya Amba. Dengan penuh kasih sayang, Salwa tetap mengirim surat dan memastikan bahwa Amba baik-baik saja di sana. Sayangnya, Amba sudah tak lagi punya gairah menanggapi kata-kata indah dari Salwa. Karena, di Rumah Sakit itu ia menemukan sosok yang berbeda dari orang lain seumur hidupnya. 

Namanya, Bhisma.

Bhisma adalah seorang dokter lulusan Jerman. Saat itu, Jerman sangat kental dengan komunis. Apakah Bhisma terlibat dengan komunis atau tidak? tidak tahu.

Hubungan Amba dan Bhisma begitu intim. Dan Bhisma tidak tahu keberadaan Salwa. Karena Amba tidak memberi tahu. Sampai akhirnya amba memberi tahu, tentu saja Bhisma tak melepas Amba begitu saja. 

Sayangnya, meski Bhisma menunjukkan cinta dan rasa posesifnya ke Amba, akhirnya mereka terpisah disebuah pertemuan untuk mengenang salah satu pentolan PKI.

Perpisahan itu tak hanya memisahkan sepasang kekasih tapi juga seorang anak dengan ayah Biologisnya.

Amba pun 'kabur' ke Jakarta. Tempat yang ia dan Bhisma impikan untuk melanjutkan hidup. Ia berharap pada suatu hari ia akan bertemu kembali dengan Bhisma di Jakarta.

Setahun kemudian, Amba baru mengirim surat kepada keluarganya di Kediri yang tentu isinya melukai hati kedua orangtuanya. Surat kepada Salwa, tetap saja Amba memberi bahasa agar Salwa memaklumi seluruh tindak tanduk yang Amba lakukan.

Salwa, adalah seorang lelaki baik, sopan, santun dan memilih hidup dengan lurus. meski tak lagi menaruh cinta, sampai akhir Salwa memberi empati pada Amba.

Entahlah cerita mahabharata bahwa tokoh Amba dicampakkan oleh kedua lelaki, Salwa dan Bhisma adalah sama dengan kisah Amba yang ini?

Bagaimana kondisi di Pulau Buru sejak menjadi pulau tahanan politik? Bagaimana nasib para tahanan? Dimana Bhisma sebernanya?

Buku ini sangat menarik untuk dibaca secara perlahan. Laksmi Pamuntjak berhasil menyajikan salah satu catatan sejarah dengan baik meski ada beberapa kejadian yang dirubah untuk menyempurnakan alur cerita.

Sekian.

Catatan : Lanjutan kisah ini ada di Novel "Srikandi"



Ayah

Darinya, ku kenal islam

Darinya, iqomah pertama yang ku dengar

Meski saat itu hatinya gusar

Meski dadanya masih berdebar


Dia yang dengan lembut memijat kakiku

Saat udara dingin membirukan telapakku


Kala itu nasal aspirator belum lazim

Ditengah isak sesakku,

Dia terdepan menjadi pengganti alat itu


Dia yang mengajariku diatas roda dua

Sampai mesin beroda dua

Jatuh berdua

Mengomeli kesalahan ku untuk kesekian kalinya


Dia yang tak pernah absen menjemputku sekolah

Saat sedang berada di kota tercinta


Hidup keluarga ini berada, bukan kaya

Alat telekomuniasi kala itu mahal harganya

Demi bisa terus tau posisiku berada

Handphone siemens generasi pertama tergantung di dada


Aku lama dijemput, telpon ayah

Aku jatuh, telpon ayah

Aku bertengkar, telpon ayah

Aku tabrakan, telpon ayah

Aku kehilangan, telpon ayah


Dia yang memukulku saat tidak sholat

Mencecar ketika omonganku sudah lagi tak taat

Memaksaku duduk untuk mendengar nasihat

Menyuruhku menghentikan tangis saat bicara sudah tersendat-sendat


Raut muka yang selalu disembunyikan

Saat aku bertanya uang kuliahku kapan dibayarkan

Menyuruhku sabar dan jangan dipikirkan

"Tanggal berapa tenggatnya? Ayah akan usahakan"


Dia yang dengan gagah

Membawa batang bambu, jangung, tebu,

Apapun itu

Semua yang kubutuh

Dan masih bertanya "Apalagi yang bisa Ayah bantu?"


Mau kemana? ayah antar

Mau pergi kemana? ayah kunjungi


Dia di tengah keterbatasan

Mendukung penuh agar aku melanjutkan pendidikan


Seringkali aku yang kesal,

Dia yang tak pernah mengakui kekurangan,

Dia yang merasa bisa mengerjakan semua,

Dia yang mapu menangani setiap masalah,


Dia, Ayahku.


Ayah nomor satu di seluruh Dunia.


(sajak ini akan aku lanjutkan setelah aku menikah)


25 Februari 2022


Luhur

Betapa luhur hati pendahulu

memasukkan hak hewan dan hutan

dalam peraturan negara berbentuk uu


Entah hanya meniru

bangsa-bangsa yang merdeka lebih dulu


atau memang penting melindungi jati diri

sebagai jambrud khatulistiwa abadi


Kita istimewa, Indonesia


kini atas nama ekonomi

percaya bangsa atau kelompok sendiri

amanat leluhur harus diberangus


karena, hidup hanya sekali

untuk apa memikirkan mereka yang sudah mati


Betapa luhur...

Tuan yang Malang

Malang nian tuan
Berlian terkubur pasir
Pikirnya ia tidak bersinar
Karena alam menguburnya

Malang nian tuan
Semua sia-sia
Langkah-langkah kosong
Bias mata memandang

Malang nian tuan
Ia kira cahayanya bisa meredam
percikan kecil, api dari tembaga
Membungkam semua dengan elegan

Malang nian tuan
Sungguh malang

Ia akan terbenam jauh kedalam
Karena gemerlap yang ia nikmati sendirian

Perasaan Suka

Sejak dulu, sejak mengenal rasa kepada gender lain

Yang mana kutemukan dalam novel dan komik
Lalu memahami ada hubungan perasaan yang tak main-main
Atau, sekedar pelampiasan rutinitas pelajar yang pelik


Dan sejak pertama kali menyadari itu
Aku menyukai rasa suka yang menyukai lebih dulu

Aku menyukai sensasi rasa saat menyukai seseorang
Merebut perhatiannya dengan berbagai upaya terasa menantang
Saat ia sudah mulai memberi perhatian
Ini menjadi membosankan
Sepertinya, inilah kejahatan yang kulakukan berkepanjangan

Karena tujuanku hanya sekedar suka, tak ingin ada komitmen ala anak muda

2011, aku masih memakai seragam abu-abu saat itu
Dan masih melakukan aksi menyukai dengan jitu
Lalu aku bertemu denganmu yang sejak pertama tak pernah dan takkan menjadi targetku

Tahun itu... pertama kalinya aku merasakan disukai oleh seseorang dengan penuh perhatian
Disuguhi candaan dan obrolan yang melenakan
Pertama kali merasa disukai dengan terbuka
Bukan hanya kode belaka seperti yang dilakukan lelaki lain diluar sana
Berharap aku paham dan berpaling memandang wajahnya
Atau yang random 'nembak' tanpa prolog pembuka
Hahahahaha.

2018 akhir, kali pertama mengalami patah hati
Tatkala disahut apa aku layak untuk diperjuangkan
Diperjalanan saat akan melakukan survey penelitian
Aku tercekat dan spontan memberi jawaban

Kuputuskan hubungan sejauh yang kubisa.

Tahun berlalu dan aku tak lagi mencari target orang yang disuka. Semua teman sama rata. Kode-kode belaka membuatku kembali tertawa. Berkata mereka hanya bercanda. Kukata juga, "Aku berkaca, aku tidak cantik dan mempesona. Mana mungkin serius suka?"

Kepercayaan diriku turun drastis.
Seiring hati berusaha memaafkan sikapku yang egois
Teman-teman menyuruh memulai dengan membuka kembali blokiran
Sehingga sesekali bisa kulihat di linimasa dan bersyukur dia sedang baik-baik saja

2020, ada yang membuatku penasaran lebih ke soal pekerjaan
Dan aku melakukan pendekatan sebagai teman
Kukatakan juga dengan jangan sampai terlibat perasaan, kasihan

2021, sepertinya aku terjebak dengan karma.

Aku tak tahu bagaimana harus memberi jawaban atau kepastian.

Oh Tuhan, hamba mohon dimaafkan atas segala kelakuan dimasa silam yang mempermainkan perasaan lain insan.

Oh Tuhan, hamba tak ingin lagi membiarkan seseorang larut dalam kebaperan dan kubiarkan mengambang sehingga terlihat seperti aku yang tak punya perasaan.

Noted: Kenapa hanya menggunakan kata 'suka' bukan 'cinta'? Karena bagiku cinta itu sangat teramat sakral. Cinta dimana kita mau berkorban dan kadang harus mengikhlaskan. Cinta terhebat yang kumiliki masih kepada kedua orangtua dan saudara. Dan baru akan ku buat ruang baru untuk Cinta, (karena yg sebelumnya takkan kubagi-bagi) saat arsy terguncang oleh ucapan insan yang mengikat janji kepada Tuhan.

Kepada Perokok

 Sejak dulu, sampai saat ini

Aku tak menyukai bau para perokok

Tak bisa, tatkala ku coba jauhi

Kuperingati, abai ucapan ku bak ayam berkokok 


Berat. Amat berat sekali.

Memikirkan masa depan?

Aku saja berpikir dua tiga kali untuk menjadikan mereka teman

Apalagi jadi pasangan 


Tak siap tak ingin tak mau 


Mending memeluk dan mencium aroma keringat sebagai bukti ia bekerja keras diluar sana 


Bukan malah menyambut sambil mengernyitkan dahi tatkala mencium aroma sengit nikotin yg khas sekali 


Lihat, katanya.

Diluar sana banyak yang hidup berumur panjang dan sehat-sehat saja 


Hey sialan, aku yang jadi penyakitan. 


Kalau beruntung berumur panjang, terkena kanker berkepanjangan. Mampus, tak mendengar ocehan perempuan. 


Kan belum terjadi, katanya.

Hari ini aku masih butuh sebat untuk berpikir, bersosialisasi dan bekerja. 


Hey, ah aku sudah tak tega lagi memaki

Jadi silahkan para perokok tetap berjalan mengasap dengan kepercayaan diri 


Hanya saja, tak ada ruang untukmu untuk kita bertemu berkepanjangan dikemudian hari.


Dewa(sa)

Kukatakan disini wahai sesama buronan

dari pelarian sebuah perasaan

yang berkhianat dan terkhianati?



Diksi yang kita pilih seringkali menyatu padu

seolah menjadi pembenaran bahwa

kita ditakdirkan untuk disatukan


Aku yakin pertemuan kita bukan kebetulan,

Ini hanya perantara untuk saling berkaca

dari salah satu ego manusia


Sanubariku memberontak

akan penolakan-penolakan yang kulakukan


Semua perasaan ini hanyalah...

buatan dari insan-insan kesepian


Insan yang hanya menipu dan memburu nafsu

Niat tulus yang dibangun telah hancur sejak jejak pertama ujub terkuak


Bukan dari diri yang dari niat, sudah diperbaiki dan terus memperbaiki

Mencari pasangan hidup sejati sebagai pemenuhan janji Illahi




Jam 3 Pagi

-laki-laki boleh memilih, perempuan berhak memutuskan.


Sore itu seperti kaum rebahan lainnya, aku bersama kucing-kucingku menikmati sore dengan menonton televisi sambil berbaring. Televisi memutar film sementara mataku malah mengarah ke layar ponsel dengan jariku menyeret layar. Membaca salah satu postingan di aplikasi Quora. 

 




Wah, informasi ini menarik juga, pikirku.

“Drrrt..drrt…” Ponselku bergetar ditanganku. Kaget. Pikiran-pikiranku sejenak buyar, semakin buyar saat mengetahui siapa yang menelpon. ‘Bang Farhan’ tertera dilayar ponselku. Sebelum mengangkat aku mengira-ngira, ada apa? Sepertinya tidak ada urusan dengannya akhir-akhir ini. Ku angkat;

“Halo, Assal..”

“Assalamualaikum, Opii ehehe” suara dengan intonasi sedikit menggangu dari seberang sana memotong salamku. Yah, aku terbiasa mengucap salam lebih dulu. Memang sudah seharusnya yang menelepon yang mengucapkan salam, bukan? 

“Waalaikumussalam, ada apa bang?”

“Lagi dimana Opi? Astagaaa rindunya aku samamu, hehehe” 

“Lagi dirumah. Kenapa sih?” Inilah aku sebalnya kalau menerima telepon dari laki-laki. Aku tidak suka pembicaraan yang aku tidak tahu arahnya. Kalau via aplikasi chatting, aku masih bisa berpikir lebih baik untuk menyusun kata-kata. Apalagi dengan Bang Farhan, aku sedikit risih dengan sikapnya akhir-akhir ini.

“Ngapain? Sama kucing-kucing? Apa sama… suami?” ucap suara di seberang dengan nada bercanda. Kalau dia didepanku ingin rasanya ku lempar biji nangka didepannya. Aku hanya mengeluarkan suara mendesis tak ingin menjawab pertanyaan konyolnya.

“Apa kabar Opi? Abang mau minta tolong nya ini, hehehe.” 

“Langsung aja ke minta tolongnya bisa? Kalau kabarku gak baik gak mungkin daku angkat telepon ini, bang.” Ujarku.

“Yaaa kok gitu. Gini, ada temen ku, junior di kampus sih. cewek. Pesawatnya delay, kayaknya bakal sampai tengah malam. Boleh minta tolong jemputkan dan bermalam di tempat Opi dulu?”

“Oh, boleh.” Jawabku cepat. Kalau urusan menolong orang memang cepat sekali aku iyakan. Bahkan sering kali prioritasku bergeser kalau ada yang meminta tolong. “Kira-kira sampai jam berapa?” lanjutku.

“Jam 12 Malam, Opi bayangin coba cewek, tengah malam sampai bandara, gimana?” Berusaha meyakinkanku untuk menolong temannya. Tidak usah di tekankan seperti itu aku juga paham.

“Yaudah, kasih aja nomer Opi sama dia bang.”

“Bener nih gak apa-apa? Besok paginya dia langsung pergi kok. Opi bisa keluar malem-malem rupanya?” 

“Bisa, Insya Allah. Kan deket. Paling Opi keluar sama Ayah.”

“Oke, nanti abang kirim nomer dia ya. Makasih sebelumnya”

“Sip. Anytime bang. Assalamualaikum.” Jawabku sambil langsung mengkahiri percakapan.

“Yaaampun segitunya, iya iya, Waalaikumsalam.” Telepon kami pun berakhir.

Tak lama masuk pesan whatsapp berisi kontak seseorang.

Widya Arum. 

“Widiw. Namanya cantik.” Gumamku. Kulihat dia mencantumkan gambar langit sebagai foto profil whatsappnya. Sejenak aku menebak-nebak orang seperti apa yang akan aku jemput. Sebagai tipikal orang yang cukup absurd, aku sangat welcome pada setiap orang baru. Yah, meski baru beberapa tahun terakhir ini sih.

……

Ting!
Pesan masuk dari Arum.

Assalamualaikum kak, ini Arum.


Waalaikumussalam, udah masuk pesawat?

Alhamdulillah udah kak


Kira-kira sampai jam berapa?

Sekitar satu jam setengah kak

Oke ntar kabarin aja kalau udah landing


Makasih kak, maaf ngerepotin. Baru kali ini sampai tengah malam…

Santai, rumah diriku udah biasa kok jadi shelter orang-orang kemalaman di bandara hehe

Waduuh, makasih ya kak

Seep. Sampai jumpa nanti ya

….

Pukul 12 lewat aku mengayunkan kaki dari atas kursi cafe yang telah tutup. Hanya minimarket dan satu dua coffe shop yang buka 24 jam di bandara ini. Ayah yang duduk disebelahku bertanya sedikit perihal siapa yang kali ini kami jemput. Ku jawab saja teman. Panjang ceritanya kalau ku bilang aku bahkan tidak tahu wajah yang ku jemput ini. Ku lihat layar komputer berisi jam tiba. Pesawatnya telah mendarat sekitar limabelas menit yang lalu. Beberapa orang mulai kulihat keluar dari pintu kedatangan dalam negeri. 

Drrt..

Hape ku bergetar.

“Assalamualaikum, Arum. Kakak sudah di depan”

Waalaikumsalam kak, Arum sudah keluar ini” jawabnya. Kulihat perempuan berkulit putih dengan jilbab yang berlabuh panjang melihat ke banyak arah. Ku lambaikan tangan sambil mematikan telepon. Akhwat berjumpa dengan akhwat, secara otomatis langsung merasa dekat. Kami saling melempar senyum, bersalaman seraya cipika-cipiki 3 kali sesuai sunnah rasulullah.

“Kakak sama ayah kakak, Rum. Ayah, ini Arum.” Ayah ku mengangguk. Begitu pula Arum. Ayahku sudha mengerti untuk tidak bersalama dengan bukan muhrim meski dahulu adat ketimuran jika lebih tua harus cium tangan. Kami pun berjalan menuju parkiran.

Selama diperjalanan aku hanya bertanya soal bagaimana perjalanannya. Ia mengeluhkan soal delay. Biasalah kalau naik maskapai Lain Air. Kami tertawa kecil.

Sesampai dirumah aku membiarkannya berberes dulu. Lalu membuka percakapan kembali.

“Jadi, dirimu junior dikampusnya Bang Farhan?” 

“Eh iya kak, Bang Farhan itu udah kayak keluarga sih kak. Tapi kalau dikampus hampir gak pernah jumpa.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku sedikit mengernyitkan dahi. Aku sama sekali tidak ada menaruh rasa curiga sejak awal. Karena aku tahu bang Farhan baik dan perhatian dengan banyak orang. Tapi jawaban Arum mengundangku untuk mengulik sedikit.

“Oh.. gitu, enak ya kalau orang daerah. Kalau sekampung jumpa di kota lain langsung deket kayak keluarga.” Ujarku seraya menyodorkan sajadah kepadanya untuk sholat Isya.

“Enggak kak, kampung kami beda jauh, bahkan beda provinsi.”

“Ooh, jadi kenal dari kampus aja. Yasudah Sholatlah dulu.” Jawabku membuat pernyataan sendiri lalu mengambil handphone. Mengecek berita banjir Jakarta dari twitter. Arum yang terlihat ingin menjawab mengurungkan niatnya dan sholat terlebih dahulu.

Usai Arum Sholat, sebenarnya aku sudah sangat mengantuk. Tapi kami masih mengobrol panjang perihal Lembaga dakwah kampus, organisasi islam dan kegiatan semasa dikampus. Seolah kami adalah teman lama yang baru bertemu kembali setelah sekian tahun. Jam menunjukkan setengah 3 pagi. 

“Jadi, penelitian Arum kemarin soal apa? Fisika material atau teori?”

“Ah.. Arum pendidikan kak. Bukan Ilmu murni.” Jawabnya. Eh? Aku menujukkan ekpresi kebingungan karena kata Arum sebelumnya ia dan Bang Farhan bukan kenal dari Organisasi bahkan hampir tidak pernah jumpa di Kampus.

Teng… teng.. Teng… Jam diruang keluarga berdentang 3 kali.

“Sebenarnya, Dia Calon kak.” 

Glup. Aku menelan ludah sambil menahan ekpresi wajahku setenang mungkin. Seolah aku baru saja menerima rahasia besar yang seharusnya tidak aku katakan pada siapapun. 

“Oh… gitu. Jadi gimana sebenarnya kenalnya?” Tanya ku pelan, berusaha tenang.

“Dia chat arum dari sosmed kak. Langsung ngajak nikah.” Arum sedikti tersipu malu saat mengucapkannya. Seandainya saat ini aku adalah tokoh kartun, mungin dibelakangku sudah ada bayangan diriku yang melongo hebat saking tidak percayanya. Seorang bang Farhan yang terkenal cukup religius dan tukang ngebanyol berani-beraninya ngechat anak orang langsung ngajak nikah?

“hmm… gitu. Hahaha gokil, terus-terus gimana?”

“Ya, karena Arum liat orangnya baik. Arum iyakan kak. Abang itu juga ngejaga kok kak. Komunikasinya hanya yang penting-penting saja. Sesekali tanya kabar.”

Otakku berusaha memproses dan mencerna semua rangkaian kejadian ini. Aku tidak tahu seharusnya aku bertanya kepada bang Farhan siapa sosok gadis cantik yang kujemput ini. Aku merasa bukan urusanku. Tapi karena Arum mengungkap hal ini aku jadi sedikit bingung. Aktivis dakwah, memahami betul persoalan virus merah jambu ini. Apa yang harus dia batasi dalam pergaulan sesuai syariah. Baiklah, kalau sekadar ‘gacoan’ seperti ini aku pikir tak apa. Biarkan mereka yang mengurus perasaan masing-masing. Di luar sana juga banyak fenomena akhwat ikhwan yang memegang ‘gacoan’ dari pesan-pesan di social media. Yah, tak luput aku pun juga pernah beberapa tahun yang lalu. Lalu taubat deh.

“Eh, tapi dirimu tau ga hal-hal lain tentang dia? Maksudnya apa udah coba cari…”

“Tabayyun maksudnya kak? Sudah… Arum tanya sama beberapa yang kenal dia katanya dia itu orangnya suka merhatiin orang lain lama. Terus dianya juga jujur kak kalau Arum tanya…”

Yah dia juga gak punya alas an buat berbohong kan? “Misalnya?”

“Yah, Arum tau dia merokok kak. Terus katanya dia sedang coba berhenti merokok. Dan dia bilang nikahnya ditunda juga sampai dia berhenti merokok.”

“hahahaha, kok gitu sih. Kalau dia gak berhenti-berhenti gimana?”

“Yah sekarangkan dia lagi berusaha kak, emang di kantor dia masih sering merokok ya kak?”

“Yah… diriku gak terlalu memperhatikan sih, kalau ditanya dia masih ya masih.”

“Ibunya juga bilang kalau mau nikah posisiku stabil dulu kak. Aku kan masih belum jelas ingin kerja dimana. Makanya aku tanya sama kakak tadi pas dimobil, di kantor kakak enak ga? Gitu”

“Oh, kalau dikantor juga ada yang sesama karyawan menikah. Kecuali orang keuangan sih ga boleh heheh. Takut kongkalikong kan. Jadi dirimu udah jumpa Ibunya, dimana?” jawabku sambil bertanya kembali tanpa mengalihkan topik.

“Kemarin Ibunya ada acara seminar disini kak. Trus diajak Bang Farhan ‘yuk jumpa ibuk’ gitu. Jadi Arum dijemput dan jumpa di acara ibunya.”

“Oh.. dibonceng?” Nada suaraku sedikit berbeda.

“Iya kak, biasanya dia yang jemput kalau arum baru dari kampung. Harusnya pun hari ini dia yang jemput kak. Tapi dia masih di kampung. Besok pagi baru balik. Jadi Arum tanya juga jadi gimana. Ya karena sudah kayak keluarga jadi kalau soal begini Arum bilang sama Bang Farhan. Terus kata bang Farhan dia mau minta tolong sama temen kantornya. Arum ragu kak, takutnya cowok. Ya Kakak ngerti kan kita agak gimana kalau sama laki-laki….”

“Hm…” aku hanya menggumam menunggunya melanjutkan cerita. Yaelah kalau bang Farhan yang jemput dia juga laki-laki.

“Udah dari kemarin bilangnya kak, terus siang tadi Arum pastiin lagi temennya cewek atau cowok. Baru dijawabnya cewek. Eh rupanya kak Opi mau bantu, Alhamdulillah.”

“Oh jadi gitu… hahaha. Iya sih, Diriku kalau bantu orang ga pake nanya-nanya soalnya. Kalau bisa ku bantu langsung ya aku okekan.” Jawabku. “eh, by the way asik juga nih kalau aku sebarin di kantor buat bahan gosip hihihi.” Ujarku bercanda dengan mata yang semakin mengantuk.

“Yah, janganlah kak, kan belum pasti juga. Walau udah komitmen tetap Allah yang ngatur kak…”

“Iya, iya, becanda doang kok. Hehe”

Lalu keheningan panjang tercipta beberapa lama.

“Kakak ga ngantuk?” Tanya Arum

“Ngantuk! Udah dari tadi tapi karena ceritanya seru jadi aku pertahankan hahaha. Yasudah Diriku tidur ya. Kalau mau matiin lampu matiin aja. Aku sih biasanya engga.”

Aku pun menutup mata, membaca doa tidur dan merapalkan 3 surah yang diminta untuk dibaca sebelum tidur. Sayup-sayup aku dengar dia masih mengetik lewat ponselnya. Lalu aku tertidur sampai adzan shubuh terdengar.

“kak bangun kak, shubuh.” Kata Arum dengan sedikit mengguncang bahu ku.

“Aduh rum, kakak gak sholat. Arum ke kamar mandi lah. Ayah kakak sudah keluar kok ke masjid tuh.” Jawabku dengan mata setengah terpejam namun ku paksakan untuk duduk. Tidak boleh tidur ketika adzan berkumandang. Nanti jenazahnya berat kata ustadz.

Aku memperhatikan Arum, jilbabnya jauh lebih panjang dari ku. Perangainya lembut, baik dan cantik dimataku. Aku baru mengenalnya, aku tidak berani menghakiminya. Aku sedang berlajar keras untuk tidak mudah menghakimi orang lain.

Pukul 7 pagi, Arum bersiap-siap untuk kembali pergi. Perjalanan dia masih panjang. Aku mengantarnya sampai kedepan pintu rumah usai dia menyalam ibuku yang sedikti sedih Karena Arum tidak sempat sarapan bersama kami. Dia naik mobil yang sudah dipesan online. Kami bersalaman, cipika-cipiki dan mengucapkan salam berharap semoga bertemu lagi. Ku lambaikan tangan sambil tersenyum.

Sepertinya, akan ada yang berhutang penjelasan kepadaku. Bang Farhan.

Biram Belantara

bukan karhutla riau.

Hening menyesap menghisap asap
Menarik satu nafas terasa menghabiskan setengah abad

Melirik ke kanan dan ke kiri
mencari jawaban sama tak pasti

Kemana harus mengadu
Siapa yang sedang di adu

Bukan anak adam hawa saja yang tersiksa
Yang di selamatkan Nabi Nuh pun menjadi tuna wisma

Diatas kuasa masih ada harta
Siapa yang kaya dan berkuasa
Tentu dia menjadi prioritas utama
Siapa kita?

Rakyat jelata sudah,
Suara-suara hanya jadi sampah,
Buih-buih sebentar lagi akan rata

Sudah kubilang, tak usah mendamba.

-16 September, duduk diam berpikir tanpa akhir solusi.
M.A.

Tags