Perasaan Suka

Sejak dulu, sejak mengenal rasa kepada gender lain

Yang mana kutemukan dalam novel dan komik
Lalu memahami ada hubungan perasaan yang tak main-main
Atau, sekedar pelampiasan rutinitas pelajar yang pelik


Dan sejak pertama kali menyadari itu
Aku menyukai rasa suka yang menyukai lebih dulu

Aku menyukai sensasi rasa saat menyukai seseorang
Merebut perhatiannya dengan berbagai upaya terasa menantang
Saat ia sudah mulai memberi perhatian
Ini menjadi membosankan
Sepertinya, inilah kejahatan yang kulakukan berkepanjangan

Karena tujuanku hanya sekedar suka, tak ingin ada komitmen ala anak muda

2011, aku masih memakai seragam abu-abu saat itu
Dan masih melakukan aksi menyukai dengan jitu
Lalu aku bertemu denganmu yang sejak pertama tak pernah dan takkan menjadi targetku

Tahun itu... pertama kalinya aku merasakan disukai oleh seseorang dengan penuh perhatian
Disuguhi candaan dan obrolan yang melenakan
Pertama kali merasa disukai dengan terbuka
Bukan hanya kode belaka seperti yang dilakukan lelaki lain diluar sana
Berharap aku paham dan berpaling memandang wajahnya
Atau yang random 'nembak' tanpa prolog pembuka
Hahahahaha.

2018 akhir, kali pertama mengalami patah hati
Tatkala disahut apa aku layak untuk diperjuangkan
Diperjalanan saat akan melakukan survey penelitian
Aku tercekat dan spontan memberi jawaban

Kuputuskan hubungan sejauh yang kubisa.

Tahun berlalu dan aku tak lagi mencari target orang yang disuka. Semua teman sama rata. Kode-kode belaka membuatku kembali tertawa. Berkata mereka hanya bercanda. Kukata juga, "Aku berkaca, aku tidak cantik dan mempesona. Mana mungkin serius suka?"

Kepercayaan diriku turun drastis.
Seiring hati berusaha memaafkan sikapku yang egois
Teman-teman menyuruh memulai dengan membuka kembali blokiran
Sehingga sesekali bisa kulihat di linimasa dan bersyukur dia sedang baik-baik saja

2020, ada yang membuatku penasaran lebih ke soal pekerjaan
Dan aku melakukan pendekatan sebagai teman
Kukatakan juga dengan jangan sampai terlibat perasaan, kasihan

2021, sepertinya aku terjebak dengan karma.

Aku tak tahu bagaimana harus memberi jawaban atau kepastian.

Oh Tuhan, hamba mohon dimaafkan atas segala kelakuan dimasa silam yang mempermainkan perasaan lain insan.

Oh Tuhan, hamba tak ingin lagi membiarkan seseorang larut dalam kebaperan dan kubiarkan mengambang sehingga terlihat seperti aku yang tak punya perasaan.

Noted: Kenapa hanya menggunakan kata 'suka' bukan 'cinta'? Karena bagiku cinta itu sangat teramat sakral. Cinta dimana kita mau berkorban dan kadang harus mengikhlaskan. Cinta terhebat yang kumiliki masih kepada kedua orangtua dan saudara. Dan baru akan ku buat ruang baru untuk Cinta, (karena yg sebelumnya takkan kubagi-bagi) saat arsy terguncang oleh ucapan insan yang mengikat janji kepada Tuhan.

Kepada Perokok

 Sejak dulu, sampai saat ini

Aku tak menyukai bau para perokok

Tak bisa, tatkala ku coba jauhi

Kuperingati, abai ucapan ku bak ayam berkokok 


Berat. Amat berat sekali.

Memikirkan masa depan?

Aku saja berpikir dua tiga kali untuk menjadikan mereka teman

Apalagi jadi pasangan 


Tak siap tak ingin tak mau 


Mending memeluk dan mencium aroma keringat sebagai bukti ia bekerja keras diluar sana 


Bukan malah menyambut sambil mengernyitkan dahi tatkala mencium aroma sengit nikotin yg khas sekali 


Lihat, katanya.

Diluar sana banyak yang hidup berumur panjang dan sehat-sehat saja 


Hey sialan, aku yang jadi penyakitan. 


Kalau beruntung berumur panjang, terkena kanker berkepanjangan. Mampus, tak mendengar ocehan perempuan. 


Kan belum terjadi, katanya.

Hari ini aku masih butuh sebat untuk berpikir, bersosialisasi dan bekerja. 


Hey, ah aku sudah tak tega lagi memaki

Jadi silahkan para perokok tetap berjalan mengasap dengan kepercayaan diri 


Hanya saja, tak ada ruang untukmu untuk kita bertemu berkepanjangan dikemudian hari.


Dewa(sa)

Kukatakan disini wahai sesama buronan

dari pelarian sebuah perasaan

yang berkhianat dan terkhianati?



Diksi yang kita pilih seringkali menyatu padu

seolah menjadi pembenaran bahwa

kita ditakdirkan untuk disatukan


Aku yakin pertemuan kita bukan kebetulan,

Ini hanya perantara untuk saling berkaca

dari salah satu ego manusia


Sanubariku memberontak

akan penolakan-penolakan yang kulakukan


Semua perasaan ini hanyalah...

buatan dari insan-insan kesepian


Insan yang hanya menipu dan memburu nafsu

Niat tulus yang dibangun telah hancur sejak jejak pertama ujub terkuak


Bukan dari diri yang dari niat, sudah diperbaiki dan terus memperbaiki

Mencari pasangan hidup sejati sebagai pemenuhan janji Illahi




Jam 3 Pagi

-laki-laki boleh memilih, perempuan berhak memutuskan.


Sore itu seperti kaum rebahan lainnya, aku bersama kucing-kucingku menikmati sore dengan menonton televisi sambil berbaring. Televisi memutar film sementara mataku malah mengarah ke layar ponsel dengan jariku menyeret layar. Membaca salah satu postingan di aplikasi Quora. 

 




Wah, informasi ini menarik juga, pikirku.

“Drrrt..drrt…” Ponselku bergetar ditanganku. Kaget. Pikiran-pikiranku sejenak buyar, semakin buyar saat mengetahui siapa yang menelpon. ‘Bang Farhan’ tertera dilayar ponselku. Sebelum mengangkat aku mengira-ngira, ada apa? Sepertinya tidak ada urusan dengannya akhir-akhir ini. Ku angkat;

“Halo, Assal..”

“Assalamualaikum, Opii ehehe” suara dengan intonasi sedikit menggangu dari seberang sana memotong salamku. Yah, aku terbiasa mengucap salam lebih dulu. Memang sudah seharusnya yang menelepon yang mengucapkan salam, bukan? 

“Waalaikumussalam, ada apa bang?”

“Lagi dimana Opi? Astagaaa rindunya aku samamu, hehehe” 

“Lagi dirumah. Kenapa sih?” Inilah aku sebalnya kalau menerima telepon dari laki-laki. Aku tidak suka pembicaraan yang aku tidak tahu arahnya. Kalau via aplikasi chatting, aku masih bisa berpikir lebih baik untuk menyusun kata-kata. Apalagi dengan Bang Farhan, aku sedikit risih dengan sikapnya akhir-akhir ini.

“Ngapain? Sama kucing-kucing? Apa sama… suami?” ucap suara di seberang dengan nada bercanda. Kalau dia didepanku ingin rasanya ku lempar biji nangka didepannya. Aku hanya mengeluarkan suara mendesis tak ingin menjawab pertanyaan konyolnya.

“Apa kabar Opi? Abang mau minta tolong nya ini, hehehe.” 

“Langsung aja ke minta tolongnya bisa? Kalau kabarku gak baik gak mungkin daku angkat telepon ini, bang.” Ujarku.

“Yaaa kok gitu. Gini, ada temen ku, junior di kampus sih. cewek. Pesawatnya delay, kayaknya bakal sampai tengah malam. Boleh minta tolong jemputkan dan bermalam di tempat Opi dulu?”

“Oh, boleh.” Jawabku cepat. Kalau urusan menolong orang memang cepat sekali aku iyakan. Bahkan sering kali prioritasku bergeser kalau ada yang meminta tolong. “Kira-kira sampai jam berapa?” lanjutku.

“Jam 12 Malam, Opi bayangin coba cewek, tengah malam sampai bandara, gimana?” Berusaha meyakinkanku untuk menolong temannya. Tidak usah di tekankan seperti itu aku juga paham.

“Yaudah, kasih aja nomer Opi sama dia bang.”

“Bener nih gak apa-apa? Besok paginya dia langsung pergi kok. Opi bisa keluar malem-malem rupanya?” 

“Bisa, Insya Allah. Kan deket. Paling Opi keluar sama Ayah.”

“Oke, nanti abang kirim nomer dia ya. Makasih sebelumnya”

“Sip. Anytime bang. Assalamualaikum.” Jawabku sambil langsung mengkahiri percakapan.

“Yaaampun segitunya, iya iya, Waalaikumsalam.” Telepon kami pun berakhir.

Tak lama masuk pesan whatsapp berisi kontak seseorang.

Widya Arum. 

“Widiw. Namanya cantik.” Gumamku. Kulihat dia mencantumkan gambar langit sebagai foto profil whatsappnya. Sejenak aku menebak-nebak orang seperti apa yang akan aku jemput. Sebagai tipikal orang yang cukup absurd, aku sangat welcome pada setiap orang baru. Yah, meski baru beberapa tahun terakhir ini sih.

……

Ting!
Pesan masuk dari Arum.

Assalamualaikum kak, ini Arum.


Waalaikumussalam, udah masuk pesawat?

Alhamdulillah udah kak


Kira-kira sampai jam berapa?

Sekitar satu jam setengah kak

Oke ntar kabarin aja kalau udah landing


Makasih kak, maaf ngerepotin. Baru kali ini sampai tengah malam…

Santai, rumah diriku udah biasa kok jadi shelter orang-orang kemalaman di bandara hehe

Waduuh, makasih ya kak

Seep. Sampai jumpa nanti ya

….

Pukul 12 lewat aku mengayunkan kaki dari atas kursi cafe yang telah tutup. Hanya minimarket dan satu dua coffe shop yang buka 24 jam di bandara ini. Ayah yang duduk disebelahku bertanya sedikit perihal siapa yang kali ini kami jemput. Ku jawab saja teman. Panjang ceritanya kalau ku bilang aku bahkan tidak tahu wajah yang ku jemput ini. Ku lihat layar komputer berisi jam tiba. Pesawatnya telah mendarat sekitar limabelas menit yang lalu. Beberapa orang mulai kulihat keluar dari pintu kedatangan dalam negeri. 

Drrt..

Hape ku bergetar.

“Assalamualaikum, Arum. Kakak sudah di depan”

Waalaikumsalam kak, Arum sudah keluar ini” jawabnya. Kulihat perempuan berkulit putih dengan jilbab yang berlabuh panjang melihat ke banyak arah. Ku lambaikan tangan sambil mematikan telepon. Akhwat berjumpa dengan akhwat, secara otomatis langsung merasa dekat. Kami saling melempar senyum, bersalaman seraya cipika-cipiki 3 kali sesuai sunnah rasulullah.

“Kakak sama ayah kakak, Rum. Ayah, ini Arum.” Ayah ku mengangguk. Begitu pula Arum. Ayahku sudha mengerti untuk tidak bersalama dengan bukan muhrim meski dahulu adat ketimuran jika lebih tua harus cium tangan. Kami pun berjalan menuju parkiran.

Selama diperjalanan aku hanya bertanya soal bagaimana perjalanannya. Ia mengeluhkan soal delay. Biasalah kalau naik maskapai Lain Air. Kami tertawa kecil.

Sesampai dirumah aku membiarkannya berberes dulu. Lalu membuka percakapan kembali.

“Jadi, dirimu junior dikampusnya Bang Farhan?” 

“Eh iya kak, Bang Farhan itu udah kayak keluarga sih kak. Tapi kalau dikampus hampir gak pernah jumpa.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku sedikit mengernyitkan dahi. Aku sama sekali tidak ada menaruh rasa curiga sejak awal. Karena aku tahu bang Farhan baik dan perhatian dengan banyak orang. Tapi jawaban Arum mengundangku untuk mengulik sedikit.

“Oh.. gitu, enak ya kalau orang daerah. Kalau sekampung jumpa di kota lain langsung deket kayak keluarga.” Ujarku seraya menyodorkan sajadah kepadanya untuk sholat Isya.

“Enggak kak, kampung kami beda jauh, bahkan beda provinsi.”

“Ooh, jadi kenal dari kampus aja. Yasudah Sholatlah dulu.” Jawabku membuat pernyataan sendiri lalu mengambil handphone. Mengecek berita banjir Jakarta dari twitter. Arum yang terlihat ingin menjawab mengurungkan niatnya dan sholat terlebih dahulu.

Usai Arum Sholat, sebenarnya aku sudah sangat mengantuk. Tapi kami masih mengobrol panjang perihal Lembaga dakwah kampus, organisasi islam dan kegiatan semasa dikampus. Seolah kami adalah teman lama yang baru bertemu kembali setelah sekian tahun. Jam menunjukkan setengah 3 pagi. 

“Jadi, penelitian Arum kemarin soal apa? Fisika material atau teori?”

“Ah.. Arum pendidikan kak. Bukan Ilmu murni.” Jawabnya. Eh? Aku menujukkan ekpresi kebingungan karena kata Arum sebelumnya ia dan Bang Farhan bukan kenal dari Organisasi bahkan hampir tidak pernah jumpa di Kampus.

Teng… teng.. Teng… Jam diruang keluarga berdentang 3 kali.

“Sebenarnya, Dia Calon kak.” 

Glup. Aku menelan ludah sambil menahan ekpresi wajahku setenang mungkin. Seolah aku baru saja menerima rahasia besar yang seharusnya tidak aku katakan pada siapapun. 

“Oh… gitu. Jadi gimana sebenarnya kenalnya?” Tanya ku pelan, berusaha tenang.

“Dia chat arum dari sosmed kak. Langsung ngajak nikah.” Arum sedikti tersipu malu saat mengucapkannya. Seandainya saat ini aku adalah tokoh kartun, mungin dibelakangku sudah ada bayangan diriku yang melongo hebat saking tidak percayanya. Seorang bang Farhan yang terkenal cukup religius dan tukang ngebanyol berani-beraninya ngechat anak orang langsung ngajak nikah?

“hmm… gitu. Hahaha gokil, terus-terus gimana?”

“Ya, karena Arum liat orangnya baik. Arum iyakan kak. Abang itu juga ngejaga kok kak. Komunikasinya hanya yang penting-penting saja. Sesekali tanya kabar.”

Otakku berusaha memproses dan mencerna semua rangkaian kejadian ini. Aku tidak tahu seharusnya aku bertanya kepada bang Farhan siapa sosok gadis cantik yang kujemput ini. Aku merasa bukan urusanku. Tapi karena Arum mengungkap hal ini aku jadi sedikit bingung. Aktivis dakwah, memahami betul persoalan virus merah jambu ini. Apa yang harus dia batasi dalam pergaulan sesuai syariah. Baiklah, kalau sekadar ‘gacoan’ seperti ini aku pikir tak apa. Biarkan mereka yang mengurus perasaan masing-masing. Di luar sana juga banyak fenomena akhwat ikhwan yang memegang ‘gacoan’ dari pesan-pesan di social media. Yah, tak luput aku pun juga pernah beberapa tahun yang lalu. Lalu taubat deh.

“Eh, tapi dirimu tau ga hal-hal lain tentang dia? Maksudnya apa udah coba cari…”

“Tabayyun maksudnya kak? Sudah… Arum tanya sama beberapa yang kenal dia katanya dia itu orangnya suka merhatiin orang lain lama. Terus dianya juga jujur kak kalau Arum tanya…”

Yah dia juga gak punya alas an buat berbohong kan? “Misalnya?”

“Yah, Arum tau dia merokok kak. Terus katanya dia sedang coba berhenti merokok. Dan dia bilang nikahnya ditunda juga sampai dia berhenti merokok.”

“hahahaha, kok gitu sih. Kalau dia gak berhenti-berhenti gimana?”

“Yah sekarangkan dia lagi berusaha kak, emang di kantor dia masih sering merokok ya kak?”

“Yah… diriku gak terlalu memperhatikan sih, kalau ditanya dia masih ya masih.”

“Ibunya juga bilang kalau mau nikah posisiku stabil dulu kak. Aku kan masih belum jelas ingin kerja dimana. Makanya aku tanya sama kakak tadi pas dimobil, di kantor kakak enak ga? Gitu”

“Oh, kalau dikantor juga ada yang sesama karyawan menikah. Kecuali orang keuangan sih ga boleh heheh. Takut kongkalikong kan. Jadi dirimu udah jumpa Ibunya, dimana?” jawabku sambil bertanya kembali tanpa mengalihkan topik.

“Kemarin Ibunya ada acara seminar disini kak. Trus diajak Bang Farhan ‘yuk jumpa ibuk’ gitu. Jadi Arum dijemput dan jumpa di acara ibunya.”

“Oh.. dibonceng?” Nada suaraku sedikit berbeda.

“Iya kak, biasanya dia yang jemput kalau arum baru dari kampung. Harusnya pun hari ini dia yang jemput kak. Tapi dia masih di kampung. Besok pagi baru balik. Jadi Arum tanya juga jadi gimana. Ya karena sudah kayak keluarga jadi kalau soal begini Arum bilang sama Bang Farhan. Terus kata bang Farhan dia mau minta tolong sama temen kantornya. Arum ragu kak, takutnya cowok. Ya Kakak ngerti kan kita agak gimana kalau sama laki-laki….”

“Hm…” aku hanya menggumam menunggunya melanjutkan cerita. Yaelah kalau bang Farhan yang jemput dia juga laki-laki.

“Udah dari kemarin bilangnya kak, terus siang tadi Arum pastiin lagi temennya cewek atau cowok. Baru dijawabnya cewek. Eh rupanya kak Opi mau bantu, Alhamdulillah.”

“Oh jadi gitu… hahaha. Iya sih, Diriku kalau bantu orang ga pake nanya-nanya soalnya. Kalau bisa ku bantu langsung ya aku okekan.” Jawabku. “eh, by the way asik juga nih kalau aku sebarin di kantor buat bahan gosip hihihi.” Ujarku bercanda dengan mata yang semakin mengantuk.

“Yah, janganlah kak, kan belum pasti juga. Walau udah komitmen tetap Allah yang ngatur kak…”

“Iya, iya, becanda doang kok. Hehe”

Lalu keheningan panjang tercipta beberapa lama.

“Kakak ga ngantuk?” Tanya Arum

“Ngantuk! Udah dari tadi tapi karena ceritanya seru jadi aku pertahankan hahaha. Yasudah Diriku tidur ya. Kalau mau matiin lampu matiin aja. Aku sih biasanya engga.”

Aku pun menutup mata, membaca doa tidur dan merapalkan 3 surah yang diminta untuk dibaca sebelum tidur. Sayup-sayup aku dengar dia masih mengetik lewat ponselnya. Lalu aku tertidur sampai adzan shubuh terdengar.

“kak bangun kak, shubuh.” Kata Arum dengan sedikit mengguncang bahu ku.

“Aduh rum, kakak gak sholat. Arum ke kamar mandi lah. Ayah kakak sudah keluar kok ke masjid tuh.” Jawabku dengan mata setengah terpejam namun ku paksakan untuk duduk. Tidak boleh tidur ketika adzan berkumandang. Nanti jenazahnya berat kata ustadz.

Aku memperhatikan Arum, jilbabnya jauh lebih panjang dari ku. Perangainya lembut, baik dan cantik dimataku. Aku baru mengenalnya, aku tidak berani menghakiminya. Aku sedang berlajar keras untuk tidak mudah menghakimi orang lain.

Pukul 7 pagi, Arum bersiap-siap untuk kembali pergi. Perjalanan dia masih panjang. Aku mengantarnya sampai kedepan pintu rumah usai dia menyalam ibuku yang sedikti sedih Karena Arum tidak sempat sarapan bersama kami. Dia naik mobil yang sudah dipesan online. Kami bersalaman, cipika-cipiki dan mengucapkan salam berharap semoga bertemu lagi. Ku lambaikan tangan sambil tersenyum.

Sepertinya, akan ada yang berhutang penjelasan kepadaku. Bang Farhan.

Biram Belantara

bukan karhutla riau.

Hening menyesap menghisap asap
Menarik satu nafas terasa menghabiskan setengah abad

Melirik ke kanan dan ke kiri
mencari jawaban sama tak pasti

Kemana harus mengadu
Siapa yang sedang di adu

Bukan anak adam hawa saja yang tersiksa
Yang di selamatkan Nabi Nuh pun menjadi tuna wisma

Diatas kuasa masih ada harta
Siapa yang kaya dan berkuasa
Tentu dia menjadi prioritas utama
Siapa kita?

Rakyat jelata sudah,
Suara-suara hanya jadi sampah,
Buih-buih sebentar lagi akan rata

Sudah kubilang, tak usah mendamba.

-16 September, duduk diam berpikir tanpa akhir solusi.
M.A.

Aku Tidak Suka Dia

“Aku tidak suka dia” akhirnya kata itu tebal terpatri dalam pikiran ku. Bukan berarti benci, hanya saja pribadinya aku tidak suka dan memutuskan untuk tidak berususan dengan orang sepertinya. Sejak awal aku suah melihat pribadi seenaknya dari dirinya. Tentu aku memahami hal itu Karena aku pun tipe orang yang cukup sering bertindak seenaknya, memotong pembicaraan orang lain, menyanggah ide-ide orang, merasa diri paling baik memberi kritik. 


Sampai aku menemukan sosok itu di diri oranglain. Astaga, sungguh menyebalkan.

Dulu, akupun juga begitu. Sifat extrovert ku yang meluber kemana-mana membuat aku cuek pada pandangan sekitar. Aku benar, aku benar, aku benar terus mengakar dalam hati tanpa ada keraguan sedikitpun. Sulit sekali menembus pertahanan ke egoan ku. Hanya beberapa orang yang mampu menyentuh halus kadang-kadang menyadarkan ku. Ku tegaskan, kadang-kadang.

Lagi, Sampai aku menemukan sosok itu di diri oranglain. Astaga, sungguh menyebalkan.

Umurnya lebih muda dari ku, sejak awal aku berusaha memahaminya. Memandangnya dengan pikiran yang sangat amat positif. Tak ada pikiran jelek ku untuk tidak menyukai dan menyingkirkan nya dari kehidupan ku. Namun, lambat laun setiap aku berbicara dia memotong dengan cara mematahkan omongan ku, membuat jangankan aku, oranglain pun jadi tak punya celah untuk menanggapi ku. Ya, dia selalu melakukan hal ini di dalam kelompok besar. Saat aku sedang menganggarkan ego ku, dia muncul dengan wajah polos namun mengeluarkan aura kebencian terhadapku. Sungguh aku tak tau kenapa. 

Pertemuan pertama. Lalu saat kedua, dia seolah-olah menjauh, tak mau dekat-dekat dengan ku seperti aku ini bangkai busuk yang kalau terlalu lama di dekatku akan menularkan penyakit. Dan hanya dia yang melakukannya. Oh astaga, ingin ku cengkram kedua belah bibirnya dan ku paksa ia mengeluarkan kata-kata di dalam kepalanya tentnag alas an sikapnya begitu padaku. Sejauh ini, aku melihatnya hanya menyerangku yang berusaha naik dan menjadi pusat perhatian di kelompok besar. 

Masalahnya, sejak awal aku memang sudah istimewa dibanding yang lain. Dibanding dia.

Kenapa harus ada orang semunafik itu di dunia ini? Apakah aku dulu juga begitu?

Tapi tentu tak apa-apa. Aku justru berterimakasih kepada Tuhan yang mempertemukan cerminan diriku dimasalalu. Membuatku semakin banyak belajar bagaimana seharusnya hidup bermasyarakat. 

PR ku sekarang hanya satu, bagaimana mengatasi manusia itu selama aku masih harus berinteraksi dengannya?

“Aku tidak suka dia”, “Aku memang tidak suka dia” untuk sementara ini saja yang ku tebalkan dalam dalam di pikiranku, agar aku tak sakit hati bila tingkahnya yang berusaha menyakiti itu menyerangku.

Badai

"Kanya, mari menari bersama ku di bawah rintik hujan." Ujar Gemal yang sedang merentangkan tangannya menengadah ke atas. Kanya mendekatinya, turut hadir dibawah titik-titik air yang jatuh dengan lembut dan rapat.
"Kau tau kan aku tak terlalu suka hal remeh seperti ini, Gemal. Apalah artinya menikmati air yang tak dapat utuh membasahimu. Tipis dan halus, rintik ini terlalu menggelikan."
"Nikmati mereka, Kanya. Rasakan aliran yang menenangkan hatimu."
"Aku tak butuh ketenangan, aku butuh badai yang melenyapkan kegundahan, Gemal."

"Gemal, ada opentrip nih ke air terjun! ayo kita ikut, aku tak sabar bermain dengan derasnya air!" Kanya mendekati Gemal yang sedang merapikan catatan kuliahnya di perpustakaan sambil menunjukkan layar smartphone-nya.
"Bukannya kita berencana kesana saat libur lebaran nanti? bersama Lili dan Nova, Kanya?" Tanya Gemal mengingat rencana mereka berempat beberapa waktu lalu.
"Ah, Lili masih ragu katanya. Dia mau lebih lama di kampung! Sedangkan Nova pasti susah izin sama Bram, Pacar posesifnya itu! Ayolah, kita saja yang pergi."
"Tak masalah sih, tapi nanti sajalah seusai lebaran. Mana tau ternyata Lili dan Nova bisa kan?"
"Yang libur lebaran lain cerita, pokoknya aku mau ikut yang opentrip ini!"
"Yasudah, pergi saja. Aku lagi unmood ngetrip!"
"Yaaah Gemal, disini syaratnya harus bawa motor sendiri. Ayolah Gemal..." Kanya berusaha membujuk. Gadis penyuka tantangan ini bersikeras agar Gemal mau menemaninya. "Lagipula... kalau kita sudah tau lokasinya, kan nanti kita bisa lebih mudah membujuk Lili dan Nova untuk kesana juga. Mereka pasti sor kalau lihat pemandangannya."
"Aaaah... Iya, iya. Kapan itu perginya?" Akhirnya Gemal menyerah. Ia sudah hafal betul sifat keras kepala sahabat sejak SD nya ini.
"Hari minggu, jam 9 sudah di Ringroad! jemput aku dari kos ya? Daaagh Gemal, aku latihan dulu!" Kanya langsung pergi bahkan tidak mengucapkan terimakasih ke Gemal. Ia langsung berlari menuju gelanggang yang tak jauh dari perpustakaan. Sementara Gemal hanya mendecak kesal dengan tingkah pola Kanya yang suka seenaknya.

Hari minggu, Gemal bersama Kanya di boncengan belakangnya sudah menyusuri jalan lintas daerah yang menuju ke salah satu ikon wisata yang ramai di bicarakan di media sosial. Rombongan bersama orang-orang baru dikenal, Kanya dan Gemal mudah berbaur dengan mereka saat istirahat di perjalanan. Tak sampai menghabiskan waktu setengah hari, rombongan mereka sudah sampai di lokasi air terjun.

Kanya langsung melepas tasnya dan berlari membawa actioncam nya menuju air terjun. Derasnya air yang jatuh tanpa segan menimpa seluruh tubuh Kanya. Kanya berteriak,
"Gemaaal!! ini yang namanya air jatuh, bukan gerimis yang sering kau elu-elukaaaaan!! Hahaha!" Tawa  renyah Kanya walau disamarkan derasnya air namun masih bisa di dengar Gemal. "Ayoooo kemari Gemaaal, tengadahkan tangan mu disini seperti yang biasa kau lakukan!" Gemal pun yang memang menyukai air segera mendekati Kanya. Menengadahkan tangannya, merasakan beban berat yang dihujamkan air pada permukaan telapak tangannya.
"Apa yang kau suka dari air yang berat ini, Kanyaa?!" Jerit Gemal mengimbangi derasnya air.
"Air deras akan membawaku pergi! menghilangkan segalanya!"Balas Kanya dengan sedikit memekik. Bersama, mereka menikmati derasnya air.

"Hooooiii gerimis, naik semua naiiik.."Teriak pemimpin opentrip bersama orang setempat memperingati para pengunjung. Tanpa ba,bi,bu, Gemal segera menarik Kanya yang susah dibilangin kalau sudah asik. Kalau sudah di cengkram keras, Kanya tak bisa memberontak. Hanya ocehannya yang masih terdengar. "Aaah, Gemal! apa salahnya kita bersama merasakan air yang kita sukai. aku menyukai air deras, dan kau menyukai rintik yang lem...."

"Air Baaah!"

Gemal masih mencengkram tangan Kanya dengan erat di tengah derasnya air yang membawa mereka. Gemal berusaha menggapai-gapai tubuh Kanya untuk mendekapnya. Memastikan agar Kanya tidak hilang dari jangkauannya namun tak bisa. Matanya tak lagi dapat dibuka, ia hanya masih merasakan tangan nya menggemggam erat tangan Kanya. Tangan satunya lagi yang bebas berusaha menggapai-gapai pinggiran sungai yang beberapa kali ia rasakan saat punggungnya terbentur ke pinggiran. Sekali lonjakan besar, Gemal dapat melihat ada celah yang cukup besar. tanpa pikir panjang, ia memaksakan tubuhnya untuk menjangkau celah itu. Berhasil, ia pun bisa mengangkat tubuh Kanya yang ringan ke dalam celah. Celah itu hanya bisa seluas setelapak kaki. Mereka tak bisa mundur lagi. Bagi Gemal, yang penting ia masih bisa melihat sosok Kanya seutuhnya lagi.

"Kanya, Kaan, Kau sadar kan?!" Kata Gemal dengan keras karena air masih mengalir deras dan hujan mulai membentuk badai. Gemal tak berani bergerak, sedikit saja terpeleset, tenaganya sudah tidak ada lagi untuk bertahan.
"ah... ya Gemal. Sepertinya lengan kananku terbentur batu. Sekarang mati rasa... Terimakasih ya Gemal, untuk tidak melepaskan tanganku." Kanya membalas dengan suara parau.
"Aku takkan pernah melepaskan tanganmu Kanya. Takkan pernah." Kanya tersenyum tipis mendengar jawaban Gemal.

Mereka masih menunggu adanya pertolongan datang. Sementara air belum mengurangi kecepatan. Tak ada lagi percakapan yang terjadi demi menghemat tenaga yang tersisa. 4 jam berlalu, belum ada tanda-tanda ini akan segera selesai.

"Gemal..."Kanya mengusik Gemal yang telihat lemas sambil sebelah tangannya yang lain mencengkram akar-akar pohon. "Gemaal!" usik Kanya sambil sedikit menyentak tangannya yang sedang di cengkram Gemal.

"Auh!" Gemal tersadar.
"Eh? Ada apa, Gemal? apa tanganmu sakit?"Tanya Kanya khawatir setelah mendengar reaksi temannya barusan.
"Iya, Nya. sepertinya pergelangan tangan ku keseleo saat menahan mu selama di air tadi."
"Kita tuker posisi saja, Mal. Aku takut karena tangan mu sakit nanti aku terlepas dari cengkaramanmu." Ujar Kanya sedikit gemetar. Ia mulai dirubungi rasa takut bila terlepas dari Gemal. Gemal berpikir sejenak. Tangannya memang sakit, tapi terllau beresiko jika mereka harus bertukar posisi di celah kecil ini. Sementara aliran air belum juga berdamai.
"Jangan, Nya. Lebih bahaya kalau kita tukar posisi. Percaya padaku, aku masih kuat. Bila kau sedikit tak yakin, lilitkan tanganmu ke akar pohon sebelahmu itu."

Kanya segera melilitkan jemari tangannya ke akar pohon sesuai anjuran Gemal. Dan mereka kembali menunggu beberapa jam kedepan. Langit mulai menggelap. Rintik halus masih setia membelai udara. Aliran sudah tak seganas tadi. Tapi terlihat masih cukup kencang. Dari kejauhan, ada lampu-lampu sorot yang bergerak acak.

"Nya, Kanya! itu ada yang datang." Sentak Gemal ke Kanya yang sedikit mengantuk karena lelah. Energi Kanya terasa terkumpul kembali saat mendengar penyelamat datang. Ia bergerak sedikit lebih aktif, terlihat berusaha berteriak namun suaranya tak keluar.
"Nya?" Tanya Gemal. Kanya hanya membuat gerakan-gerakan mulut yang sulit di baca Gemal karena pandangannya mulai kabur. Sementara Kanya terus bergerak untuk memberi isyarat pada Gemal untuk berteriak.

"Ya, Kanya. Sabarlah, mereka akan segera kemari." Kanya mengangguk pelan. Sangat pelan.

Saat rakit penyelamat lewat, Gemal langsung mengikis batu dari pinggiran dinding celah untuk meriakkan air yang terlihat mulai rata tapi alirannya masih deras. "Ada yang selamat! Ada yang selamat!" teriak seseorang dari atas rakit kala mendengar riak kecil dari arah Gemal dan Kanya. Sementara Kanya sudah mulai lemas langsung di serahkan Gemal ke tim penyelamat. Karena badan Gemal sedikit lebih berat, sehingga dengan berat hati sementar ia harus di tinggal dan tim penyelamat akan kembali lagi. Kanya yang lemas tak bisa memberontak seperti biasa. Sorot matanya menyiratkan rasa takut dan khawatir teramat dalam ketika harus meninggalkan Gemal. Gemal tersenyum dan berbisik lembut, "Tak apa, badai yang kau tunggu sudah berlalu, biar gerimisku yang menemanimu kali ini."

Rakit penyelamat bersama Kanya meninggalkan Gemal yang masih bertahan. Tapi Tuhan berkata lain, saat rakit kembali, Gemal tak lagi ada disana.

2 hari pencarian menyusuri alur, entah hidup atau mati, Gemal tetap belum di temukan. Hati Kanya menjadi di hajar badai tak henti.

Dan tak pernah ada gerimis lagi untuk Kanya karena badai yang selalu dicarinya.

-Diselesaikan di Pos Kupi, 8 Agustus 2016 - 12 April 2019-

Untuk Manusia di atas Manusia

Hai, Siapa Tuhan mu?
Maaf ku bertanya, meski ku bukan malaikat yang bertugas
Jika tiada Tuhanmu, lantas, apa yang mebuatmu takut?
Apalagi yang menghalangi kerakusanmu?

Hai kau, perusak di atas perusak,
Setan di atas setan
Iblis di atas iblis
Jahil di atas Jahil
pixabay

Ku katakan jahil untuk kebodohanmu
Untuk ketidaktahuan mu
bagaiman cara mencari rejeki tanpa harus merusak

Hatimu, telah layu mati dan kering

seperti yang kau lakukan pada alam ini.

Sembunyi Sembunyi



Ada kata-kata
yang ingin lekas terungkap
saat ini di kata
rasanya ada udara yang menyekap

ada kata-kata
sederhana saja
tapi di baliknya
sama sekali tidak sederhana

ada kata-kata
bila di ucap akan mengikat
bila di kata akan memikat
ingin di sampaikan malah tercekat

kadang sudah di kata
kadang sudah terungkap
tapi tak sampai juga
jelas-jelas sudah terungkap!

Apa?

Aku sudah bilang kan?

Cerpen - Mungkin Sudah Saatnya

PING!!!


aku melihat layar smartphone ku. Ah, ada pesan penting rupanya masuk. Ku buka perlahan kunci pada layar untuk emlihat pesan. Sebelum sempat aku melihat pesan tersebut aku keburu melihat sebuah broadcast di bawahnya. 

Ah... Sulitnya melupakan.

4 tahun yang lalu

"Kanya! Kanya!"
"Apa sih Fir!" jawabku ketus sambil menoleh kearah Firman.
"Gak ada, miscall aja!"
"Ih, gak jaman banget miscall segala, mention kek, ping kek, apa kek" celoteh ku sambil terus memilah beberapa surat yang masuk ke ruang osis kami.
"Hu... sombong sementang punya smartphone...aku apalah..." Firman merengut di bangku kekuasaannya sambil memainkan bola salju kaca yang ku taruh di mejanya beberapa hari lalu.
"Ya maaf, becanda aja kok."
"Enak ya punya smartphone?"
"Gak juga, ribet. Paling yang enak karena aplikasinya banyak yang membantuku."
"oh..." 
******
"Nya... Aku naksir seseorang."
DEG
"Ci..cie.. si.. siapa" Jawabku gugup sambil menggodanya.
"Kabar-kabarnya dia suka samaku, Nya. Aku bingung, kalau aku tembak dia dia mau nerima gak ya?"
"Idih, ya coba aja. kok tanya aku"
"Misalnya kamu di posisi itu gimana, Nya?"
SERRR...
"Aku memang gak mau pacaran, Fir. Meski di tembak sama orang yang sedang aku suka"
"Oh.."
*******
Sejak percakapan kami terakhir itu, Aku dan Firman perlahan menjauh. Seiring jabatan OSIS kami telah berakhir dan di tambah kesibukan anak kelas 3, kami nyaris tak ada senda gurau seperti dulu. Aku yakin, Firman tau betul bahwa aku menyukai dia. Saat ia melontarkan pertanyaan itu jujur aku tak siap dan aku sangat takut Gede Rasa lalu aku menjadi patah hati bila yang di maksud Firman bukan aku.

"Nya! Kanya!" Hani menyikutku sambil menujuk-nunjuk ke arah gerbang sekolah. Saat itu aku dan Hani sedang menikamti es lilin di teras sekolah. Mataku pun melirik ke arah telunjuk Hani. 
DEG...
Aku melihat Firman sedang berboncengan dengan seorang cewek yang sama sekali asing. Tak pernah kulihat wajah cewek itu di lingkungan sekolah kami.
"Nya, kau tau siapa cewek itu?"
"Enggak Han"
"Kayanya itu yang lagi di bicarain anak-anak belakangan ini, Nya. Kabarnya itu pacar Firman."
"Anak mana?" Balasku, sok tegar.
"Swasta. baru dua minggu ini kabarnya."
"Oh..."
"Kamu gak papa, Nya? Ih, lagian cantikan kamu dari cewek itu. kok si Firman milih dia sih!"
"Gak lah Han, aku ini apa sih. ga ada bagus-bagusnya. suka-suka dia lah pilih siapa..."
********
Perpisahan sekolah
"Nya, Kanya! Kanya Adilla!" Teriak seseorang yang aku mengenal suaranya. aku mengacuhkannya.
"Kanya! Aku manggil tau!" Firman menarik tanganku pelan dari belakang.
"Apa sih, Fir?!" Aku mengibaskan tangannya.
"Plis, ikut aku bentar."

Aku dan Firman menuju Taman belakang sekolah. Teman-teman memberi kami privasi dan tidak mengikuti. Tapi aku memberi kode kepada Hani untuk diam-diam mengikuti kami.

"Nya, aku to the point aja. benar kamu pernah suka sama ku?"
Aku menggangguk. Firman menghela nafas panjang.
"Hh... Terus kamu maunya gimana?" Tanya Firman lagi.
"Ehm... Fir, Maaf kalau berita aku menyukaimu menyebar samapi ke telingamu. Tapi begini Fir, rasa sukaku ke kamu itu gak lebih dari obsesi ku menjadikan kamu salah satu tokoh dari novel khayalanku."
"Maksudmu, Nya?"
"Aku menyukaimu, membuat mu menjadi tokoh dalah imajinasiku tanpa berharap lebih."
"Kanya, kamu serius ngomong begitu?"
"Firman Julian, aku serius."
"Tega kamu, Nya. kamu membuatku kepikiran. Galau gak tau apa yang harus aku buat ke kamu. Jawaban terakhir kamu makin buat aku semakin kalut. Aku gak tau harus gimana. Sekarang jawaban dari kamu begini."
"Udah ya, aku harus balik ngumpul sama temen-temen sekelas."
"Nya... yakin gaada lagi yang mau kita selesaikan?"
Aku terus berjalan membelakangi Firman. Fir, aku bener-bener ga tau.
******
Dan, gak lama setelah masuk kuliah. Aku mendapat braodcast PIN Firman dari salah seornag teman. Aku menimbang-nimbang apakah aku harus meng-invite PIN nya demi memperbaiki hubungan pertemananku dengan Firman.

Sent Request

Accept

PING!!! -Firman
Ya - Kanya
Dapat dari mana PIN ku?-Firman
Dari broadcast-Kanya
Siapa?-Firman
Lupa, tadi banyak yang broadcast kontak alumni-Kanya
Ngapain kamu invite aku?-Firman
Gak boleh?-Kanya
Read.

Setelah itu aku hanya melihat Firman beberapa kali di timeline. Kami tak pernah lagi berkomunikasi apalagi bertemu. 

4 Tahun, aku tak ingin ada bayang-bayangnya lagi.

Delete contact?

Yes.

Tags