Tampilkan postingan dengan label Melodi Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melodi Kata. Tampilkan semua postingan

Relawan...

Wahai hati yang rupawan

untukmu, para relawan

kan kudoakan diberi kekuatan

ragamu slalu disehatkan


Wahai jiwa-jiwa pilihan Tuhan

teguhlah dijalan kemanusiaan


Sakit sama melihat ketidakadilan

Perih sama melihat kedzaliman


Hati yang murni, memilah batil dan kebajikan

Hati yang teguh, menerjang dalam perjuangan


Wahai hati yang rupawan

untukmu para relawan....


Jika Itu Sudah Gersang, Bagaimana?

Dan kau inginkan ku jadi kekasihmu
Dimana tanpa ada kata untukku
Dan kau berharap ku menyadari itu
Dengan hati yang sudah pernah patah dimasa lalu

Ku pernah sebenar-benar jatuh hati,
Merangkai masa depan dalam mimpi,
Hingga daun-daun berguguran
Hanya kutemukan kekeringan

Dimana bunga-bunga diatas sana
Menaungiku dengan harum semerbaknya
Satu-dua kelopak menyapu pipi
Sesekali seutuhnya

Hingga musim berganti
Bunga itu tak disana lagi
Tak pula kutunggu
Karena ku tau itu bukan pohon milikku

Dan ia mekar lagi, di musim yang lain
Menggodaku dengan warna-warna indah
Mengundangku tuk datang lagi
Hingga ku kembali tidur dibawahnya

Ku bangun dari lelap, menuntut sapuan darinya
Tak ada lagi kudapat selain angin panas

Bertahun kubiarkan saja, sampai ku lupa
Hingga akhirnya ku pergi dari sana


Dan kini kau inginkan ku jadi kekasihmu
Dimana tanpa ada kata untukku
Dan kau berharap ku menyadari itu
Dengan hati yang sudah pernah patah dimasa lalu

Sederhana

Ingin kembali ke masa dimana aku berpikir, kucing itu lucu.
tidak membayangkan kesulitanya di jalanan.

Ingin kembali ke masa dimana aku melihat, orang dewasa bekerja.
tidak menjadi orang dewasa dengan kebingungan mau melakukan apa.

Ingin kembali ke masa bahwa romansa, selalu beakhir bahagia.
tidak merasakan patah hati terlampau dalam akibat salah menaruh cinta.

Ingin kembali ke masa, bukan segera mengakhiri masa.

Hanya si Cantik yang Boleh Bertingkah Imut

sejatinya begitulah dunia bekerja

tak perlu menulis lebih banyak kata

semakin diungkapkan

semakin terasa ketimpangan



Pemandangan dari Cafe

Kucing kurus melintas di jalan setapak sebelah cafe,
Tak memperdulikan orang-orang dibalik kaca megah 
Berhenti sejenak, tepat di titik orang-orang dapat melihatnya jelas
Kontras warna bulu putih-dekilnya diantara rerumputan hijau
Menjilati bulu-bulunya, menggarus telinganya, dan mulai... mengais-ngais tanah
Semua mata yang menatap terkesiap, tak siap menghadapi pemandangan itu
Kucing kurus itu mulai menunjukkan gestur buang hajat
Tepat sebelum terjadi, Anjing berbulu coklat menyalak dan berlari ke arah kucing kurus
Kucing kurus melompat dan langsung berlari terbirit-birit
Para penonton mengehmbuskan nafas
Bersyukur tak melihat kelanjutan situasi barusan
Jahat kah kita, manusia?

Cemas Cemas Cemas

Ada hari dimana rasa cemas memenuhi dada

Terasa sesak dan berat meski tak ada apa-apa

Seperti ada udara besar di ujung kerongkongan

Membuat rasa mual pada setiap pandangan


Entah karena berita-berita begitu jahat

Sementara Tuhan beri aku begitu banyak kesenangan

Entah aku sebenarnya dalam ujian berat

Berbalut tawa dan tak ingin lepas dari kenyamanan


Seperti orang buta rasanya berjalan di dunia

Minta dituntun oleh siapa saja, kapan saja

Saat tidak ada yang menarik lengan kurus ini

Diri kembali bersantai dan tak ingin pergi


Ada panduannya, tapi tak dibaca

Ada panutannya, tapi dilihat saja

Ada hadiahnya, tapi seperti tak berusaha

Ada hukumannya, tapi pasrah juga


Duhai Pencipta, sungguh ku takut akan hukuman dunia

Duhai Pencipta, juga ku takut hari penghakiman selanjutnya

Duhai Pencipta, aku tak tau sekarang apa yang aku rasa

Duhai Pencipta, sebenarnya kemana arah diriku ini tercipta


Ini hari aku dirundung gundah gulana

Esok hari, kembali lupa.


Ah....


Bagaimanapun, aku pinta pada Sang Pencipta

untuk takperah menghilangkan arah hanya kepada-Nya



Anaknya Mama Papa

Siapalah aku menulis-nulis dan bersyair

Tak ada pada diriku darah penyair mengalir


Siapalah aku ingin berbicara soal sikap berpolitik

Tak ada ada pada diriku diajarkan bermain dengan taktik


Siapalah aku ingin jauh berpetualang

Tak ada menurun dari leluhur berani keluar kandang


Siapalah aku dimata anak cucu

Karena aku, tak berani mencoba lebih dahulu


Sibolangit, November 2025

Seporsi Mie Ayam Mungkin Mengandung Kafein

Hari ini, tak ada kopi yang ku sesap
Aku bangun dengan rasa lapar mencekam
Ku masak nasi dengan cara tercepat
Dan bertanya, lauk apa untuk sarapan

Belum ada, begitu pula kopi tidak kuseduh
Orang gila mana yang melakukan itu saat perut keroncongan
Ku ambil telur ayam eropa, ku pecah, dan goreng utuh
Empat jumlahnya, ku siram lagi dengan saus sambal racikan

Harusnya tak ada kafein pagi ini
Siang kumakan ikan sambal dengan sup tomat
Bersama opak yang digoreng setelah bertahun dalam lemari
Ku nikmati sepiring dengan nasi panas, nikmat

Dari mana kafein ini datang?
Sorenya aku menyusul teman di warung kekinian
Jualan mie ayam dengan elegan
Enak kataku, cobalah rasakan.

Lalu malam menutup setiap kegiatan
Langit mengguyur jalanan dengan lembut
Setiap tetes terdengar seperti piano di atas jalan
Bernada, sambut menyambut

Kini sudah mau pukul empat pagi
Tanpa ada pengaruh kafein
Kupastikan tak ada sesesap kopi kemarin dan hari ini
Lalu mengapa dadaku berdebar seperti membeli gas dari warung lain?

Kutorekah kisah hari pada semua
rekor terbanyak membicarakan orang lain
Apa efek kafein muncul karena peningkatan dosa?
Rasa takut tak bisa masuk surga sampai bisa dimaafkan meski di dunia lain?

Benar-benar, jangan menulis di pagi buta
terlebih saat hujan masih samar terdengar
Isi kepalamu akan penuh degan berbagai rekayasa
Tanpa batas antara salah dan benar

Lelap sudah akhirnya,
Biar pulas akan mencerna
seporsi mie ayam sore tadi
terserap, bersama cerita dini hari







Masih dengan secangkir kopi

Kala ku kecil,
Ada saat dimana aku mampu terjaga sampai pagi
Mengobrak-abrik kotak mainan, rak buku, apa saja
Membuat ibuku terbangun dan membujuk, "Nak, tidurlah"
Aku beranjak menuju rajang tingkat
Berbaring dan memeluk boneka kesayangan, sembari membayangkan pagi menjelang
Jalan-jalan. Jauh.

Begitulah, setiap kali ada perjalanan.
Aku takkan bisa tidur, membayangkan jalan-jalan.


Kala ku remaja,
Ada saat dimana aku mampu terjaga sampai pagi
Kadang mengoprak-oprek komputer, mengetik, apa saja
Membuat ibuku terbangun dan mengomel,"Besok sekolah, tidur!"
Aku beranjak mengarah kamar
Diam-diam tetap tak tidur, membuka buku pelajaran, sembari komat-kamit
Semoga semua yang aku baca masuk kedalam ujian

Begitulah, setiap kali akan ujian
Aku takkan bisa tidur, gelisah karena tak mencicil belajar


Kala ku mulai dewasa
Ada saat berhari-hari aku terjaga sampai pagi
Kadang berharap dapat mencuri 1 jam yang terpakai untuk tidur agar tak dihitung sang waktu
Membuat ibuku terbangun dan menatapku prihatin,"Masih banyak tugasnya?"
Aku menatap kertas-kertas tugas kuliah dengan air sudah menggenang disudut mata
"Jangan ditanya-tanya, bu!" Desisku sambil menahan tangis
Semoga selesai, semoga tak terlambat,

Begitulah, hari-hari kuliah
Nyaris tak ada waktu tidur, memikirkan sekian halaman yang mau ditulis lagi


Kini, 
Ada saat aku tak ingin terjaga sampai pagi
Namun kadang tak sengaja meminum secangkir kopi
Kafein merangsang adrenalin atas tubuhku yang tidak terlalu toleran
Membuat ku menggila, menulis, membaca, dan jika dirasuki Bandung Bodowoso, ikut kubangun candi yang ke seribu malam ini
Ibuku tak lagi terbangun, justru aku yag melihatnya tertidur pulas di ruang televisi
Aku menatap ibu. Khidmat mendengarkan dengkurnya yang pelan
Ibu masih ada bersamaku, bersama kita.

Begitulah hari-hari dewasa
Saat sudah berhenti bertumbuh, namun berkembang dalam penalaran yang terbentuk dari malam-malam-malam sebelumnya.


Masih dengan secangkir kopi dari 5 jam lalu
Bersemayam dalam lambung yang lemah
Takkan lagi kusiksa, lebih baik kupaksa mata terpejam
Karena aku tak boleh lelah dan tertidur untuk kisah yang menunggu esok hari

Sepotong Kisah 1000 Hari di Waktu Itu - Puisi

Secuil saja potongan daun itu aku mengenali

Pencahayaan itu tidak asing

Sekelebat saja, sudah cukup mengulang seluruh kisah disana


Ada seribu hari keberadaanku disana

Selayaknya periode keemasan pada seorang bayi

Begitu pula aku merekognisi seluruh perjalanan disana


Pijakan pertama turun di tanah kuning sedikit berlumpur itu

Berlarian di bukit dengan pohon industri menjulang

Ikut memberikan saran untuk titik lokasi yang memiliki aliran sinyal


Senyum para hartawan dikalahkan oleh penjunjung tanaman

Ramah tamah dan gosip rumahan menyapa hari-hari

Sekadar bertanya sayur apa siang kemarin kami makan


Kadang tawaran itu secangkir teh dan kopi

Kadang pisang goreng hasil panen kebun

Atau sekarung durian hasil perang melawan beruang


Sebentar saja, dengan konflik berkepanjangan

Semua pergi tanpa ada salam perpisahan

Tempat yang indah dengan akhir menyakitakan


Satu persatu secara perlahan, kabar itu datang tanpa ditanyakan

Pepohonan hutan mulai tinggi menjulang

Menyusul buah-buahan yang juga kami tanam


Aku menyimpan memori ini bukan karena mau

Seolah tak bisa lepas dari sana, karena nyatanya

Aku sadar ada bagian hidupku pernah tertinggal disana


Abadi.



Sebab (Puisi)

Ada banyak sebab patah hati

akibat dikhianati

bisa juga karena pergi dalam sunyi


Ada banyak sebab patah hati

akibat ditinggal pergi

bisa juga karena ditinggal mati


Ada banyak sebab patah hati

akibat ditinggal mati

bisa juga kehilangan mimpi


Ada banyak sebab patah hati

akibat kehilangan mimpi

bisa juga karena tak punya kembali


Ada banyak sebab patah hati

akibat tak punya tempat kembali

bisa juga 

bisa juga

bisa juga


sebab itu

kali ini aku.

Puingan Ruby - Puisi

Hati kecilku, rasanya hatiku memang kecil

Retak sedikit, hancur sudah berkeping-keping


Hati kecilku, benar-benar kecil dan sempit

Sakit sedikit, lebam semua sepermukaan


Hati kecilku, sungguh terbatas dan tak mampu meluas

Hampa sedikit, melompong kosong rasanya


Bagaimana aku menghalau kehilangan

Bagaimana aku membendung kesedihan

Bagaimana aku menghadang kepedihan


saking kecilnya, tak ada ruang menyembunyikan perasaan

saking kecilnya, tak bisa menutupi raut pilu di wajah

saking kecilnya, tak mampu menahan bahara lara kian ditambah


meski dunia menarik agar melebar, adanya malah terkoyak memencar

terburai, teurai, dan lenyap dalam semu



9/10/2025

aku kehilangan kucing malam ini. aku harap ia kembali besok. aku sangat berharap.


Sinyal-Sinyal Putus (Cerpen)

"...hahaha, iya, iya, pokoknya aku tunggu kamu sampai di Tanjung Pinang baru kita rencanakan jalan-jalan kita yaaa!"


Nurra menjepit telepon di antara telinga dan bahu sambil merapikan berkas-berkas liputannya yang berserakan di meja kayu kosnya. Telinganya mulai terasa panas, percakapan dengan Pika sudah berlangsung satu jam lebih, setelah beberapa kali putus-nyambung memalui jaringan internet dan akhirnya menyerah dengan telepon melalui jaringan seluler biasa demi bisa cerita panjang lebar dengan sahabatnya ini. Dari luar, suara debur ombak memenuhi kamar kecil yang sudah dihuninya selama satu tahun ini. Di dinding, peta lokasi live-in-nya penuh stabillo warna-warni, menandai wilayah dan topik yang sudah ia jajal untuk artikel jurnalistik mendalamnya.


"Iyaaa, pokoknya siapkan tempat untukku sampai 2 minggu disana ya. Aku bener-bener butuh liburan banget kali ini. Lagi burn out." keluh Pika dari seberang telepon, suaranya setengah tertawa setengah sendu.


"Setahun juga boleh, nemenin aku liputan disini. Tiap hari nanti kita makan otak-otak buatan Mak Ngah yang punya kosan aku," Nurra menghibur sambil memandang gantungan kunci dengan lambang pengeras suara, milik angkatan mereka, jurusan komunikasi.


"Boleh juga, buat nambah otakku lagi kalau beneran udah ke-burn semua ya. Eh, Btw… ada yang mau aku tanya, deh." Pika tiba-tiba mematahkan obrolan mereka.


"Apa tuu?" Sahut Nurra langsung.


"Eh, tapi nggak jadi ah. Nunggu aku sampai Tanjung Pinang aja," sahut Pika, suaranya tiba-tiba kecil.


"Kebiasaan deh, nggak mauuu! Sekarang aja, dong. Nunggu minggu depan kamu sampai pasti udah lupa," omel Nurra sambil mengibas sarang laba-laba yang terlihat menempel di ambang pintu.


"Ntar ajaaa, pas aku sampai. Nggak penting juga kok ini."


"Karena nggak penting, malah bikin penasaran. Jangan sampe aku kebawa mimpi!"


Pika menarik napas. "Iyaa, udah. Tapi ini cuma nanya ya... Kamu nggak pernah kepikiran jadian sama Fauzan?"


"....Fauzan? Tiba-tiba?"


Nurra menatap laut lepas melalui jendela kosnya. Angin malam mulai berhembus, membawa bau pantai yang terlihat dari lantai tiga kos an nya.


"Aku nggak tau apa kamu sadar atau enggak, Nurra. Kalian kan deket banget ini. Nggak pernah ada pembicaraan ke situ?" Lanjut Pika membuka bahasan baru.


"Nggak ada sih..." Dia menggaruk lengan yang digigit nyamuk. "Hampir nggak pernah kami nyentuh obrolan urusan asmara."


"Wah, padahal kalian sering banget main bareng kan." Pika mencoba mengulik perlahan, penasaran apakah Nurra memang enggak sadar atau pura-pura enggak mau tau.


"Hmm... pernah sih, sekali ada obrolan kearah sana. Sekitar tahun lalu itu Fauzan, Dito, sama Kak Rahmat tiba-tiba video call grup,


        "Tomboi kayak kamu pernah jatuh cinta nggak sih?" tanya Dito suatu malam dalam video call grup. "Pernah. Sekali. Lalu patah hati. Cukup," jawab Nurra sambil terkekeh pelan diakhir karena enggak pernah-pernahnya para bro nya membahas hal seperti ini. "Sekarang aku cuma mau sama orang yang jelas-jelas suka sama aku. Udah lelah one-sided love." 


setelah itu kami mengalihkan pembicaraan ke rencana diving di Bintan sekalian buat eksplor, itu awal-awal aku ditugaskan di sini." jawab Nurra.


"Kamu baik, Fauzan juga baik. Aku ngebayangin kalian bagus aja kalau bareng. Apa nggak pernah kepikiran?"


'Teeng!' dari luar terdengar suara tiang dipukul sekali. Menandakan sudah pukul satu malam. Mengingatkannya pada masa-masa mereka liputan malam hari untuk tugas kuliah.


Nurra menghela napas. Fauzan. Teman satu jurusan yang selalu jadi partner outdoornya, yang sekarang entah lagi liputan menantang dimana. Mereka memang terlalu serupa—sama-sama nekat, sama-sama menjadikan adrenalin sebagai bahan bakar hidup.


"Kita cuma teman kampus, Pik.  keetulan cocok juga jadi teman main, teman liputan, teman…"


"Teman yang ngasih kamu hadiah-hadiah gear sesuai kebutuhan kamu?"


Nurra memandang pisau lipat pemberian Fauzan yang tergantung di tas ranselnya, salah satu hadiah saat ia mendapatkan tugas liputan in-depth pertamanya.


"Kita sama-sama tahu Fauzan bukan tipe yang clingy. Kalau ada perasaan, pasti udah lama dia ngomong."


"Atau… dia nunggu kamu yang ngomong?" Pika menghela napas. "Ya udah, aku cuma nanya kemungkinan nya aja sih, kalau kamu nggak mau ambil pusing…"


Layar telepon berkedip—notifikasi chat masuk.


Fauzan: "Ra jangan lupa besok jam 9 di Cafe Pelabuhan. Yulia dan Tika udah aku oke buat gabung. Sekilas juga udah aku jelasin soal volunteering bersih pantai."


Dia menatap pesan itu, lalu foto profil Fauzan yang masih memakai helm peliputan. Tiba-tiba, bayangan mereka berdua rappelling di tebing Nusa Penida muncul lagi. "Memang sih…sejauh ini kita selalu bareng karena kebetulan hobi dan kerjaan kita sama," gumamnya.


Tapi Nurra cepat mengusik pikiran itu. Selain video call grup itu, mereka juga pernah meluruskan masalah ini bahwa hadiah-hadiah personal itu memang menyesuaikan saja. Hadiah seperti itu tak hanya diterima oleh Nurra. Soal kedekatan mereka berdua, sepakat karena minat yang sama saja.

Sikapnya tetap biasa sejak itu, masih mengajaknya diving, masih mengkritik tulisan-tulisannya dengan pedas, masih jadi orang pertama yang telepon saat kala Nurra butuh bantuan.


"Ya, pasti aku jadi kepikiran sih karena kamu bahas, Pik. Bohong banget kalau enggak," ujar Nurra jujur.


"Aduh, maaf yaaa. Ya udah, ini udah malem banget, ntar kita lanjut cerita-cerita langsung aja pas aku udah di sana, yaa."


"Iyaaa, see you soon, dear!"


"See yaa, Nurra! Luv u!"


Pika mematikan telepon.


Nurra mengusap telinganya yang terasa panas, lalu mengecas ponselnya yang sudah low battery. Setelah itu, ia menghempaskan tubuhnya ke kasur dan menatap langit-langit.


Di luar, ombak terus menerpa karang. Seperti pertanyaan Pika tadi yang masih mengganjal, kalau ia dan Fauzan memang cocok di mata orang lain, haruskah ia mencoba? Tapi… dari mana mulainya?


Tapi kayaknya enggak deh. Ia tak siap kembali patah hati.

Tribute to Gusti Irwan Wibowo

Rasanya begitu sesak setiap kehilangan hal-hal favorit. 

Kenapa tidak sampah-sampah saja yang menghilang. 

Justru bintang-bintang cantik cepat sekali perginya.

15 Juni 2025

-

Tatkala membentang tangan diantara angin sepoi-sepoi

Sekelebat saja menelusup  udara sedikit berbeda, geli, nyaman,

Dia adalah jenre endikup (enak di kuping)


-

Kuiyakan sambil menggeleng

Tidak dengan mengangguk

Kamu resmi masuk

dalam dunia Bekasi.


-

Naik-naik ke puncak gunung

Tinggi-tinggi, Abadi.


-

Ternyata ia bukan saudaranya Chava,

Ia meniru jalan Nike Ardila.


-

Semua berdoa baik kepada Gusti.


-

Tak ada yang memberitahuku bahwa badan besar memiliki hati yang besar, tawa yang besar, jenaka berkelakar.


-

Sudah ya? Terimakasih telah menjadi baik.

Tamak

Duhai kasihku,

Jika benar kau mencintaiku, apa bentuk cinta yang kau tawarkan?

Jaminan udara dari air purifier itu?

Air bersih dari filter batu alam tiruan?

Atau nuansa hijau di taman privat?


Duhai kasihku,

jika benar seperti itu,

aku jadi takut padamu,

bentuk manusia yang mencoba bersaing dengan Ia Yang Maha Kuasa


Duhai kasihku,

sebelum hadirmu, sebelum ku pinta pula pada Nya

Pohon-pohon sudah memberikan udara terbaik kelas satu

Sebelum hadirmu, batu sungai sudah memurnikan air terbaik untuk minum dan mandiku

Sebelum hadirmu, rancangan gunung, hutan, air terjun sudah tersaji di depan mata untuk siapapun bisa melihat


Duhai kasihku,

jika benar kau mencintaiku

berilah aku cinta yang tulus, bukan sajian palsu yang kau tiru terus menerus


Duhai kasihku,

Jika benar kau mencintaiku

setidaknya kau memahami bahwa aku takkan mampu menelan dunia


Duhai kasihku

Jika kau mencintaiku

dan sungguh-sungguh mencintaiku,

seharusnya kau akan mencintai seluruh keturunan kita, kelak.


#SaveRajaAmpat

Jalani saja

aku tidak menyukai diri

yang tidak mampu mengendalikan diri

aku tidak menyukai hidup

yang ingin mengakhiri hidup


Dimana salahnya

ketidaktahuan

Dimana celahnya

merasa sendirian


Tak tau apakah perjalanan ini

masih panjang atau besok berhenti


Mengapa yang lain bisa berlari

seolah tak ada penghambat dihati

Jiwa ku semakin sulit mengerti

bisakah aku mengendalikan diri

Permintaan Ibu

 (Mungkin tak mewakili untuk beberapa kasus)

----

Jadilah bahagia seperti ibu minta

Jangan tunjukkan wajah tersiksa

pergilah jika disana banyak luka

Ibu doakan hidupmu lebih banyak tawa


Jangan menangis jika tak dipelukku

Jika sedihmu terjadi disaat jauh

Penuh pikir ibu ingin menyusulmu


Doa ibu ingin hidupmu mudah

Penuh ceria dipenuhi berkah

Meski ujian datang dan pergi

Kembali pada ibu untuk menemani


Langkah demi langkah teriring doa

Menyelimuti melalui angin perantauan

Dan tiba-tiba saja damai terasa suasana


Jadilah bahagia seperti ibu minta

Jangan tunjukkan wajah tersiksa

Pergilah jika disana banyak luka

Ibu doakan hidupmu lebih banyak tawa




------

Medan, 15 Januari 2025

Malam-malam penuh pinta.


366 Hari Bersajak - 366. Selesai Lebih Baik Dari Sempurna

Sibuk nian orang-orang hari ini
Semua riuh merencanakan 
Atau menyebarkan jangan ikut-ikutan

Ini memasuki bulan tujuh pada putaran bulan
Bulan dengan banyak arahan tak bertuan
Salah-salah kita jadi bulan-bulanan

Ini tahunnya siapa ini tuhannya siapa
apakah tuhan memesan kalender dunia
padahal tanggal-tanggal tak turun dari langit

Sibuk nian orang-orang hari ini
bahkan lupa istimewa hitungan tahun ini
dan mengucapkan terimakasih tiga enam lima

di pojokan tanggal dua sembilan mengadu
padahal ada yang memberi dan mencipta
tapi bisa-bisanya makhluk memuji karangan makhluk, lucu

Sudah selesai tugas empat
Tongkat estafet diserahkan ke lima
Jangan lupa mengganti administrasi yang ada

Besok kita mulai lagi
menyelesaikan yang sudah dimulai
tau memulai sesuatu untuk diselesaikan

Terserah, yang penting baik saja
meski itu belum tentu jadi baik
Bisa, kan?


---------------------
1 Rajab 1446, memasuki usia 29.

366 Hari Bersajak - 365. Sajak Sajak Kosong

Penghujung tahun di depan mata

Namun mataku masih berada di depan ponsel saja

Gulir, gulir, ibu jari di atas layar

Sudah penuh kepala ku dengan video dan gambar


Rasa-rasanya aku terus tak mampu

Mengendalikan emosi menggebu

Membenci alur-alur tak sesuai teori

Untuk apa mempelajari sisi kanan dan kiri


Air mata tak habis juga

Buangan memang sia-sia

Apalah jawabanku nanti

aku hanya mampu memendam dalam hati


Nyawa-nyawa hilang begitu saja

Bentuknya manusia tapi sudah tinggal raga

Disini ada yang bernyawa

Dengan raga tak berguna


Bertahun-tahun sudah masih sama saja

Putih hitam terus ada dimana-mana

Abu-abu merasa paling pengertian

Padahal tetap noda hitam jadi campuran


Katanya tidak sesederhana itu

Atau memang skenario rumit belaka

Satu-satu dapat tertipu

Hingga semua bersatu dalam neraka


Penghujung tahun di depan mata

Kenyataan pun sama berupa

tidakkah bisa semua upaya

sedikit saja terlihat  berguna?


366 Hari Bersajak - 359. Semua Merayakan

Ada hari di penghujung tahun
Yang membuatku selalu bingung
Apa lagi yang mau kusandingkan
Untuk menemani buket bunga buatan

Sampai tahun dua ribu sembilan
Memilih bunga menjadi kegiatan menyenangkan
Lalu memilih dua hadiah berikutnya
Tak perlu mahal, yang penting bermakna

Kaus kaki untuk Nenek
Sapu tangan untuk Atok
Bisa juga dibalik, ah tidak bisa
Hanya Atok yang selalu terbatuk-batuk

Ada tahun dimana tabunganku habis
Untuk membeli tas barbie dengan troli
Dengan alih-alih romantis
Hadiah tahun itu kubacakan sebuah puisi

Kini aku bisa membeli selusin kaus kaki
Dan satu kodi saputangan di shopi
Tapi kaki lincah itu sudah tak ada
Dan suara batuk dengan senyum itu pun lebih dulu tiada

Di bulan desember setiap tanggal dua lima
menjadi acara kumpul keluarga
kami mengirim doa bersama
sebagai hadiah yang lebih berharga dari bunga

Ya Rabbi, sejukkan kuburnya
Berdua merupakan orangtua ibuku
Pasangan yang begitu sederhana
namun memperjuangkan segalanya demi cita-cita anak-anaknya

Ya Rabbi, tenangkan kuburnya
Zurriatnya akan mengabadikan kisah mereka berdua
Si punya yang tak jumawa
Si tak berpunya yang berusaha

Ya Rabbi, kami semua merayakan
hari kelahiran mereka berdua dan juga hari pernikahan
pertanda untuk kami mengambil pelajaran kehidupan
Maafkan jika ini sebuah kesalahan, sungguh kami hanya ingin mengambil kebaikan

Ada hari di penghujung tahun
Dan akan aku ingat dari tahun ke tahun.

Amin.


Tags