Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Sebelum Sebuah Jawaban - Cerpen

Dalam pengaruh kafein, aku menolak permintaan mu untuk menyukaimu kembali.


kenapa? kau tanya.


Aku menarik nafas panjang dan merasakan aroma kopi menyeruak didalam indera penciumanku. Kali ini, aroma parfum murah yang kau beli dari steling penjual pulsa langgananmu tertutupi sempurna.


Kamu... tidak menyukaiku? cecarmu tak sabar menunggu jawabanku.


'Bukan tidak suka, aku menyukai nyaris semua...


...hal termasuk hewan kan? Ah leluconmu kali ini tidak tepat dalam pembicaraan kita ini.


Kau seolah menjadi orang yang paling paham tentangku, leluconku, gelagatku, namun yang kau lakukan malah membungkamku. Aku menatap lekat matamu yang memandangku, pandangan yang sama, keyakinan, percaya diri yang setara antara kau dan aku. Sebegitu cocoknya kita dalam berbagai hal, tidak bersaing, justru melengkapi. dan itu yang membuat kita beberapa tahun ini seperti jalan ditempat.


Ternyata benar kata orang-orang. Sikapmu memang hanya karena kamu baik saja, bukan karena kamu suka denganku.


'Kalau aku melakukannya karena memang suka padamu, bagaimana?'


Seperti kau menyukai nyaris semua orang dan hewan-hewan bahkan.. tumbuhan kan?


'Aku tak melihat masa depan diantara kita.'


Juga aku. siapa yang bisa melihat masa depan? 


Tekanan ini membuatku merasa dikuliti. Ketika mendapati seseorang yang memahami diri ini, justur aku berharap ia tak sepaham ini. 


Aku membaca. Tulisanmu.

Tentang kamu ingin tinggal di pinggiran kota, tentang cita-citamu ingin mengajar anak-anak, tentang mu yang ingin mendukung dan di dukung pasanganmu untuk terus belajar. Tentang mimpimu untuk keluarga, tentang harapanmu sampai kepada akhir kehidupan. Maaf aku tak sengaja membacanya.


Wajahku terkesiap. 'Kapan kau membacanya?'


Sewaktu aku meminjam catatanmu untuk sele-sele. Sekali lagi maaf karena aku tak sengaja membacanya.


'Sebentar.' Aku merogoh sebuah buku dari dalam tas dan menyodorkannya padamu. 'Tulisan itu dari buku ini. Aku hanya mengutipnya sembarangan.'


Sekarang, gantian wajahmu terkesiap.


'Sekarang kau sudah tak membutuhkan jawabanku lagi kan?'


ya.


Kusesap tegukan terakhir v60 yang tersisa. Ah laki-laki, jika memang sudah saatnya mencari mangsa, ia akan memakan semua yang muat kedalam mulutnya. Dan perempuan yang tak siap dimakan, akan mencari 1001 alasan untuk membuatnya semuanya menjadi tidak masuk akal. Yang siap dimakan, akan menjelma menjadi sajian terbaik, terkadang dengan topping sedikit berlebihan. Meski ada beberapa yang memoles diri hanya sampai etalase display.


Perempuan bukan objek kau bilang.


'Iya, benar.' oh, ini masih berlanjut. Aku terlanjur memesan ojek daring.


Lalu kenapa kau berpikir seperti itu?


Sebentar, kau bisa baca pikiranku?


Sejak kemarin. Aku tak mengutarakan perasaan ini kalau tiba-tiba aku tak mendapat keajaiban ini.


Ojekku sudah datang. Dan sekarang aku didera kebingungan hebat.


Pergilah, dan kembali saat kau berhenti memikirkanku, aromaku, penampilanku, kehawatiranmu kepada ku. Karena pikiranmu tentangku begitu berisik.


'Baik aku pergi.' Selamat tinggal. Sepertinya kafein kali ini memunculkan reaksi halusinasi sebab ku konsumsi dalam kondisi stres. 


Lalu sekarang aku merasakan kau memelukku, erat. Aduh, ojeknya menunggu.


Mimpi Seperti Itu Lagi (Cerpen)

 Aku membuka mata dengan perasaan sesak di dada. Terbangun dan duduk di tempat tidur. Tak lama, air mataku mengalir dengan sendirinya. Baru saja aku bermimpi sesuatuyang tak terjadi, namun perasaan nyata itu membuatku semakin sakit.


Bahkan aku bisa menceritakan mimpi itu lagi. Aku diantar oleh Ayah untuk pergi ke suatu cafe. Nyaris larut malam. Hari hujan. Saat aku sampai, salah seorang temanku sudah mau pulang dan Ayah menawarkan untuk menngantarnya sampai simpang terdekat. Aku tau kenapa temanku ini ada di dalam mimpiku. Karena aku punya pekerjaan dengannya yang belum selesai.


Aku masuk kedalam cafe itu. Memesan beberapa menu terlebih dahulu. Dari kejauhan, teman-teman sudah melihat keberadaanku. Kau, melambai ke arahku. Cukup lama aku berbicara dengan pelayan kasir, lalu setelah menyelesaikan transaksi, aku pun berjalan ke meja lesehan di pojok itu. Di meja ada kau, teman kita dan pasangannya, dan satu teman lagi. Berlima dneganku, kita duduk di meja itu. Obrolan seperti biasa terasa akrab, sampai akhirnya kepada pembicaraan sensitif yang bahkan kia berdua juga menjaganya agar tidak pernah permbicaraan itu terjadi dianatara kita. Aku terkejut. Karena aku tau betul, di dunia nyata takkan mungkin kamu melakukan hal ini, terutama di depan teman-teman kita. Masalahnya, kamu tiba-tiba berpindah duduk disebelahku. Aku yang sulit kontak mata dengan lawan bicara, kali ini aku menatap matamu. Sial, tatapan itu terasa begitu dalam. Aku dapat melihat warna coklat tua, gradiasi antara pupil dan sklera di balik kornea matamu. Menatap lekat setiap detail bulu mata, raut alis yang menujukkan ekspresi menekan ku untuk segera menjawab pernyataanmu. Dan di detik ketidaknyamanan itu aku kabur dengan terbangun di dunia nyata.


Pukul dua pagi. Secara sadar aku mengilhami ini bagian dari kasih sayang Allah, di tengah malam, sebaiknya aku segera bermunajat dan meminat ampun.


Aku kembali melanjutkan tidur dan mimpi itu berlanjut dengan memori samar. Kembali aku terbangun dengan perasaan sesak yang sama.


Ini salahku membangun diorama kisah itu didalam ruang memori. Dengan mudah aku terhanyut hanya dengan satu-dua kata dari sudut pandang orang lain dalam melihat kedekatan kami. Padahal sejak lama pembicaraan ini sudah disepakati, antara kita berdua memang suka membangun relasi dengan banyak orang. Kita memang senang berteman, dan diantara kita juga memang hanya sebatas teman.


Baik aku dan kau pasti merasa ketidaknyaman yang sama jika ini bermuara pada masalah asmara. Kita hanya teman diskusi, teman cerita dengan tipe canda setara. 


Aku sudah pernah patah hati tepat disaat aku baru memutuskan untuk jatuh kedalam cinta. Kali pertama sakit luar biasa hingga butuh waktu tahunan untuk kembali membuka hati. Kali kedua, serupa. Hanya saja pemulihannya tidak begitu lama. Aku cukup sekali memutus hubungan dengannya, lalu urusan ku selesai begitu saja. Dan aku tak ingin jadi keledai, jatuh di lubang yang sama. Seperti lirik dari lagu 'Jangan jatuh cinta' dari Maidany - Tuhanku, berikan ku cinta, yang kau titipkan, bukan cinta yang pernah ku tanam...


Aku paham betul tipe mu. Cantik, kulitnya bersih, rapi, lemah lembut, pokoknya idealnya perempuan. Aku juga paham betul tipe ku. Maka wajar diantara kita juga seharusnya tidak akan terbentuk hubungan asmara. Masalahnya seperti pepatah jawa, witing tresno jalaran soko kulino, cinta datang karena terbiasa. Baik. Sepertinya memang harus dengan cara mengurani komunikasi sebeisa mungkin. Karena aku tak bisa langsung memblokirnya seperti kisah sebelumnya. Ia murni seorang teman dan juga tak menujukkan tanda-tanda lebih dari teman kepadaku. Kalau orang-orang bilang, takkan ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan. Salah satunya pasti akan muncul perasaan. Aku akui itu. Sekarang saatnya diri sendiri kembali mengontrol diri.


Semoga takkan ada lagi mimpi-mimpi serupa di kemudian hari dalam sistuasi seperti ini. Berbahaya sekali.


Sebuah Rindu Tanpa Ruang

Dulu,
Di ruang waktu
Kita pernah bersama
Sebelum sukma dan raga bertemu

Dulu,
Di ruang waktu
Emosi sunyi mengartikan banyak hal
Untuk menemukanmu di ribuan semu


Mu, untuk mu yang terpisah
Kucari depa demi depa
Dalam hampa tanpa jarak
Setelah raga menapak

Mu, dalam dulu
Saat lauh mahfuzd menuliskan nama kita

Kita

Raga dan sukma telah menyatu
Segera kita kan bertemu

Cerpen - Suatu Hari di Dunia Peri

HHAH!
Pagi itu aku bangun dengan dada yang terasa sesak. Sebuah mimpi. Bukan mimpi buruk sebenarnya tapi ini membuatku menjadi buruk. Aku memimpikanmu....

Tiba-tiba aku berada dikolam peri bersamamu. Harum lumut semerbak merasuk ke jalur pernapasanku. Airnya berwarna biru cerah meski atap langit ditutupi rimbunnya daun semak liar. bebrati ini bukan pantulan dari atap bumi, namun alga biru memancarkan sekresi dari permukaannya. Substrat pasir menggelitik dua pasang kaki telanjang yang bernaung di atasnya. Kita bersama hanya berdua di bawah langit Tuhan yang berkuasa.

Bersama tanpa suara hanya hembusan angin yang berbicara. Kicau burung bergema dan gesekan daun menjadi musik yang memanjakan telinga. Tanpa saling tatap kita berjalan menuju arah yang sama.
Pic by: Soraya Pertiwi

Sebuah kursi tua yang terlihat lapuk menjadi pilihan. Dingin serasa menusuk tulang belakang. Bersamamu semua menjadi terasa hangat. Kita masih diam seolah terikat menjadi bagian dari tumbuhan yang tak bergerak. Aku masih menunggu kemana alur mimpi ini berlanjut.

Hmmmm....

Sebuah tarikan nafas berat.

"Sadarkah kau ini sebuah mimpi?" Tanyamu tanpa menoleh kepada ku. Aku menggangguk pelan sambil memain-mainkan kaki ku, menendang-nendang udara.
"Sial, aku pun sadar ini mimpi. Berarti saat kita terbangun kita akan tahu bahwa kita terjebak di mimpi yang sama."

Aku menoleh cepat dan secara bersamaan kamu juga menoleh.

"Mak, maksudmu ini benar-benar kamu dan sekarang kamu sedang berbaring di tempat lain?" tanyaku sedikit tergagap.
"Bila responmu seperti itu, berarti ini benar adanya." Jawabmu lalu kau lanjut. "Aaaaah.... dari semua wanita dalam kehidupanku kenapa aku harus terjebak dengan teman masa kecilku yang merusak persahabatan dengan sebuah perasaan sesaatnya?"

"Apa maksudmu dengan sebuah perasaan sesaat? dan kenapa kau bisa berbicara selugas itu? selama ini kau tak pernah mengatakan hal yang akn menyakiti perasaanku!"

"Mimpi ini tak nyata, dan aku juga hanya berbicara dengan imajinasi yang ku bangun dalam perasaanku. Ayolah, tidak mungkin benar ada orang yang terjebak di mimpi yang sama apalagi di tempat seindah ini. Aku membangun dunia khayalku sendiri. Dan kau juga berada dalam khayalanku."

Bulir mataku hampir jatuh setelah kata-katanya menguasai perasaan yang telah kukubur dalam tempo dulu.
"Ba..baik kalau menurutmu aku adalah khayalanmu, setelah aku menyatakan perasaanku dulu ada yang kau rasakan?"
"Sakit!" jawabmu keras.
"Harusnya sejak dulu dirimu sadar bahwa tak mungkin seorang perempuan dan lelaki yang bersahabat dari kecil tak punya perasaan ingin memiliki sedikitpun. meski ada peluang hanya bertepuk sebelah tangan tapi tolong jaga perasaanku! segampang itu kau pergi dengan lelaki yang belum tentu tidak akan menyakitimu!"

Sudah. Jatuh sudah air mata ku.
"Aaaah dan kini khayalanku menangis. Aku yang membuatnya menangis. Baguslah, selama ini aku hanya menghetikan tangisan mu yang disebabkan orang lain."

"Dimana?" tanya ku parau.
"Apanya?"
"Sekarang kau ada dimana?"
Kau terdiam sejenak.
"Disini. Aku disini. Sampai lusa."
"Baik, aku akan mencari tempatmu dan menemuimu esok. Mimpi ini sudah usai. Saat kita terbangun kita akan terjebak lagi di dunia nyata."
******
"RAKA!"
"Ri..sa? Risa!" 
Aku berlari menjejaki pasir sungai yang diselimuti alga biru. dingin yang sama, gema kicau burung yang sama dan musik dari gesekan daun yang sama. Dan aku menghambur ke pelukan Raka yang menghilang dari pandanganku selama 2 tahun.

"Bagaimana bisa kau menemukan tempat ini?" tanya Raka sambil mendekapku erat.
"Peri yang menuntunku kemari."

Cerpen Mencuri bayang dalam kiasan

Awalnya, aku tak pernah menyangka dengan kehadiranmu. Pertemuan di Pet shop 4 tahun lalu seakan membuatku tak percaya kalau pertemuan pertama kita pernah terjadi. Lalu kau lenyap menyisakan ruang hampa yang tak kusadari apa namanya di dalam hati ku. Sekarang, kau datang kembali.

tuutt tuuut tuuut
"ha..ha, ha...lo?"
"Ya, halo dengan siapa ini?"
"Anu... ehm... Perkenalkan nama saya Dewi dari departemen konservasi perusahaan XYZ...."
"iya, lalu?"
"benar ini dengan mas Gagah? eh, Pak Gagah Syahreza?" aduh.. keceplosan.
"Iya benar ini saya. Ada perihal apa ya Bu Dewi?"
"........"
"halo bu dewi?"
"Tuuut...tuut"

Ternyata aku masih belum sanggup menerima kenyataan. Ku tutup gagang telepon dan kuangkat kembali. ku tekan tombol redial dan ku serahkan pada Fitri yang berada disebelahku. dengan tergagap Fitri menyambut uluran ggang telepon dariku, selanjutnya ia lancar menyampiakn informasi yang seharusnya ku berikan untuk mas Gagah, eh Pak Gagah Syahreza.
*****
"Mumut, tadi aku gak sengaja dapat kontak pemilikmu dulu lo... kira-kira dia masih ingat ga ya sama kamu? Tapi ga tau juga sih itu beneran dia atau enggak..." tanya ku pada hewan lucu bertelinga panjang yang sedang asik makan wortel yang aku pegang.
"Muut... jangan asik makan mulu dong, respon dikit kek." Aku menarik wortel yang sedang asik dinikmati mumut. Mumut tersentak dan menatapku tajam seolah berkata "Kalau akau bisa ngomong ntar kamu kira aku hewan jejadian lagi" dan segera dia kemabli mendekati wortel yang ku tarik lalu semakin asik melahapnya. Ah... mumut...
*****
4 tahun lalu
Sudah sebulan aku hidup di kontrakan sendiri, rasa sepi entah kenapa sering menyelimutiku. Padahal semasa kuliah aku juga ngekos sendirian. Mungkin saja karena aku tidak terlau sibuk dengan tugas seperti saat kuliah. Sekarang, sepertinya aku membutuhkan pendamping. Dan disinlah aku sekarang berhenti. Di depan Pet shop.

kling kling cring....

Gantungan dream cacther yang di gantung di pintu pet shop berbunyi saat aku membuka pintu.
"Selamat datang mbak, mau beli makanan hewan atau beli hewan peliharaan mbak?" Dengan ramah pegawai berkucir ini menyapaku.
"Rencananya mau beli hewan peliharaan, tapi saya mau lihat-lihat dulu boleh?"
"oh boleh mbak silahkan silahkan...nanti kalau ada yang membuat mbak tertarik panggil saya lagi ya.." kata pegawai berkucir ini lalu pergi melayani pelanggan yang lain. Akupun dengan asik melihat-lihat hewan-hewan lucu disini.

kling kling cring....

"Mbak, disini bisa jual hewan peliharaan?" Tanya orang tak dikenal yang baru masuk tadi setelah mencolekku. Aku terkejut. etdah...gue dikirain pegawai...
"Maaf mas, saya bukan pegawai disini. Mbak! mbak!" Aku dengan spontan memanggil pegawai berkucir tadi. Si Mas itupun tanpa meminta maaf kepadaku langsung nyelonong ke arah si pegawai berkucir. ah.. ada-ada saja.
"YAH, KOK GA BISA SIH? KELINCI SAYA SEHAT KOK!" tiba-tiba si mas gak sopan tadi bersuara agak keras.
"iya mas maaf, tapi prosedurnya kami tidak menerima hewan yang bukan berasal dari peternakan yang sudah berlisensi mas..."
"Ya sudah, biar saja kelinci ini saya lepas dijalanan saja." Si mas gak sopan tadi berlalu dan keluar dari Pet shop. 

kling kling cring....

Dari dalam aku memperhatikan mas gak sopan tadi. Dan yang membuatku terkejut, dia melepaskan kelinci di tangannya lalu meninggalkan kelinci lincah itu berlompat-lompat ria ke arah jalan raya.

kling! kling! cring....

Aku berlari dengan cepat keluar dan menangkap si kelinci lincah tadi. Si mas ga sopan itu malah ngeloyor pergi dan menyetop angkutan umum yang lewat. Saat dia telah masuk angkutan umum, dia melihat ke arahku yang sedang berjongkok memeluk kelinci miliknya. Dia melambai sambil tersenyum ke arah ku lalu menujuk lehernya sendiri. Dan kendaraan itu berlalu dengan menyisakan tanda tanya besar pada diriku. leher? dia tadi menunjuk lehernya kan? kenapa lehernya? dia ga bisa ngomong?
"Coba cek leher kelincinya mbak, ada kalungnya tuh. Mana tau ada pesan.." Tiba-tiba si pegawai berkucir itu sudah ada di sebelahku. Aku masih diderai kebingungan. Namun, tangan ku bergerak untuk memeriksa leher si kelinci. Benar saja, kalungnya yang berbandul seperti cincin berisi sebuah gulungan kertas kecil. Aku membukanya.

Nama: Mumut
Lahir : di lubang tanah halaman Gagah Syahreza, 12 Januari 2011
jenis kelamin : pria tangguh
Kesukaan: Wortel rebus dan air gula merah

P.s rawat aku baik-baik ya, solanya majikanku harus pergi ke luar negeri selama 3 tahun dan aku ga bisa di bawa. Pemilikku jomblo lo. Manatau jodoh kalau kamu rawat aku.

P.s lagi. semoga yang rawat aku cewek.

Aku mengernyitkan kening. Hari gini masih aja ada hal konyol seperti ini. 
"Yuk mbak, kita pilih kandang dan perlengkapan buat mumut. Nanti didalam saya jelaskan cara merawat kelinci." Si pegawai berkucir dengan santainya menyuruh saya kembali ke toko dan membeli ini itu. Ya ampun... hari yang aneh. Sambil melangkah ke arah toko aku menatap kelinci lucu ini. senyumnya manis dan...hangat. HAH? HANGAT?!
"MBAK, KELINCINYA NGENCINGIN SAYA!" pekikku pada si pegawai berkucir.

*****
kling kling cring....
"Mia, aku mau beli kandang baru buat si mumut. Udah ga nyaman lagi buat dia kayaknya" Kata ku pada Mia, pegawai yang dulu rambutnya di kucir sekarang udah hijaban.
"Nah, aku bilang juga apa mbak... maunya udah dari bulan lalu mbak beliin buat si mumut, kasian dia.."
"Ya kan duitnya baru ada sekarang, ngurusin si mumut lebih ribet dari ngurusin bayi!"
"Loh, mbak dewi udah punya bayi? kapan nikahnya mbak?"tanya mia konyol.
"Miaaaaaa udahan ah becandanya!" Mia tertawa dan lalu ke arah gudang untuk mengambil kandang big size. 

kling kling cring....
"Mbak, kenal sama yang namanya Mia gak?" aku terkejut tiba-tiba bahuku dicolek seorang pria yang baru masuk ke Pet shop. Aku balik badan dan memasang wajah ketus. loh? eh?
"Aaaa.... anu..... Mia... cari mia ya? ada apa ya mas ga.. eh!" spontan aku menutup mulutku.
"Oh, kamu yang tadi pagi nelpon ya? Ibu Dewi dari Konservasi kan?" Tiba-tiba dia main tembak langsung dengan menyebut namaku. Aduh Mia... cepetan balik..
"Kok, kamu kenal saya?"
"Kan saya baca deh nama kamu, dan saya ingat dengan penelpon aneh yang pertema tadi pagi." Kata mas Gagah dengan cueknya. Sial, aku ga sadar masih pakai baju kantor dan bed nama yang menuliskan nama serta posisiku.
"Mbak ini kandangnya!aduh maaf lama ya mbak dewi!" ujar mia yang sudah balik dari gudang.
(bersambung)


 

Cerpen Romantis : Penantian Hujan di Tengah Malam

Penantian Hujan di Tengah Malam

“Dik, belum tidur?” Tanyaku pada kekasih halalku.

“Belum, gak bisa tidur. Gerah nih Mas...” Keluhnya padaku. Ia menyibakkan selimutnya. Wajahnya memerah karena panas.

“Duduk ke taman belakang sebentar yuk, nikmatin angin malam biar sejuk. Mas juga ga bisa tidur...” Ajakku. Ia menggangguk dan segera beranjak dari ranjang. Kami bersama menuju taman belakang rumah kami.

Aku duduk santai menikmati rembulan yang sedang beerbentuk sabit. Sudah seminggu tidak turun hujan. Langit malam ini sedikit mendung. Mungkin akan turun hujan makanya udara sedikit gerah. Perbedaan tekanan udara dari langit menyebabkan hawa panas menggeliat di permukaan bumi.

Trek. “Teh mas,” ia meletakkan dua cangkir yang berisi teh hangat. Lalu ia duduk dan bersandar disampingku sementara matanya menatap kosong ke arah bulan.

“Mikirin siapa?” Tanyaku. Aku mengenal sifatnya satu ini. Pandangan kosong dimatanya adalah tanda bahwa ia sedang memikirkan sesuatu dari hatinya. Bukan dari kepalanya.

“Dia, Mas...” Katanya santai sambil menyesap teh hangat miliknya. Aku hanya tersenyum takdzim seolah mengatakan padanya ”Tak mengapa, kenangan itu milikmu...”

******

Kasihku ini punya cinta pertama. Dan ia mengakui bahwa sangat sulit untuk melupakan cinta pertama di masa SMA nya itu. Bukan salah dia dan juga bukan salah ku, kami baru bertemu saat bangku kuliah di semester akhir. Ini semua sudah rangakaian takdir.

Ia menyukai lelaki itu terlebih dahulu. Menyukai secara diam-diam. Memendam rasa sampai kadang dia sakit karena tak kuat menahan rasa sukanya pada lelaki itu. Sementara lelaki itu tak sedikit pun menunjukkan ketertarikan pada kasihku ini. Namun kasihku tetap mengejar lelaki itu. Begitulah yang ku tahu darinya.

Selepas SMA ia dan lelaki itu terpisah di kampus yang berbeda. Dan lelaki itu sudah tahu perasaan kasih ku ini karena di beritahu seorang temannya saat perpisahan sekolah. Selama kuliah kasihku tak lagi mengejar lelaki itu. Tapi dia mengingatnya.

Akhir semester dia tak sengaja bertemu denganku di perpustakaan kampus. Lebih tepatnya aku yang menemukan dia. Di bawah cahaya senja, air matanya memantulkan warna oranye yang meneduhkan. Aku memperhatikannya lama. Seolah ia adalah makhluk yang diciptakan untuk kulindungi. Aku tak dapat menahan hasratku untuk mengabaikannya. Selang setengah tahun aku wisuda dan kasihku pun wisuda, aku melamarnya dan menikah tiga bulan kemudian.

******

“Kemarin dia menghubungi ku,Mas...” Aku sedikit kaget takut kasih ku berpaling. “Dari awal ia memang belum memberi hatinya pada ku sih.. justru seharusnya dia berpaling padaku” pikirku sambil sedikit tersenyum geli.

“Mas kok malah senyum sih!” Protesnya padaku.

“Eh, tadi kamu bilang apa? Mas tiba-tiba kepikiran sesuatu yang lucu tadi... maaf.. maaf..” sambil sedikit tertawa karena tak tahan melihat ekpresi kesal kasihku.

“Dia! Si itu lo, aduh mas pasti tau deh. Dia menelponku kemarin sore dan bilang kalau dulu pas SMA dia suka aku ternyata! Cuma dia diem aja dulu karen aku suka buang muka pas ketemu dia! Dia kira aku benci dia,Mas! Padahal kan itu karena aku ga sanggup natap wajahnya lo! Terus dia nanya bener gak kabar aku udah nikah. Ya aku iyain. Dia kaget dan malah bilang mau jumpa aku sama Mas karena ingin menuntaskan perasaan dulu itu mas! Jadi gimana ini, Mas?” ia mengakhiri laporannya itu dengan wajah bingung.

“Kamu masih suka dia gak?”

“Mas bilang kan diantara kita harus selalu jujur apalagi soal perasaan.... ya masih sih Mas.” Sedikit,hatiku sakit mendengar jawabannya.

“Banyakan mana suka kamu ke Mas sama suka kamu ke dia?”

“Mungkin ga bisa dibandingkan seperti itu sih Mas. Rasa sukaku ke dia.. mungkin, mungkin loh ya kayak fans yang menyukai artisnya tapi tau ga bakal ada akhir seperti yang dikhayalkannya. Kalo Mas adalah kebahagiaanku yang nyata. Yang jelas. Tidak membuat ku galau. Tiba-tiba berani datang untuk memiliki ku. Dan sekarang memahami segala perasaan dan tingkah ku...” ujar kasihku sambil tersenyum hangat. Hatiku pun dibuatnya hangat seperti senja yang kurasakan saat pertama kali melihatnya.

“Kalau begitu kamu tahu dong jawabannya ‘gimana’ tadi. Kamu mau kita menemuinya apa tidak demi kelangsungan kebahagiaan yang kamu rasakan sekarang?”

“Kayaknya... ga perlu deh Mas. Kalau ditemui sekali ntar dia bisa minta ketemu lagi saat Mas sedang ga ada. Apalagi dia belum nikah...”

Angin dingin mulai terasa dan gerimis satu-satu mulai turun. Hujan yang kami nantikan sudah tiba.

“Bagus kalau kamu sudah bisa menentukan sendiri. Sudah sejuk nih, tidur yuk?” ajakku. Dia mengangguk dan tangannya mengelayut di lenganku. Bersama, kami kembali ke kamar.

Cerpen Kisah Cinta yang Menyedihkan - Cinta Yang Tergadaikan

Cerpen Kisah Cinta yang Menyedihkan - Cinta Yang Tergadaikan

Aku menulis ini dengan wajah yang bersimbah air mata. Tangisku tak berhenti walau sudah kucoba wajahku tersenyum. Kupakasakan tetap tak bisa. Entah kenapa malam ini anggota tubuhku tidak bersinergi dengan baik.

Sejak aku mengandaskan harapan ku pada dia di masa lampau, aku berjanji untuk tidak kembali menyakiti hati ini. Aku takkan lagi jatuh cinta, karena cintaku hanya akan tergadai setelah usai rasa kasmaran yang indah di awal saja.

Aku tak berani mengansumsikan bahwa aku tipikal orang yang setia. Namun kenyataannya aku sulit melepas seseorang. Gagal move on kata orang sekarang. Ya, mungkin aku mengalaminya. Aku mencoba move lalu stuck dan back. Move lalu stuck dan back. Begitu terus sampai sang waktu mengampuniku dan menghentikan siksaan ini. Karena – lagi-lagi seperti kata orang – hanya waktu yang dapat menyembuhkan luka dalam hati.

Seperti hati yang diris-iris lalu ditetesi jeruk nipis. Hah! Perumpamaan apa yang aku gunakan.

Andai saja cintaku bertepuk sebelah tangan. Sehingga ia tak menadahkan tangan untuk menerima cintaku lalu menggadaikannya begitu saja. Masalahnya, ia menerimanya. Dan cintaku melayang tergadaikan tanpa ada yang menebusnya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Aku.

Cintaku ku tergadai. Dan tertinggal di sbeuah toko yang bernama ‘Masa Lalu Belum Usai’.

Kamu, yang serius mencoba menggapai cintaku. Coba saja cari cintaku yang telah tergadai itu. Beli dan ambil. Lalu kita buat surat perjanjian pertukaran hati agar kita tak saling menyakiti.

Sekarang, aku belum bisa memberimu kepastian. Yang pasti, kuulang lagi. Cintaku masih tergadaikan.

Tags