Aneh sekali rasanya, Ayah
Orang-orang menyebutmu,"Sewaktu almarhum..."
Orang-orang membantu sebab,"Almarhum dulu..."
Orang-orang menghampiri karena,"Waktu almarhum…"
Semua orang kini menyebutmu 'yang dikasihi Allah'
Baru 5 bulan, Ayah
Ayah menikmati rumah baru yang Ayah nantikan itu
Yang selalu Ayah sebut-sebut, Ayah ingatkan:
"Di sinilah semua keturunan Takdir bersemayam,"
Begitukah Ayah? Di sanakah juga ragaku ini nanti, Ayah?
Hari-hariku penuh, rindu Ayah
Jangan lupa al-fatihah
Begitu semua mengingatkan
Maaf Ayah, kadang hanya menangis saja dan luput membacakan
Baru 5 bulan, Ayah
Rasanya seperti sudah lama sekali waktu berlalu
Sebab memang tak pernah Ayah pergi selama ini
Tapi kali ini, waktu itu terus bertambah ya, Ayah?
Yang hidup, melanjutkan kehidupan
Itu yang kuusahakan Ayah, hidup yang merasa hidup
Sebab tak ada lagi Ayah yang bertanya,
"Iyah kegiatannya apa hari ini?"
Tapi tak mengapa Ayah,
Tak ada doaku berharap menyusul Ayah segera
Sebab doaku lebih tak masuk akal
berharap Ayah kembali, haha!
Ayah, semua bersaksi tentang persiapanmu ke perjalanan selanjutnya
Begitu pula aku mengamininya
Semoga Allah bisa mempertemukan keluarga kita ini di surga-Nya, ya Ayah
Semoga kita berkumpul kembali wahai nama-nama di dalam Doa, Amin
Ayah, 5 bulan, maaf, masih menangis, semoga tak memberatkan.
Esok, kucoba setiap tangis itu berganti dzikir dan doa, ya, Ayah.