Hari-Hari Biasa...

“…kita pikir kita selalu punya waktu, lalu kita pilih untuk nanti dulu.... bagaimana jika nanti tak pernah ada…”

Potongan lagu berjudul Tunjukkan Cintamu dari Nosstress itu semakin sering aku ulang-ulang sejak Ayah tiba-tiba dipanggil lebih dulu oleh Allah menuju fase kehidupan berikutnya.

Semuanya terjadi di hari-hari biasa, saat semua orang beraktivitas seperti biasa. Aku yang saat itu sedang pergi keluar bersama teman-teman tiba-tiba mendapat pesan untuk segera pulang. Singkat saja isinya, “Diyah, pulang, Ayah sakit.”

Aku mengernyitkan kening. Sakit? Lantas, kalau sakit, kenapa menyuruhku segera pulang? Aku bisa apa? Aku tak bisa mengendarai mobil. Ibu dan kakak ada di rumah, pegawai juga ada. Biasanya, mereka hanya mengabari, “Diyah, kami mau ke dokter dulu. Bawa kunci rumah? Pulang jam berapa?”

Aku tak pernah khawatir saat Ayah sakit, sebab Ayah jauh lebih paham dan hafal mengenai obat-obatan, refleks tindakan saat terjadi sesuatu, dan sangat sigap untuk setiap hal. Aku jauh lebih khawatir saat ibuku sakit karena sebelumnya memang sudah punya riwayat penyakit berat.

Ayahku tidak merokok, bangun pukul empat pagi, mandi, pergi ke masjid, dan tak lupa membangunkan Ibu dan aku terlebih dahulu. Bahkan, kadang Ayah menunggui untuk memastikan aku benar-benar bangun dan bergerak ke kamar mandi. Pulang dari masjid, terkadang Ayah membawa sedikit belanjaan dari tukang sayur, berganti baju untuk lari pagi, melakukan pemanasan dengan push-up di teras rumah, lalu pergi lari pagi. Saat pulang, Ayah sarapan, baru kemudian memulai pekerjaan. Setidaknya, itu ingatan rutinitas Ayah selama 15 tahun terakhir dalam ingatanku.

Setelah mendapat perintah yang cukup aneh ini, aku pun mengatakan kepada temanku bahwa aku harus bergegas pulang, meski aku sempat bercanda, “Laki-laki kalau sakit lebay sekali, serasa dunia akan runtuh....”

Ah, ternyata duniaku yang akan runtuh.

Aku dan temanku memesan taksi daring dengan asumsi bisa lebih cepat sampai, tapi taksi daring tak kunjung kami dapatkan. Kami pun keluar menuju halte bus listrik. Bus listrik pun tak kunjung datang. Takut terlalu lama, saat ada angkot yang lewat, kami memutuskan untuk naik angkot saja.

Begitu di atas angkot, masuk pesan lagi dari kakakku agar aku langsung ke klinik dokter langganan kami saja. Aku pun mengiyakan sembari mengecek CCTV rumah. Aku melihat Ayah sedang mengeluarkan mobil. Di keluarga kecil ini, hanya Ayah yang bisa mengendarai mobil.

Aku menunjukkan tangkapan CCTV itu kepada temanku.

“Lihat, kan, Ayah masih bisa bawa mobil. Aku kira sakit separah apa....” kataku.

Temanku mengangguk sambil tertawa karena ia juga mengalami hal serupa. Kalau ayahnya sakit, menurutnya, ayahnya juga lebay.

Aku pun turun di klinik. Temanku melanjutkan perjalanan ke rumahnya dan mengatakan kepadaku agar mengabari kalau ada apa-apa.

Begitu sampai di klinik, ternyata tutup. Aku menelepon. Ternyata, karena klinik tutup, Ayah, Ibu, dan kakak langsung bergerak ke tempat bekam karena Ayah minta dipijat. Ditanya apakah aku bisa menyusul ke lampu merah terdekat, aku usahakan.

Aku berlari. Fisikku cukup terlatih dan tidak diragukan untuk situasi seperti ini. Dan dapat. Aku langsung naik ke mobil kami yang masih berhenti karena lampu merah.

Aku langsung melihat Ayah di bangku kemudi. Dari belakang, kakakku memijat telinga Ayah. Aku memotret sekali, lalu mengirimkannya kepada temanku tadi.

“Tuh, kan, enggak apa-apa,” ketikku.

Temanku membalas, “Itu siapa?”

Aku membalas cepat dengan perasaan sedikit kesal. Kenapa bisa ia tidak mengenal Ayahku, padahal kami sering bertemu, apalagi kami sudah berteman sejak SMA?

“Ya Ayahkulah!” balasku.

Lalu temanku tidak membahas itu lagi dan hanya bertanya, setelah ini kami mau berobat ke mana.

Sampai di tempat bekam dan refleksi, waktu sudah mendekati azan Magrib. Ayah sudah berkeringat dingin. Aku memohon dengan sedikit memaksa agar Ayah bisa segera ditangani terapis. Tapi mereka bilang harus melewatkan salat Magrib dulu.

Ibu pun memangku kepala Ayah di kursi ruang tunggu. Ayah memintaku membelikan obat kunyah untuk mengeluarkan angin. Aku menelepon saudara kami yang seorang bidan, tapi Ayah memaksaku untuk segera pergi membeli obat itu. Aku bilang aku takut salah beli. Jadi, sembari menelepon, aku berjalan kaki ke apotek terdekat.

Entah kenapa, apotekernya lama sekali melayaniku, ada sekitar 30 menit. Azan Magrib sudah lama berkumandang. Aku cepat-cepat kembali.

Saat aku kembali, Ayah sudah masuk ke ruangan. Aku memberikan obatnya dan pergi salat Magrib. Usai salat, Ayah masih belum selesai. Aku dan kakak pergi mencari camilan malam. Aku membeli kopi, kakak membeli ayam krispi, dan untuk Ibu, kami membeli kue pukis.

Untuk Ayah? Enggak ada.

Kami tidak membelikan apa pun untuk Ayah malam itu.

Ibu menelepon, mengatakan kalau Ayah sudah selesai dibekam dan dipijat refleksi, lalu meminta kami segera pulang. Aku dan kakak segera kembali. Kami berempat pulang ke rumah sekitar pukul sembilan malam.

Ayah masih mengendarai mobil dalam perjalanan pulang. Saat itu, aku masih sempat bercanda kepada Ayah. Bagaimana kalau aku saja yang menyetir? Pasti sakit Ayah langsung hilang, tapi malah jadinya jantungan. Ayah hanya tertawa kecil.

Perjalanan pulang itu terasa begitu biasa, seperti hari-hari kami biasanya. Aku hanya berharap, begitu sampai di rumah, Ayah tidur dan besok akan kembali bangun dengan segar.

Saat itu, sudah dua malam aku menonton film sebelum tidur untuk membuat ulasan dan ringkasan filmnya sebagai bahan tulisan di blog. Malam itu, aku baru selesai sekitar pukul dua belas malam.

Aku keluar kamar untuk berwudu, salat Isya, lalu tidur, pikirku.

Aku keluar kamar dan malah mendapati Ayah di ruang makan, duduk dan menangkupkan kepalanya di meja makan.

“Ayah, kok di sini? Enggak di kamar?” kataku.

“Enggak, Ayah enggak bisa tidur. Panas di kamar.”

“Mau Iyah hamparkan ambal? Biar tidur di ruang TV?” tanyaku.

“Enggak usah. Kalau tiduran, dada Ayah sesak.”

Jujur, di situ aku sedikit kesal karena Ayah agak ngeyel.

“Namanya sakit, Yah, pasti enggak enak. Ayah bekubung* aja sampai berkeringat.”
*berkubung: bahasa di sumatera utara untuk mengatakan membungkus diri dengan selimut

“Enggak apa-apa, Ayah gini aja. Enak ditekan perutnya gini.”

Aku pun pergi ke ruang salat untuk salat Isya. Usai salat, sebelum kembali ke kamar, aku bertanya lagi, “Ayah mau apa?”

“Enggak ada, gini aja.”

Aku masuk ke kamar, tapi anehnya aku tidak bisa tidur. Aku kembali mengambil ponsel, scrolling media sosial tentang kasus tabrakan kereta api, proses evakuasi, dan korban-korban yang telah teridentifikasi.

Saat mataku mulai terasa lelah dan mau terpejam, “BRAAK!” Suara kursi jatuh disusul teriakan ibuku.

“Ayaaah! Diyaaah! Putriii! Ayaaah!”

Aku langsung melompat dari tempat tidur, melihat Ayah yang sudah jatuh menggelosor dari kursi ruang makan dan Ibu yang memeluk Ayah dari belakang untuk menahan agar punggung Ayah tidak jatuh.

Kami bertiga mencoba mengangkat, tapi tidak kuat. Kakakku berinisiatif menyeret Ayah ke ruang tengah agar ada ruang lebih lega.

Aku mengecek pernapasan lalu meminta Ibu mengambil alat tensi. Alat tensi kami digital, dan nadi Ayah sudah tidak terdeteksi. Menyadari itu, aku langsung melakukan kompresi dada secepat mungkin dan menelepon grup keluarga.

Kakakku langsung berlari keluar rumah mencari bantuan. Tak lama, tetangga depan rumah datang. Kami semua berusaha mengangkat Ayah ke mobil Pak Ade. Pak Ade membawa Ayah, kakak, dan Ibu menuju rumah sakit yang sangat dekat dari rumah kami, tak sampai 10 menit, apalagi di pagi buta seperti ini.

Sedangkan aku menyusul untuk membawa ponsel Ayah, Ibu, dan kakak, dompet Ayah, serta identitas lain yang akan diperlukan.

Aku yang kalut ditawari untuk dibonceng saja. Begitu hendak menyusul, tangisku pecah sejadi-jadinya, sebab aku sudah tahu kalau Ayah telah tiada.

Tetangga yang memboncengku ini juga baru 3 bulan kehilangan ayahnya. Jadi, aku mengatakan, “Kamu juga sadar, kan, kalau Ayahku udah enggak ada....”

Ia hanya diam, menyalakan sepeda motor, dan membawaku yang terus menangis ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, kami tiba bersamaan dengan mobil yang tadi berangkat. Sepupu-sepupuku yang rumahnya dekat juga sudah tiba.

Ayah langsung dibawa ke IGD, diperiksa, dan dinyatakan sudah tiada sekitar setengah jam lalu.

Tangis Ibu pecah. Ia terduduk di samping Ayah, menatapku nanar.

“Gimana kita, Nak?”

Aku menggigit bibir, menghamburkan tangis, memeluk Ibu dan Ayah bergantian. Kupegang kedua pipi Ayah. Kepalaku terasa kosong, hatiku lebih kosong, tubuhku terasa melayang.

Tangisku tak berhenti sampai sebulan ke depan lamanya.



Sudah hampir enam bulan berlalu. Aku bisa tertawa, beraktivitas seperti biasa, tapi dengan gerimis di dalam hati dan rintik tangis di saat sepi. Aku sudah bisa menyetir, meski belum begitu lancar. Sudah membuat mobil yang dirawat Ayah dengan sepenuh hati itu bempernya tak hanya lecet, tetapi juga retak. Sudah diperbaiki, retak lagi. Sudah ke bengkel buat ganti oli, ganti freon AC. Ibu pun sudah pergi sendiri mengganti pelat motor.

Aku sudah bisa mengantar kakak pergi ceramah kalau lokasinya jauh, seperti yang selalu Ayah lakukan.

Di tengah kesedihan yang bisa tiba-tiba merayap di saat-saat biasa, di waktu biasa seperti kepergian Ayah, aku terkadang berharap kalau di akhir hayatnya, Ayah tahu bahwa anak perempuannya sangat sayang padanya.

Meski Ayah tak pernah membaca tulisan-tulisanku yang menunjukkan rasa cinta itu, aku harap Ayah merasakannya dengan sangat baik.

Mungkin aku tak akan pernah bisa memberikan rasa sayang sebesar yang Ayah beri dalam hidupku, tapi aku selalu berusaha menyayangi Ayah sebesar yang aku mampu.

Ayah, maaf dan terima kasih, ya.

Semoga aku bisa lebih baik lagi agar bisa mengirimkan doa-doa terbaik sebagai hadiah dan bisa Engkau pamerkan di alam barumu....




Medan, 26 Oktober 2026
08.39 PM, hujan deras sekali, hari pertama langit biru setelah dampak asap karhutla.

10 tahun yang lalu

Waktu itu usiaku 19 tahun, saat dunia perkuliahan sedang lintang pukang, keos, maknyus

Pertengkaran dengan rekan satu perjuanganpun kerap tak terelakkan.

Setiap kali ada tugas, tak pernah tak ada yang menjadi korban nyaris mampus

Kadang disiksa dengan kata-kata, kadang juga lebih gawat, nilai jadi ancaman


Waktu itu usiaku 19 tahun, saat semua masih berdebat dalam argumen dasar-dasar dangkal

Ocehan keluar dari teori-teori buku usang yang belum diuji

Kalau aku salah, bisa jadi kau pun salah, dalih saling menyangkal

Dan ternyata, yang menilai laporan-laporan itu hanyalah kakak tingkat beda lahir 400-an hari.


Waktu itu usiaku 19 tahun, saat seseorang berkata padaku,"Kau menyalahkan semua orang, bisa jadi kau yang salah!"

Akupun dengan tegas berkata,"Kembalikan saja kata-kata itu pada dirimu!"

Lucu sekali mengingat dua insan dengan pola pikir belum sempurna saling beradu amarah

Hanya karena problematika hidup merebut judul-judul jurnal semu


Waktu itu usiaku 19 tahun, saat aku berkhayal menjadi hebat di masa depan

Sepuluh tahun berlalu, aku justru bersyukur dengan daya pikir saat ini

Tak merusak masa depan, tak merusak diri sendiri, meski tak seindah dalam bayangan

Aku masih hidup dengan baik, dan berusaha menjadi sebaik-baik manusia di masa kini

A Dog Who Loves Cello - Short Story

The subterranean basement of the Grand Symphony Hall was never truly quiet. Beneath the stage, through thick concrete and exposed pipes, filtered a perpetual, low hum. To the litter of puppies born behind a stack of unused stage risers, this was not noise; it was the world. Among them was an unusually large, thick-pawed puppy who spent his first weeks pressed against the concrete floor, feeling the rich, vibrating resonance of the lower strings above—the deep, amber purr of the cellos. To him, that low frequency was the rhythm of safety, a steady heartbeat far larger than his mother's.


When the building guards eventually discovered the nest, they acted out of safety concern, reporting the animals to animal welfare services. Officers gently gathered the mother and her pups into metal crates and transported them to the central shelter.


At the shelter, the world changed overnight. The warm, low rumble was replaced by a harsh, sterile silence punctuated only by the sharp clatter of food bowls and the echo of distressed barking. One by one, the puppies were adopted. The giant, broad-chested puppy was the last to remain.


The staff found him puzzling. He was not aggressive, but he was perpetually restless. He paced his kennel, vocalizing in low, anxious whines and rarely sleeping for more than a few minutes at a time. The shelter workers assumed he was hyperactive, but in truth, he was simply waiting for the frequency that made his world feel right.


Eventually, a young boy came to the shelter with his family. The boy was quiet, seeking a companion to keep him company during long, solitary afternoons after school. While other dogs jumped at the wire fence, the large puppy sat back, tired and heavy-eyed, looking at the boy with quiet intensity.


"I’ll name him Biggie!" the boy declared, stroking the puppy’s broad head.


On his first day in his new home, Biggie remained anxious. He trotted nervously from room to room, unable to settle down. But in the late afternoon, the boy sat down in the corner of his bedroom, adjusted his wooden chair, and took out an instrument. He rested the wooden body between his knees and drew a horsehair bow across the thickest string.


A low, resonant C-note echoed through the room.


Biggie froze. His ears perked up, and his chest expanded with a deep breath. As the boy began practicing his daily scales, the deep vibrations filled the air. Biggie walked slowly toward the boy, lowered his heavy body onto the rug beside the instrument's endpin, resting his chin directly on his front paws. Within two minutes, his breathing slowed into a deep, peaceful sleep.


It did not take long for the family to realize the pattern: Biggie only slept when the cello was playing. The moment the bow lifted and the sound faded, his eyelids would flutter open, and his restlessness would return. The poor pup was exhausted, having accumulated weeks of sleep deprivation since leaving his birthplace.


Determined to help his new friend rest, the boy began bringing Biggie along to his music academy lessons. The music school was a wonderland for Biggie. Walking down the hallways, he ignored the sharp trills of the flutes and the piercing notes of the violins. But when they reached the lower basement level—the cello and double bass studios—Biggie settled in immediately.


He became the beloved mascot of the cello department. While students practiced their sonatas and concertos, Biggie lay snoring softly underneath the music stands, his ribs gently rising and falling in time with the music.


Because Biggie slept so soundly during afternoon rehearsals, he was full of vitality at night. He transformed into the ultimate guardian for the home, keeping watch at the doors, alert and healthy, protecting the family that had given him a home.


Years passed, measured in music books and changing bow sizes. The boy grew taller, his tone richer and more expressive. Biggie grew into a magnificent, large dog with a glossy coat and a gentle demeanor.


Eventually, after years of rigorous study, the boy—now a young man—won an audition to join the city’s premier orchestra as a professional cellist. His debut performance was scheduled at the very place his career had begun to take shape: the Grand Symphony Hall.


On the evening of the concert, the young cellist received special permission to bring Biggie backstage. As they walked through the stage doors and descended the concrete ramp toward the warm-up rooms below, Biggie stopped. He lifted his nose, sniffing the familiar air, feeling the familiar hum of sound vibrating through the floorboards under his paws.


He didn't whine or pace. He walked into the dressing room, sat beside his owner’s cello case, and gave a low, content woof.


That night, as the young man walked out onto the grand stage under the bright lights, he looked toward the wings. Biggie was lying comfortably by the stage manager's desk, eyes half-closed, perfectly relaxed in the warmth of the hall where his life had begun, listening to the cello play.

5 bulan -

Aneh sekali rasanya, Ayah

Orang-orang menyebutmu,"Sewaktu almarhum..."

Orang-orang membantu sebab,"Almarhum dulu..."

Orang-orang menghampiri karena,"Waktu almarhum…"

Semua orang kini menyebutmu 'yang dikasihi Allah'


Baru 5 bulan, Ayah

Ayah menikmati rumah baru yang Ayah nantikan itu

Yang selalu Ayah sebut-sebut, Ayah ingatkan:

"Di sinilah semua keturunan Takdir bersemayam,"

Begitukah Ayah? Di sanakah juga ragaku ini nanti, Ayah?


Hari-hariku penuh, rindu Ayah

Jangan lupa al-fatihah

Begitu semua mengingatkan

Maaf Ayah, kadang hanya menangis saja dan luput membacakan


Baru 5 bulan, Ayah

Rasanya seperti sudah lama sekali waktu berlalu

Sebab memang tak pernah Ayah pergi selama ini

Tapi kali ini, waktu itu terus bertambah ya, Ayah?


Yang hidup, melanjutkan kehidupan

Itu yang kuusahakan Ayah, hidup yang merasa hidup

Sebab tak ada lagi Ayah yang bertanya,

"Iyah kegiatannya apa hari ini?"


Tapi tak mengapa Ayah,

Tak ada doaku berharap menyusul Ayah segera

Sebab doaku lebih tak masuk akal

berharap Ayah kembali, haha!


Ayah, semua bersaksi tentang persiapanmu ke perjalanan selanjutnya

Begitu pula aku mengamininya

Semoga Allah bisa mempertemukan keluarga kita ini di surga-Nya, ya Ayah

Semoga kita berkumpul kembali wahai nama-nama di dalam Doa, Amin


Ayah, 5 bulan, maaf, masih menangis, semoga tak memberatkan.

Esok, kucoba setiap tangis itu berganti dzikir dan doa, ya, Ayah.




Tags