Pemilik kata

siapa disana
seseorang?
atau benda?
dia masih di dalam bayang-bayang

siapa disana?
hewankah?
atau manusia?
aku takut salah menerkah

dia pemilik kata
yang tak kuimbangi bahasanya

dia pemilik kata
yang membuatku seperti sakit jiwa

Buku.

#NULISRANDOM2015


(Se)Kilas

     Aku menatapnya lekat-lekat. Seseorang yang duduk santai menikmati cemilannya. ia sedang menikmati pemandangan di danau komplek ku. menikmati senja yang sebentar lagi menunjukkan diri dengan malu-malu. Terkesan cuek memang. Ah, atau ia sedang membiarkan ku menikmati matanya itu? senyumnya yang selalu merekah itu?

     "Na, udah mau maghrib. Ayo pulang." Ia berdiri dan menggenggam pergelangan tangan ku dengan sedikit memaksa. Tangannya bergetar. Aku sangat suka membuatnya kesal. meski ia menarik tanganku aku tetap tak beranjak dari rerumputan yang aku duduki. "Ayolah Na, Aku males deh kalau kamu mulai begini. Aku kan sudah janji pada Ayah mu hanya sampai sore." Ia mulai menarik pergelangan tanganku. 

Aku menatapnya nanar, berharap ia memberi ku sedikit waktu lagi disini. "Ayo sayangku." Ia mengucapkan itu dengan sangat lembut. aku beranjak berdiri di tuntun tangannya yang....kurus. Tulangnya terasa mengenai kulitku. Di hujani cahaya senja,kami berjalan pulang.

*****

Ryan. Aku mengenalnya dari kecil. Pertemuan pertama ku ketika umur ku baru 7 tahun. Dunia ku yang penuh kesendirian dan keheningan menjadi terusik olehnya. Badannya yang tambun menghalangi cahaya siang yang masuk dari jendela besar ruang tamu ku. Aku masih tak perduli. Dengan tubuh tambun nya ia mondar mandir yang menyebabkan sinar matahari selang-seling menerangi ruangan itu. aku mulai terganggu.Dunia ku merasa terusik. aku bersiap-siap untuk menghadriknya.
      
  "Eh,itu, kamu... anu..." Ryan yang ketika itu belum ku kenal membuka suara terlebih dahulu. Aku diam menanti lanjutan kalimatnya.
       
 "Kamu.. itu, kamar mandi dimana? aku..aduh..kamar mandi...itu Papa gak ada aku mau aissh..." Dia terlihat sangat bingung menyampaikan kata-katanya. Tapi aku cukup bisa menangkap maksudnya. Aku berdiri tanpa berkata apa-apa. Tanpa di suruh ia mengikuti ku. Melewati lorong-lorong rumah ku yang seperti kastil tua. kamar-kamar tua menghamburkan bau obat-obatan yang kurang aku sukai.
       
 "Ka..kamar mandinya di mana sih?issh... aduh.. aku mau pi..phiiiss" tiba-tiba Ia memecahkan keheningan. aku menoleh. mendelik. yang mau nunjukkin kamar mandi siapa juga?. Aku berbalik badan dan kembali ke ruang tamu dan menuju sudut ruang tamu. jari ku mengacung mengarah ke pintu kayu yang memiliki banyak lubang-lubang vertikal di bagian bawah pintu. pintu kamar mandi. Ryan segera berlari menghambur ke arah pintu. tangannya kanannya dengan cepat memegang handle pintu sementara tangan kiri nya menahan bagian selangkangan nya. rusuh sekali. sebelum ia menutup pintu ia menatap ku.
     
   "Jangan pergi dulu ya!jangan pergi! tungguin aku!" Brak! Ryan menutup pintu. aku terdiam di depan pintu. bukan untuk menunggunya. walau pada akhirnya aku menunggunya. Lama sekali? pikir ku sambil melirik jam besar di atas pintu. di rumah ku jam ada di mana-mana. Eh?apa dia pingsan?atau bunuh diri di kamar mandi seperti di komik detective? khayalan ku mulai menceracau kemana-mana.
       
"krieet" pintu kamar mandi terbuka. Lamm.. hampir saja aku keceplosan berkata 'lama sekali' . 
      
"Ehehehe.. lama ya? iya nih, aku ga tau kalo pipis kok  lama ya? ehehe... oh iya, nama aku Ryan" Ia mengulurkan tangannya sambil nyengir.
        
Eh? dia kan abis dari kamar mandi? tangannya..euuh
        
"HIH!"  dengus ku keras. aku berlari meninggalkan Ryan si bocah tambun menuju kamar ku di lantai 2.

*****

       Setelah pertemuan pertama itu ia semakin sering ke rumah kastil ku. sejak pagi sampai sore. walau saat pagi ia ada di ruangan ayahku bersama papanya. saat ku tanya, pipi gembulnya hanya terangkat ke atas. lalu kami bermain kembali. begitu setiap hari. Sekolah?
       
Aku memang tak pernah mengenyam bangku sekolah sejak kecil. Tapi aku bisa membaca, menulis dan berhitung dengan sangat baik. Ayah bilang aku anak yang cerdas. dan wajahku juga cantik seperti mendiang ibuku. Ya,saat aku lahir ibu meninggal. Sementara Ayah kala itu malah menolong hidup orang lain. Aku menjadi sangat pendiam dan bermain dengan imajinasiku sendiri. Aku hampir tak perduli dengan orang-orang sekitarku sampai akhirnya kedatangan Ryan mengusikku.
     
 "Aku ga bisa sekolah lagi. Padahal ada cewe yang aku suka di sekolah." Celotehnya suatu ketika. aku tak bergeming. tangan ku sibuk menyisir rambut barbie.
    
  "Di sekolah rame. temannya banyak. tiap pagi papa antar aku sekolah dan aku bisa main dengan banyak orang. gak kayak sekarang. aku di antar kesini mulu dan cuma punya teman kamu." Dahi ku mengernyit mendengarnya. Hah,teman? sejak kapan?
     
 "Anna." aku menoleh. "kamu gak mau tau kenapa aku ga bisa ke sekolah lagi?" Aku menggeleng.
      
"Aku kena kanker di kandung kemih." dia melanjutkan tanpa ku minta. namun kali ini kau tak mengacuhkannya.
      
"Ryan.. kena kanker?" aku terdiam. dan dia juga terdiam lama.

******

Entah sejak kapan aku jatuh cinta dengannya. semua mengalir begitu saja. bahkan aku lupa kalau dia berada di rumah ku karena penyakitnya. Terkadang aku berpikir jahat berharap agar dia tidak sembuh agar dia tidak punya alasan untuk keluar dari rumah ku. seperti saat dia akan melakukan pengobatan di luar negeri selama seminggu. aku sangat kehilangan dan takut dia akan sembuh. tapi ternyata tidak. dia masih perlu rehabilitasi dengan ayahku.

*******

Kini semua usai. Sejak terakhir kami pulang di hujani cahaya senja, keadaanya semakin memburuk. dia di isolasi di kamar khusus. lalu dia.... meninggalkan aku untuk selamanya.

kilasan-kilasan tentangnya masih berkecambuk di hati dan pikiranku. aku bingung, dulu aku tak ingin dia sembuh, namun karena penyakitnya dia malah pergi dan tak kembali. 

#NULISRANDOM2015


       
            


Janji yang hilang

'ya aku kesana satu jam lagi' -send

'bener ya bang?'-received

'iya, aku janji' -send

****
Rizki...?

aku telat menjemput Rizki satu jam dari waktu satu jam yang aku janji kan. sekarang aku melihat Rizki menjadi korban bom bunuh diri di sebuah mall tempat dia menungguku. kejadiannya setengah jam yang lalu.

#Nulisrandom2015

Jangan Tinggalkan Aku Sendiri

"AKILA!"
Seorang gadis tersentak merasa namanya di panggil dengan keras. lalu ia meringis kala melihat segaris celah yang mengeluarkan sedikit darah dari pergelangannya. seseorang yang tadi memanggilnya segera memeluknya erat.
"Kau melakukannya lagi,dasar anak bodoooooooh"
gadis yang bernama Akila itu tersenyum.
 -
"AKILA!"
seorang gadis telah kejang saat namanya di panggil dengan keras. di tangannya tergenggam erat kabel listrik yang tak lagi terisolasi. seseorang yang tadi memanggilnya segera membungkus badannya dengan selimut besar dan membopongnya untuk di bawa ke rumah sakit. "Dasar anak sakit jiwa ini,bodohnyaaaa"
Gadis yang bernama Akila itu tersenyum
-
"AKILA!"
Seorang gadis yang mulutnya berbusa melirik lemah saat namanya di panggil dengan keras. di sampingnya telah tumpah cairan pembersih kamar mandi. seseorang yang tadi memanggilnya segera meminumkan susu secara paksa setelah sebelumnya membersihkan mulutnya. "Apakah kau tidak bisa berpikir bodooooh"
Gadis yang bernama Akila itu tersenyum.
-
"TOLOOOONG! YA TUHAAAAN!! AKILAAAAAA"
seorang gadis yang tergantung dengan pakaian indah tak lagi tersentak,menoleh atau melirik saat namanya di panggil dengan histeris. ia di turunkan perlahan oleh orang lain. seseorang itu baru menyambutnya dalam pelukan saat ia telah di bawah. seseorang itu mengusap seluruh wajah Akila dengan tangannya yang terawat. Mata yang di hiasi bulu mata lentik itu basah dan semakin basah saat melihat senyum akila yang tak lagi bernyawa. seseorang itu meraih tangan Akila dan menemukan gumpalan kertas di sana. ia membacanya...
"Aku yang bodoh....Akila...."
-
"aku punya 999 nyawa untuk mencuri perhatianmu. namun aku tak bisa selama terus mencuri. amunisi ku akan habis. maka nyama keseribuku ku serahkan untuk membeli ruang dalam ingatanmu.
hanya ini yang bisa anak bodoh yang selalu ibu tinggalkan sendirian. terimakasih ibu. maaf untuk kebodohanku.-Akila"

Jatuh Cinta

aku jatuh cinta
dengan siapa kau tak boleh bertanya

bila kau tau kau bisa murka
mengataiku makhluk bodoh yang tak sengaja tercipta

aku tertawa
padahal kali ini aku jujur dan terbuka

siapa yang munafik
siapa yang picik

aku jatuh cinta
dengan siapa kau tak boleh bertanya

tapi untukmu ku beritahu saja
walau sebenarnya rahasia

yang ku cintai ini penguasa
ia di beri kuasa oleh yang maha kuasa

menggandeng lembut setiap manusia
untuk setia menemaninya setelah akhir dunia

menggeliat sayu dalam sukma yang tak lagi bertuan
aku mencintaimu makhluk dalam kegelapan

[seringai lebar wujud merah memeluk dari dalam kegelapan]

"Mari bersama ku dan habiskan dengan pesta pora di dunia fana ini"

#NULISRANDOM2015

Ada satu daun yang jatuh



Ada satu daun yang jatuh
Dari pohon yang kian sepuh
Sedikit lagi semua kan tiba
Sampai helai terakhir gugur jua

Ada satu daun yang jatuh
Di satu masa batas waktu
Dari pohon yang entah dimana
Tapi banyak yang percaya keberadaannya

Ada satu daun yang jatuh
Dan sesosok ruh
Usai waktu di tahapnya
Sekarang bingung mencari jalan cahaya

Katanya....
Ada pohon yang melambangkan jiwa manusia
Yang keberadaannya bukan di dunia fana

Ada satu daun yang jatuh
Ada sesosok ruh yang beradaptasi dengan dunianya yang baru...

#NULISRANDOM2015

Terhukum

pagi hari
kertas-kertas kosong berserakan
sore sajalah
kertas-kertas kosong di rapikan
malam sajalah
kertas-kertas kosong di sentuh
tengah malam sajalah
kertas-kertas kosong berserakan
tidur pulas sampai pagi

pagi
sore
malam
tengah malam

begitu saja sampai sang waktu menghukummu.

#NULISRANDOM2015

KECIL

seorang anak kecil dengan tangan kecil menyeret sekaleng cat yang tak kecil
ke halaman yang tak kecil anak kecil itu meletakkan kaleng cat yang tak kecil
ia berlari-lari kecil masuk ke garasi kecil dan kembali mengambil kaleng cat yang tak kecil

dengan tangan kecil ia memegang obeng kecil dan berusaha membuka kaleng cat yang tak kecil
tetesan-tetesan kecil keringat menyiratkan peluh di wajahnya yang kecil
PLOP! setetes kecil cat keluar dari kaleng cat yang tak kecil

seringai kecil muncul di wajah anak kecil yang masing memegang obeng kecil
perlahan tangan kecilnya membuka celah kecil pada kaleng cat yang tak kecil
seringainya tak lagi kecil,namun gigi-gigi kecilnya terlihat di mulutnya yang kecil

tangan kecilnya menghujam cairan di salah satu kaleng cat yang tak kecil
ia angkat tangan kecilnya dan memberi cipratan kecil pada langit yang tak kecil
setitik kecil pun langit yang kecil tak ternodai oleh karya tangan kecil

kelopak matanya mengecil memastikan bahwa tak ada warna baru di langit yang tak kecil
bulir-bulir kecil mulai jatuh dari sudut matanya yang kecil
lama, bulir kecil itu semakin banyak berjatuhan di wajahnya yang kecil

ia hanya ingin meberi warna yang kecil pada langit yang tak kecil
ia hanya ingin meberi pengaruh kecil pada langit yang tak kecil
tapi langit tetap biru muda tanpa ada noda kecil dari cat yang di cipratkan tangan kecil

"kakak." mulutnya yang kecil bersuara kecil
"kenapa." ia bertanya sambil mengepalkan tanganya yang kecil
"ini warna yang nyata tapi langit tak ternoda. mereka yang dewasa tak memiliki cat berwarna tapi bisa memberi noda pada langit yang luas. apa harus cat hitam baru aku bisa menodai langit,Kak?"

tiba-tiba, aku merasa otakku mengecil.

#NULISRANDOM2015

DI BAWAH POHON AKASIA

Aku merintih pilu di bawah pohon akasia

Meratapi luka hati yang ternganga

Kuputar putar jarum arloji yang telah mati

Namun waktu tak kunjung kembali



Aku menangis sendu di bawah pohon akasia

Menggaruk-garuk lengan sampai terluka

Namun tak membuat hati malaikat luluh

Diam menatap ku tak acuh



Aku tertangkup lemah di bawah pohon akasia

Mengais-ngais tanah seolah berbicara

Malaikat masih terus menunggui ku

Berharap dapat membantu



Di terpa hujan di bawah pohon akasia

Ku jeritkan satu kata

MAAAAAAFKAN AKU IBU!

Ibu hanya diam. Dengan tanah ia telah menyatu

#NULISRANDOM2015

Kau Tak Sempat - Cerpen Romantis

Entah apa yang sedari tadi aku lakukan di kamar. Men-scroll keatas dan kebawah lalu mengklik sembarang pada layar laptopku. Sesekali mengesap kopi hitam dengan tangan kiri ku. Ah, kalau dia tau, pasti ia akan mengomeli ku dengan tulisannya yang khas.


‘Tangan kiri itu tangannya setan loh, Bang’


Tapi, mana mungkin dia bisa tau aku minum pakai tangan kiri sekarang. Kalau aku tak memberitahunya. Bertemu saja belum pernah. Tapi, aku sudah mengenalnya jauh lebih dalam dari orang-orang yang setiap hari bisa bertemu langsung dengan dia. Keluarga, teman-teman, kesehariannya, tempat tinggalnya, sampai tipe orang yang disukainya pun aku tau.


“Tok,tok”


“Siapa? masuk aja gak di kunci.” ujarku tanpa menoleh ke arah pintu.


Krieet” terdengar pintu kamar ku di buka.


“Eru nih bang, abang ada kertas HVS? HVS Eru habis bang.”


“Punya Galih?” Tanyaku sambil mengambilkan beberapa lembar HVS dari laci meja.


“Tinggal dikit bang, dia pun malam ini mau nge-print tugasnya juga, takut gak cukup katanya.” Eru menerima kertas dari ku. “Makasih ya, Bang.” Eru segera beranjak pergi namun ekor matanya menatap sesuatu di rak bukuku.


“Eh, bang? Undangan siapa nih bang?” Eru menunjukkan undangan itu lalu meletakkannya di sebelah cangkir kopiku. “Temen jauh.” Kata ku singkat.


“Tapi alamatnya dekat kok ini bang. Masih satu kota nya. Apanya yang jauh? Abang ini la, hahahaha. Eh, aku boleh ikut gak bang? lumayan makan enak di bulan tua, hehehe.”


“Boleh.”Jawab ku pendek.”Tapi jangan ajak Galih ya. Dia malu-maluin kalo di bawa ke pesta.”


“Hahaha,oke deh bang! Aku balik ke kamarku dulu ya. Makasih HVS nya!” Eru pun keluar dan menutup rapat kembali pintu kamar ku. “Yo” jawab ku pelan. Entah di dengar Eru atau tidak.


Lagi, aku menyeruput habis kopi hitam ku dan melirik undangan itu. Perkenalan ku dengan dia 4 tahun yang laluterlintas di ingatanku.


***


Umur ku 22 ketika aku sibuk berkutat dengan skripsiku. Sudah jalan 1 bulan dari aku memulai tugas akhir ini. Selama 6 bulan terakhir aku fokus kepada kuliahku. Aku harus segera menyelesaikan pendidikan ku dan kembali ke kampung halamanku untuk menerapkannya. Yah, dimana lagi bisa aku aplikasikan ilmu pertanian ini kalau tidak di lahan bapakku?


Semula aku tidak percaya apa kata orang-orang betapa jenuhnya mengerjakan skripsi. Tapi sekarang aku baru merasakannya. Berbeda dengan kuliah setiap hari, saat skripsi aku serasa terisolasi dari manusia. Temanku berganti jadi buku-buku tebal, catatan penelitian, tumbuhan di lahan penelitianku, jurnal orang lain dan laptop yang sudah menemaniku dari semester 1. Paling manusia yang ku temui selama sebulan ini hanya petugas perpustakaan, petugas adminitrasi kampus dan dosen pembimbingku.


Iseng aku Me-minimize dokumen skripsi ku dna membuka Blog yang sudah tidak kuisi lagi kurang lebih selama setahun. Viewer nya jauh menurun dari masa-masa ketika aku rajin mem-posting tulisan pada Blog ku. Posting terakhirku bercerita tentang salah satu jenis tanaman yang dapat merusak tanaman lain. Dan aku lihat komentar yang masuk. Entah kenapa aku tertarik dengan salah satu komentar,


‘ah, seperti manusia ya. Kelihatannya warnanya sama tapi dia bisa mengubah warna orang lain. Layaknya tanaman yang berwarna hijau semua tapi salah satu yang hijau dapat membuat tanaman lain coklat alias kering.’


Dahi ku mengkerut.’filosofis banget ini orang’ pikirku saat itu. Aku klik namanya yang tertuilis di kolom kometar. Dia memakai nama user ‘Bintang’. dan internet membawa ku menuju profil Blognya. Lalu aku membuka Blognya.


BINTANG.


KADANG TAK TERLIHAT TAPI TETAP BERSINAR.


Aku melihat-lihat postingannya yang baru berjumlah 4 post. Aku rasa dia baru punya Blog. Dan aku membaca postingannya yang terakhir. Ternyata dia seorang mahasiswi baru di salah kampus yang terletak di kota yang sedang aku tinggali sekarang ini. Dia mahasiswi jurusan filsafat. Pantas saja bahasanya sedikit aneh, ternyata memang dia mengambil salah jurusan yang cukup langka di indonesia itu.


Sebagai seorang Blogger gentlemen, akupun meninggalkan jejak di Blog yang aku kunjungi.


‘ciye, ada maba nih. Salam kenal dari mahasiswa tingkat akhir’ Begitu isi jejak yang aku tinggalkan. Setelah itu aku menutup jendela mozilla dan kembali fokus ke skripsi ku.


Beberapa hari kemudian entah kenapa aku kembali teringat dan penasaran apakah pesanku di balas oleh mahasiswi filosofis yang menggunakan nama Bintang itu. Dan saat aku membuka Blog serta beberapa media sosial milikku, aku mendapatkan kejutan yang lebih dari yang ku harapkan. Facebook ku di Add dan Blog ku telah di follow oleh seseorang bernama Yuna Chairunissa. Ternyata Yuna ini lah pemilik Blog ‘Bintang’. Satu hal yang aku kagumi pertama kali dari dia, dia tidak memakai nama facebook yang sedang ngetren kala itu. Dia tidak membuat nama Facebooknya dengan ‘Youna cantiEq eN Im03th’ atau ‘Yunayangcllalumelindu’. Dia cukup dengan nama lengkapnya saja.


Ketika aku melihat Blog Yuna beberapa hari yang lalu, aku tidak memperhatikan postinganya yang lain. Ternyata akulah yang pertama kali berkomentar di Blog dia sehingga dia kembali ke Blogku dan ingin berkenalan denganku lewat sosial media. Dia belum ikut dalam komunitas Blog manapun. Sedangkan Blog saat itu tidak terlalu ngetren di masyarakat awam sehingga teman-temannya pun tidak tahu kalau Yuna memiliki Blog. Wajar saja kalau tidak ada yang meninggalkan jejak di Blognya.


Sejak saat itu Aku dan Yuna selalu saling berbalas komentar pada postingan baru di Blog kami masing-masing. Selain komentar di Blog kami juga sering chatting dari media sosial. Aku bercerita tentang kesibukanku mengerjakan skripsi sedangkan Yuna bercerita tentang kehidupan barunya di bangku kuliah. Berkenalan dengan Yuna membawa angin segar kepada ku selama skripsi. Beberapa kali Yuna takut mengganguku saat mengetik skripsi sambil chatting dnegan nya. Namun aku jujur kepadanya bahwa dia sama sekali tidak menggangu. Justru aku yang jenuh kalau hanya terus-menerus mengerjakan skripsi tanpa teman ngobrol. Kalau sudah mulai larut malam aku menutup obrolan dengan menyuruhnya offline karena dia harus masuk kuliah pagi.


Sampai akhirnya skripsiku selesai lalu sidang dan tingal menunggu wisuda. Aku mengabarkan hal ini kepada Yuna. Dia sangat senang sepertinya lewat tulisannya dari chatting. Aku memintanya untuk datang ke wisudaku tapi dia langsung menolak dengan alasan di hari itu dia ada kegiatan di organisasi kampus. Aku pun memaklumi karena yang mengusulkan dia ikut organisasi di kampus pun aku. Padahal, aku penasaran sekali dengan wajah asli Yuna. Di Facebook nya dia memasang foto profil tokoh anime wanita. Fotonya bersama teman-temannya hanya ketika dia perpisahan SMA nya dan itu ramai sekali. Walaupun ada tag di wajahnya, mana mungkin aku bisa mengenali wajah seseorang yang kecil-kecil dan buram pula.


Setelah wisuda, aku pun kembali ke kampung dan mencoba berbisnis dari lahan Bapakku. Di kampungku agak sulit mendapatkan sinyal sehingga aku tidak bisa chatting dengan Yuna. Saat sinyal sedikit bagus aku membuka Blognya Yuna dan membaca kegiatan-kegiatannya yang rutin di postingannya. Sesekali aku masih mengomentari Blognya. Sebenarnya kalau bisa aku ingin berkomentar di setiap postingannya. Namun terkadang saat aku sudah mengirim komentar ternyata gagal karena sinyal.


***


1 tahun setengah di kampung ternyata pupuk yang aku jadikan skripsi dulu berhasil dikembangkan disini. Pupuk buatanku semakin besar permintaannya sehingga aku mengajari banyak anak muda yang hanya sampai SMA untuk membuat pupuk. Setelah banyak yang bisa, aku minta izin dengan bapak untuk kembali ke kota. Selain untuk mengembangkan sayap bisnis pupukku, aku juga rindu untuk sering berkomunikasi dengan Yuna.


Lewat Blognya sekarang aku tau kalau Yuna sudah mulai santai kuliahnya menjelang semester 5. Dan dia juga menulis bahwa sekarang sedang libur kuliah selama 3 minggu. Aku pun mengabarinya bahwa aku sudah kembali ke kota. Dan dia dengan antusias memberitahu bahwa 3 hari lagi ada kopi darat dengan teman-teman komunitas Blogger yang kami ikuti berdua. Aku pun tanpa berpikir lagi langsung mengatakan akan datang. Ini adalah kesempatan pertama ku untuk bertemu Yuna. Lalu chatting kami berlanjut dengan banyak bercerita selama aku di kampung.


3 hari kemudian saat aku sudah bersiap-siap akan berangkat untuk kopi darat bersama teman-teman Blogger, tiba-tiba kepalaku pusing dan tak lama aku terjatuh di teras kontrakan. Pingsan. Handphone yang ku pegang tercampak dan mati. Tetangga langsung menolongku. aku pun tidak menghadiri kopi darat tanpa kabar.


Besoknya aku membuka obrolan lebih dulu saat chatting dengan Yuna. Sepertinya Yuna marah. Karena saat aku menghidupkan Handphoneku kemarin malam, aku melihat banyak pesan masuk ke handphone ku. Dari Yuna.


Benar saja, Chat ku tidak di balas sampai sore. Saat dia membalasnya katanya tadi pagi ia sibuk membantu ibunya dan tidak melihat chat dari ku. Lalu dia pun menanyakan kenapa aku tidak datang kemarin. Saat aku menjelaskan yang terjadi dia langsung menulis banyak kata maaf karena dia sudah berburuk sangka kalau aku ingkar janji. Setelah itu kami kembali hanyut dalam banyak obrolan.


Saat itu umur Yuna sudah 20 dan Aku 24.


Aku dan Yuna tetap menjalin komunikasi lewat kometar Blog dan Chatting. Obrolan kami semakin mendalam. Selain membahas kegiatan sehari-hari dan cerita soal keluarga, tiba-tiba kami masuk ke dalam topik soal pernikahan. Menurut Yuna, seorang laki-laki baru pantas menikah di atas umur 25 agar dia benar-benar sudah dewasa. Lalu Yuna bertanya pada ku kapan aku akan menikah. Dengan iseng ku tanya balik,


‘Kalau Yuna maunya kapan?’


‘Yuna ikut kata Mama Yuna saja bang. Kata Mama, Yuna baru boleh menikah kalau sudah lulus. Dan kemungkinan yang mencarikan pasangannya Mama. Yuna kan anak tunggal. Jadi kalau abang tanya Yuna maunya kapan menikah, Yuna gak tau bang. Ikut kata Mama saja.’


Aku tercengang membaca jawabannya. Dia anak tunggal. Wajar saja kalau orang tuanya akan menguasai keputusan secara penuh terhadap dirinya sampai ia menikah. Bagaimana jalannya agar aku bertemu orang tua Yuna ya? Jangan kan mau ketemu orangtua nya, jumpa anaknya saja sulit sekali. Setelah gagal bertemu di kopdar untuk pertama kalinya, pertemuan berikutnya kami tetap tidak bisa berjumpa. Saat aku datang, dia tidak datang. Saat dia datang, lagi-lagi aku yang tidak bisa datang. Seperti ada tangan gaib yang menghalangi kami untuk bertemu. Ah, aku tertular bahasa filosofisnya Yuna.


Terus begitu tanpa pernah berjumpa aku tetap berkomunikasi dengan Yuna. Sampai akhirnya Sebulan yang lalu Yuna pun wisuda dan untuk pertama kalinya Foto aslinya beserta orangtuanya di unggah di Facebook dan dimasukkanya ke dalam postingannya di Blog.


***


Lalu, hari yang menyesakkan itu datang.


Saat itu aku sedang memeriksa laporan keuangan penjualan pupukku yang semakin berkembang di teras kontrakan yang di huni oleh 5 lelaki lajang seperti ku. Lalu Pak Pos datang dan menyerahkan amplop coklat berukuran sekitar 20x10cm. Tertera nama pengirimnya dari ‘Yuna Chairunnisa’. Dahiku mengernyit bingung dan segera jemari ku bergerak untuk membuka amplop coklat ini. Sebelum aku mengambil isinya sebuah sms masuk ke handphone ku. Aku lebih dulu menyambar handphone yang ternyata sms dari Yuna.


‘Abang, Yuna ada mengirim sesuatu ke rumah abang. Udah sampe gak? Alamat abang masih yang lama kan?’


Aku segera membalas,


‘Ya, sudah sampai. Ini baru mau di buka amplopnya’


Tak lama muncul lagi balasan dari Yuna


‘Sip! Harus datang ya bang! Pokoknya wajib!’


Aku jadi semakin penasaran dan langsung merogoh isi amplop. Ternyata sebuah Undangan Pernikahan dengan warna bernuansa kuning dan hijau. Tertulis 2 buah nama di depannya.


Fadlan & Yuna.


Aku menggigit bibir dan serasa angin dari antartika menerpa tubuhku. Aku langung masuk ke dalam dan menaruh undangan itu di rak buku kamarku. Lalu aku terduduk di depan laptop. Aku menghidupkan Laptop dan pergi ke dapur seperti orang linglung lalu menyeduh kopi hitam dan ku bawa masuk kembali ke depan laptop yang telah sempuran menyala. Kopi ku letak di sebelah kiri. Sementara tangan kananku mencolokkan modem ke laptop. Segera ku buka jendela mozilla dan langung masuk ke halaman Blog Yuna. Secara acak ku klik postingan-postingan dia. Beberapa kolom komentar kulihat ada aku disana. Aku tak membaca lagi isi postingan itu. Aku hanya men-scroll atas bawah dan lalu kembali mengklik sembarangan postingan yang lain. Terus begitu sapai kopi ku habis.


***


“Bang, gak jadinya abang datang ke pesta itu? aku udah siap-siap ini” Eru yang sedang mengosok kemejanya mengingatkanku soal pesta hari ini.


“Apa kita harus datang?” Tanya ku pada Eru yang tidak tahu sebenarnya siapa yang mengundangku.


“Ya harus la bang, hari ini semua pada pergi. Karena abang bilang kita mau ke pesta itu aku gak beli lauk makan siang lah. Orang gak ada yang dirumah. Tinggal si Galih itu masih molor di kamarnya.” Eru mengungkapkan alasan yang sangat meyakinkan untuk ukuran mahasiswa sepertinya. Mau tidak mau aku pun beranjak ke kamar mandi. Kasihan juga Eru tidak makan siang kalau kami tidak pergi.


Aku melihatnya. Untuk pertama kalinya. Dari jauh aku langsung tau sosok Yuna. Jelas saja tau ‘kan dia yang menikah hari ini.


“Abang!” Yuna sedikit berteriak saat melihatku ketika aku mendekatinya untuk memberikan selamat.


“Selamat atas pernikahannya ya Yun. Semoga langgeng sampai tua nanti”


“Terima kasih abang. Abang juga harus segera nyusul ya bang!” Yuna lalu menoleh kepada suaminya. “Mas,kenalin ini teman Blogger ku namanya Bang Lutfi. Bang, kenalin suamiku, Mas Fadlan.” Yuna terseyum lebar saat menegnalkan ku dengan suaminya.


aku menjabat tangan Fadlan. “Jaga Istrimu baik-baik ya” pesan ku pada Fadlan. Fadlan membalas dengan mengangguk mantap meyakinkanku sambil tersenyum.


Aku tak lama di pesta itu. Setelah Eru kenyang mengisi perutnya kami segera pulang. Dan lagu Sunny milik Bunga citra lestari tiba-tiba terngiang sepanjang perjalananku kembali ke kontrakan.


“Kau tak sempat, tanyakan aku... cintakah aku padamu....”

======

#Arsip Lama.

Tags